Close
 
Minggu, 20 April 2014   |   Isnain, 19 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 1.609
Hari ini : 15.347
Kemarin : 13.608
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.613.169
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

14 februari 2008 02:11

LAM Bukan Polisi Adat

Debat Penolakan Huzrin sebagai Ketua FSKN

Batam- Penolakan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau terhadap pelantikan Huzrin Hood sebagai Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) di provinsi ini disesalkan berbagai pihak. Proses penolakan itu seakan-akan LAM telah menjadi polisi adat, dan keputusan menolak itu pun tidak mewakili lembaga-lembaga yang disebut-sebut diwakili oleh LAM.

Alfan Suheri, salah seorang Ketua LAM Batam mengaku tidak pernah tahu bagaimana proses penolakan itu sampai muncul. 

”Saya sudah konfirmasi kepada Ketua Umum LAM Batam, dan tidak ada persetujuan tentang hal itu (penolakan kepada Huzrin, red). Setahu saya tidak ada rapat. Saya tak pernah ikut,” katanya kepada wartawan di Batam, kemarin.

Alfan menyayangkan penolakan itu. Secara pribadi, dia mengaku justru bangga karena ada tokoh Kepri yang didaulat menjadi pemegang amanah dari lembaga berkaliber nasional seperti FSKN. Ia melihat kejadian ini sebagai bukti betapa mudahnya lembaga-lembaga adat Melayu diadu domba. ”Tak perlu patah mematah, tikam-menikam, karena ini dijadikan pihak lain untuk melemahkan kekuatan kita,” kata Alfan yang juga Ketua Umum Laskar Melayu Bersatu (LMB). Nama lembaga itu pun dicatut dalam iklan meskipun penyebutannya salah karena disebut sebagai Laskar Melayu Batam. Apakah ini lembaga lain? ”Setahu saya tidak ada Laskar Melayu Batam,” tambah Alfan.

Tak Ada Kearifan

Seniman dan budayawan Hoesnizar Hood lebih jeli melihat pada naskah surat penolakan LAM tersebut. Menurutnya tidak ada kearifan dalam surat resmi LAM tersebut. ”Penolakan itu tidak masalah buat saya, tetapi naskah tulisan itu terburu-buru, banyak salah ketik dan menurut saya tidak beradat!” kata tokoh yang juga anggota LAM provinsi itu. 

”LAM ini jadi seperti polisi adat,” katanya. Lazimnya lembaga adat mengeluarkan sikap yang menghimbau, dengan kata-kata yang mengharap dan menyarankan saja, bukan menolak mentah-mentah. Lembaga adat itu, kata Hoesnizar sebaiknya meluruskan bila memang ada yang tak lurus, bukan mematahkan. ”Yang dilakukan LAM sekarang ini sudah mematahkan,” ujarnya.

FSKN, kata Hoesnizar, amat kecewa dengan LAM Kepri. ”Bagaimana pun mereka beradat juga, bukan hanya Melayu yang beradat. Ini seolah-olah penolakan ini seperti menganggap forum silaturahmi itu tidak tahu adat,” kata Hoesnizar

Pembunuhan Karakter

Muhamad Buang, Ketua BP3KR, menganggap penolakan itu sebagai pembunuhan karakter terhadap Huzrin Hood. Ini, katanya, menunjukkan bahwa dia adalah tokoh yang masih diperhitungkan.

”Waktu di Cipinang (penjara, red) saya sarankan pada beliau, kalau sudah keluar nanti tetaplah tinggal di Tanjungpinang, pimpin masyarakat dan berbuat untuk Melayu,” kata Buang. Kiprah Huzrin di FSKN, adalah bentuk kiprah Huzrin kepada masyarakat. ”Kenapa LAM menolak? Padahal Huzrin korbankan dirinya untuk provinsi ini, apa yang dulu diperbuat LAM ketika provinsi ini diperjuangkan?” tanya Buang.

Sumber : Batam Pos


Dibaca : 1.325 kali.

Tuliskan komentar Anda !