Close
 
Rabu, 20 Mei 2026   |   Khamis, 3 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.486
Hari ini : 24.534
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

08 maret 2008 07:10

W.S Rendra di Mata Mereka

W.S Rendra di Mata Mereka

Yogyakarta, MelayuOnline.com– Dalam rangka dies natalis ke-62, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan dialog budaya bertema “Sumbangan Pemikiran W.S. Rendra bagi Kemanusiaan dan Kebudayaan Kontemporer”. Dialog yang dimoderatori oleh Dr. Nico Warouw tersebut digelar di lantai tiga auditorium FIB, pada Selasa siang (4/03/2008) pukul 14.00 hingga 16.30 WIB, dengan menghadirkan tiga pembicara yang kompeten di bidang seni dan budaya. Mereka adalah Prof. Dr. Bakdi Soemanto (budayawan, cerpenis, dan penyair nasional) dengan makalah berjudul "Rendra: Sumbangannya Kepada Kemanusiaan dan Kebudayaan Kontemporer", Dr. Dra. Yudiaryani, M.A (Pembantu Dekan I Bidang Akademik di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta) dengan makalah berjudul "Membaca Kehadiran Rendra dan Mini Kata", dan Prof. Dr. Irwan Abdullah (Direktur Sekolah Pascasarjana UGM) dengan judul makalah "Kepak Sayap Si Burung Merak: Blues untuk Rendra".

Sehari sebelum dialog tersebut digelar, FIB menganugerahi gelar Doctor Honoris Causa (HC) kepada budayawan dan satrawan ulung W.S. Rendra atas karya dan jasanya dalam menumbuh-kembangkan kesusastraan di bumi Indonesia ini. Rendra menjadi orang ke-19 yang pernah menerima gelar akademis tertinggi tersebut dari UGM. Atas anugerah itu, Si Burung Merak, demikian julukan Rendra, mengungkapkan rasa bangga dan bahagianya, karena karya-karyanya diapresiasi oleh universitas yang dulu pernah mendidiknya.

Dalam forum dialog yang dihadiri oleh ratusan orang itu, Rendra diberi kesempatan untuk membacakan syair. Kontan saja keluar beberapa bait yang cukup menggelitik dan pedas. Di antara bait syairnya, “…Bangsa kita seperti dadu…Terperangkap di dalam kaleng…Dikocok-kocok negara asing…”.


Sebelumnya, tiga pembicara menyampaikan pandangan-pandangannya terhadap sosok, kiprah, dan perjuangan Rendra dalam mengangkat nilai-nilai kemanusiaan di tengah kepongahan kekuasaan sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Bakdi Soemanto menilai bahwa Rendra senantiasa mengambil isu-isu kemanusiaan sebagai tema sentral dalam seluruh karyanya. Ia mencohtohkan karya-karya Rendra, seperti Ballada Orang-Orang Tercinta (1957), Perjuangan Suku Naga, dan Perjalanan Bu Aminah (1997). Lebih lanjut Bakdi mengatakan bahwa pandangan-pandangan Rendra selalu mengarah pada pemecahan masalah-masalah di Indonesia dengan cara proaktif, mendorong tegaknya hukum yang adil dan tawakal, bukan dengan menunggu turunnya Ratu Adil. 

Senada dengan Bakdi, Irwan Abdullah mengatakan bahwa karya-karya Rendra memperlihatkan konsistensinya, yaitu memperjuangkan kelas yang memang menjadi masalah sentral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keberpihakannya kepada orang kecil yang ditinggalkan oleh serangkaian proses pembangunan di negeri ini, menunjukkan kecintaannya terhadap orang-orang yang kalah. “Rendra selalu prihatin atas tragedi umat manusia, dengan segala persoalan kemiskinan dan penindasan. Oleh karena itu, meskipun telah berusia 73 tahun, seorang Rendra tidak pernah tua, karena gairah pembangkangannya tidak pernah berhenti. Dalam konteks Indonesia, Rendra telah membakar jiwa dan membangkitkan kesadaran kritis,” jelas Irwan.

Sementara itu, Yudiaryani lebih memfokuskan pembicaraannya pada peran Bengkel Teater yang digeluti Rendra, dalam perkembangan seni dan sastra, terutama seni pertunjukan, di Indonesia. Yudiaryani menjelaskan, melalui kelompok teater ini Rendra melakukan pemberontakan dan pembaruan yang relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Salah satunya, yang paling spektakuler adalah melalui teater Mini Kata (MK).  Repertoar yang mini dalam kata tetapi maksi dalam makna adalah suatu pertunjukan teater nonverbal dan nonlinier yang terinspirasi kuat dari peristiwa sosial dan politik yang terjadi di Indonesia sekitar tahun ‘68. Bip Bop adalah sebuah nomor repertoar yang mengutamakan bentuk-bentuk gerak indah berupa imaji dengan komposisi panggung sederhana dan seni peran tanpa dialog. Bentuk ini merupakan suatu usaha penyadaran akan keterbatasan dunia verbal.

Begitu besarnya apresiasi seluruh peserta terhadap karya-karya si Burung Merak sepanjang hidupnya, maka agar penghargaan tersebut tidak berhenti sampai anugerah DR (HC) saja, salah seorang peserta, Mahyudin Al Mudra (Pemangku Balai Kajian Melayu/ Pemimpin Umum MelayuOnline.com) mengusulkan agar dibentuk sebuah yayasan "WS. Rendra Foundation" yang berkiprah untuk melestarikan pemikiran-pemikiran Rendra yang sangat monumental tersebut. Selain itu Mahyudin juga mengusulkan agar didirikan "Museum Rendra" yang menyimpan buku-buku karangan Rendra maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan si Burung Merak, agar dapat dilihat dan dipelajari oleh generasi penerus.

Selamat untuk Bapak DR (HC) W.S. Rendra. (RI/brt/19/03-2008)    


Dibaca : 4.486 kali.

Tuliskan komentar Anda !