Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
12 maret 2008 02:42
Suku Terasing di Pedalaman Pulau Rempang
Batam- Pulau Batam dikenal sebagai kawasan industri dan sangat dekat dengan Singapura. Batam juga sudah ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Dengan penetapan itu, diharapkan Batam semakin maju dan berkembang.
Di sisi lain, kehidupan masyarakat di sekitar Batam, seperti di Pulau Rempang dan pesisir, masih jauh tertinggal, baik dari segi ekonomi dan pendidikan. Salah satunya, kelompok masyarakat terasing yang dikenal dengan suku Utan yang hidup di kawasan Sungai Sadap, Rempang Cate, Pulau Rempang. Untuk mencapai kawasan itu, dibutuhkan perjalanan menyusuri sungai hutan bakau.
Suku Utan tinggal di kawasan Sungai Sadap, Rempang Cate, Pulau Rempang. Seluruh warga suku Utan menghuni gubuk reyot di tengah hutan semak belukar di kawasan Sungai Sadap. Gubuk dibuat dengan fondasi kayu yang tinggi dan beratap daun kering.
Suku Utan merupakan orang asli Pulau Rempang yang hidup turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Namun, jumlah mereka kini hanya tinggal 13 jiwa. Mereka lebih senang tinggal di hutan daripada bergaul dengan warga Pulau Batam lainnya.
Selain itu, Suku Utan juga umumnya enggan berhubungan dengan orang lain di luar komunitas mereka.
Menurut seorang sesepuh suku Utan, Abdul Manan, dalam kehidupan sehari-hari ia membuat kajang atau anyaman dari daun kelapa untuk atap rumah.
Kajang itu dijual kepada penduduk luar pulau yang membutuhkan. Selain itu, sebagian dari mereka juga berkebun dengan menanam ubi kayu atau ubi jalar, mencari kayu di hutan, dan menangkap kepiting di sungai-sungai.
Keberadaan suku Utan saat ini dapat dikatakan hampir hilang.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Batam Muslim Bidin, tahun 1970-an jumlah komunitas orang Utan sekitar 70 orang.
Akan tetapi, saat ini, lanjut Muslim yang juga penduduk asli Pulau Rempang, jumlah mereka tinggal 13 orang. Dari kurun waktu itu, sebagian orang suku Utan meninggal dunia. Sebagian lagi mulai ingin bergabung dengan penduduk dan hidup terpencar di tengah masyarakat.
Memang tidak terlalu mudah mengajak suku Utan yang masih ada saat ini untuk bergabung dengan penduduk atau hidup seperti masyarakat biasa. Suku Utan tetap lebih senang hidup di hutan dengan rumah beratap daun.
Suku Utan pernah dibuatkan rumah beratap seng. Namun, akhirnya mereka meninggalkan rumah itu dan kembali hidup di hutan. Rumah beratap seng bagi mereka terasa panas.
Dari 13 orang suku Utan itu, terdapat seorang anak berumur 6 tahun, Bahrum. Ia belum mengenyam pendidikan. Pendidikan masih dirasa terlalu asing. Selain tempat pendidikan terlalu jauh dan memerlukan biaya tinggi, anak suku Utan itu juga lebih senang hidup bersama orangtua dan membantu orangtuanya di tengah hutan.
Oleh karena itu, ketika Wali Kota Batam Ahmad Dahlan menawarkan pendidikan gratis dan mengangkat Bahrum sebagai anak asuh Pemerintah Kota Batam, Bahrum tidak memberi jawaban. ”Mau enggak sekolah di Rempang Cate,” tanya Ahmad berulang-ulang.
Pertanyaan itu pun hanya dijawab Bahrum dengan senyum. Ia pun diminta Ahmad untuk berpikir lagi bersama keluarga. Ahmad berharap, Bahrum ingin sekolah sehingga dapat membaca dan dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi.
Sumber : www.kompas.com Kredit foto : www.nedbatam.com