Close
 
Rabu, 28 Oktober 2026   |   Khamis, 16 Jum. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 13.776
Kemarin : 9.404
Minggu kemarin : 0
Bulan kemarin : 45.610.426
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

06 juni 2007 06:00

Ribuan Hektar Lahan Kering di Bima Dilirik Investor

Ribuan Hektar Lahan Kering di Bima Dilirik Investor

Bima- Ribuan hektar lahan kering yang tersebar di Kabupaten Bima dilirik investor. Tidak sedikit investor dalam negeri berminat memberdayakan lahan tidak produktif tersebut, salah satunya PT. Tirtana Argo Beruang. Perusahaan tersebut kini telah memanfaatkan sekitar 200 hektar lahan untuk ditanami jagung. Manager Operasional PT. Tirtana Argo Beruang, Emil kepada Suara NTB minggu (3/6) lalu mengatakan, masyarakat umumnya pesimis dengan ribuan hektar lahan yang dianggap tidak produktif. Padahal menurutnya, petani tinggal menentukan strategi tanam disesuaikan dengan musim.

Hasil survey Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Lahan Kering (LPPLK) yang bekerjasama dengan pihaknya, menjelaskan bahwa ribuan hektar lahan kering di Bima umumnya cocok ditanami jagung. “Saat ini kami sudah kembangkan 200 hektar lahan kering untuk ditanami jagung. Kemungkinan akan ada ekspansi ke lahan kering lainnya di Bima dan Kabupaten Dompu untuk pengembangan usaha tanaman jagung Hibrida,” ujarnya. Ia menambahkan 200 hektar lahan kering potensial tersebut tersebar di Kecamatan Soromandi, Bolo, Madapangga, Woha, Monta, Parado dan Sape.

Dengan program ini lanjutnya, kinerja pemerintah di bidang pertanian cukup terbantu. Sebab banyak program pemerintah yang mandeg di bidang pertanian, sedikit banyak tertutupi oleh program ini. Sejak menapaki usaha produksi jagung di Bima, masyarakat menurutnya cukup antusias menyambut program yang diterapkan. Masyarakat dibina untuk menggarap lahan tidak produktif tersebut. Dengan memberikan modal dan segala macam fasilitas kebutuhan pertanian.

“Modal yang kami cairkan untuk petani masing-masing Rp 3 juta. Dari hasil panen nantinya, petani binaan diwajibkan menyerahkan hasil pertanian ke perusahaan dengan harga Rp 450 per Kg,” jelasnya. Hasil panen jagung ini juga nantinya diolah menjadi butiran jagung olahan yang kemudian didistribusikan ke daerah-daerah lain.

Oleh karena sistem yang dikembangkan merupakan pola kemitraan dengan petani, Willy Wijaya menambahkan, kejujuran petani sangat diharapkan dalam realisasi program tersebut. “Kita sangat berharap kerjasama petani. Toh juga
program yang kami kembangkan lebih mengedepankan kesejahteraan dari pada
komersial. Kalau petaninya jujur, maka akan sukses, tapi kalau sebaliknya petani akan gagal,” ujar Willy Wijaya.

Sumber : www.suarantb.com


Dibaca : 2.823 kali.

Tuliskan komentar Anda !