Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
22 maret 2008 02:31
Pemkot Pontianak Gelar Festival di Balai Prajurit
Pontianak- Pemkot Pontianak melalui dinas pariwisata, kebudayaan, informasi dan komunikasi (disparbud-infokom), berusaha terus memelihara dan mengembangkan seni budaya. Itu dimaksudkan agar semua seni budaya yang ada di tanah air, terutama budaya Pontianak dapat diteruskan kepada generasi muda sekaligus mencintainya.
Sebagai ujud nyata, selama dua hari, 18-19 Maret 2008, di Balai Prajurit, dinas ini menggelar berbagai festival, antara lain festival tari japin, busana muslim kreasi corak insang, lukis kaligrafi dan lomba nasi adab (pokok telur). Kegiatan pelestarian seni budaya Pontianak itu dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menyongsong peringatan kulminasi. Dan ini direspon positif dari warga Pontianak, apalagi diikuti para pelajar.
“Kegiatan lomba seperti ini, diharapkan digalakan terus di kalangan generasi muda. Harapan ini agar adat istiadat, budaya dan seni daerah Kota Pontianak tidak punah ditelan masa,” tegas Wali Kota Pontianak, dr Buchary A Rachman, saat membuka kegiatan itu (18/3).
Kaitan hal itu, Wali Kota Pontianak berharap para camat dan lurah selalu mendorong dan memotivasi warganya, agar memanfaatkan momen yang ada untuk tampil di setiap event yang bernuansa budaya. Seperti peringatan tahun baru Islam, musabaqah tilawatil Qur`an, maulid Nabi, dan sebagainya.
Menurut kadisparbud-infokom Kota Pontianak, Drs Sugeng Harjo Subandi, festival budaya yang digelar dalam upaya pelestarian dan mempertahankan rasa cinta masyarakat terhadap seni dan budaya. Harapannya, agar seni budaya, terutama budaya Pontianak dapat terus lestari sepanjang masa.
“Yang perlu dipahami bersama, kita perlu merenung kembali kemajuan-kemajuan apa yang sudah dicapai selama ini. Namun kita harus percaya diri, bahwa sejarah kebudayaan dapat membawa ke arah yang lebih baik, dan berkualitas dari segi imtek,” papar Sugeng.
Ketua panitia Drs H Zaitoni MSi, menjelaskan, kegiatan yang digelar dalam upaya melestarikan seni budaya yang hidup dan berkembang di daerah ini, sekaligus dapat dijadikan filter dalam menangkal budaya asing di era globalisasi. “Khusus lomba busana muslim memang sengaja kami kreasikan dengan seni corak insang. Ini untuk memasyarakatkan corak insang,” jelas dia.
Begitu juga dengan festival pokok telur, ungkap Zaitoni yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Informasi dan Komunikasi, difestivalkan lantaran seni merangkai pokok telur itu kini sudah mulai langka. Apalagi, pembuat pokok telur selama ini dari kaum tua-tua saja. “Yang jelas, kami tetap komit dan konsisten melestarikan seni budaya daerah, khususnya seni budaya Pontianak. Makanya kegiatan seni budaya seperti itu, dilaksanakan tiap tahun,” tegas dia.