Minggu, 26 April 2026 |Isnain, 9 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 514
Hari ini
:
12.151
Kemarin
:
23.172
Minggu kemarin
:
7.342.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
17 juni 2008 02:08
Direktur ICT Universitas Pahang Malaysia Prof Abdullah Embong di STMIK Sisingamangaraja XII Medan
Medan- Direktur ICT Universitas Pahang, Malaysia Prof DR Abdullah Embong menyampaikan ceramah tentang “Peranan Teknologi Komunikasi dan Informasi atau Information Communication and Technology (ICT) Dalam Dunia Industri” dihadapan ratusan mahasiswa STMIK (Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer) Sisingamangaraja XII pada seminar Meraih Sukses melalui Teknologi Informasi di Kampus Jalan Urip Medan, Sabtu (14/6).
Dalam ceramah itu Prof Abdullah Embong menjelaskan, dewasa ini di Malaysia hampir seluruh denyut nadi kegiatan bisnis, tata pemerintahan hingga dunia pendidikan telah menerapkan apa yang disebut sebagai teknologi komunikasi dan informasi.
Sebelumnya ia menggambarkan sekilas tentang Malaysia yang kini berpenduduk 26 juta jiwa lebih yang mayoritas adalah etnis Melayu yang disebut warga pribumi lebih kurang 13 juta jiwa diikuti etnis Cina di posisi kedua dan India ditambah suku bangsa lainnya. Bila dibandingkan dengan populasi Indonesia yang kini berjumlah lebih kurang 220 juta jiwa, maka Malaysia bisa disebut negara berpenduduk sangat kecil. Dewasa ini pemerintah Malaysia sudah merubah pradigma pembangunannya yang tidak lagi mengandalkan kepada komoditi dari kekayaan alam seperti kelapa sawit, karet dan emas yang dimilikinya tetapi telah beralih kepada ilmu pengetahuan atau base on knowledge.
Dulu katanya seperti Malaysia masih mengandalkan komoditi itu. “Tapi sekarang bisa dilihat tidak ada negara maju di dunia yang besar karena mengandalkan komoditinya. Sebagai contoh, negara tetangga kita Singapura mereka tidak ada kelapa sawit, tidak ada karet tapi mereka punya teknologi komunikasi dan informasi mutakhir dan punya ilmu pengetahuan sehingga jadi negara maju. Ini membuktikan sekarang negara-negara dunia telah beralih dari komoditi kepada ilmu pengetahuan,” katanya.
Menurutnya, komoditi tetap penting tapi kemajuan suatu negara akan bisa lebih cepat dicapai apabila ilmu pengetahuan dan teknolgi dimanfaatkan untuk ekonomi daripada mengandalkan komoditi itu sendiri. Demikian juga dengan pemerintahan di Malaysia juga telah melakukan banyak perubahan. Kalau dulu birokrasi untuk pengurusan perijinan, pelayanan masyarakat hingga menyampaikan informasi lebih lama dan berbelit-belit kini telah dipersingkat dengan mengandalkan fasilitas internet melalui penerapan ICT.
“Masyarakat bisa mendapatkan berbagai hal informasi hanya dengan membuka internet. Pada pemilu ke-12 di Malaysia, pemerintah bisa mengontrol pemberitaan media massa soal pelaksanaan pemilu. Tetapi pemerintah tidak bisa mengontrol internet, para pembangkang, pihak oposisi pun menyebarkan berbagai informasi lewat internet hingga bisa diakses berbagai lapisan hingga dunia luar,” ujarnya.
Kemajuan multimedia katanya juga bisa mempengaruhi perilaku masyarakat terutama generasi muda. Banyak generasi muda yang tidak memiliki landasan kebudayaan yang kuat akan mudah terpengaruh dengan budaya asing yang tidak sesuai dengan budayanya.
ICT katanya memiliki dampak yang sangat baik meskipun memiliki dampak yang bisa merugikan. Tapi kenyataannya teknologi itu pula yang terbukti membuat kemajuan sangat pesat pada berbagai kehidupan masyarakat dunia saat ini. “ICT sektor yang sangat penting bagi dunia ekonomi. Kalau kita lihat orang yang paling kaya di dunia sekarang adalah Bill Gates atau bos Microsoft bukan orang yang memiliki komoditi yang banyak,” katanya.
Sesuai visi pembangunan tahun 2020 katanya, Malaysia kini membuat MSC (Malaysia Super Corridor) untuk mencapai target kemajuan kehidupan sosial masyarakat lewat ICT dan Multimedia Super Corridor untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi.Kedua hal ini diurusi sebuah satu Badan dipusatkan di Putra Jaya dekat Kuala Lumpur. Daerah itu sekarang ini akrab disebut Cyber City atau Bandar Cerdas.
Pembangunan industri seperti pertanian yang selama ini tersendat kini telah melaju pesat setelah penerapan ICT. Dalam hal ini katanya Malaysia berupaya menjadi salah satu pusat perdagangan komoditi dari berbagai negara. Hal ini akan dicapai melalui penguasaan ICT, soalnya Badan yang menangani MSC menyediakan berbagai infrastruktur pendukung dan berbagai kemudahan informasi dan birokrasi yang diinginkan negara-negara lain apabila ingin melakukan transaksi perdagangan.
Terkait mahasiswa, menurut Embong mahasiswa di Malaysia sendiri pun sebagian besar sudah sangat menguasai ICT baik sekadar untuk menunjang kegiatan belajar, penelitian hingga mencari solusi bagi masalah yang dihadapi dalam pelajaran. Di lain pihak perusahaan-perusahaan kini telah mewajibkan penyerapan tenaga kerja yang berdasarkan pengetahuan dan teknologi (workers knowledge).
“Dosen pun harus lebih menguasai teknologi dan lebih banyak memberikan suatu tugas kepada mahasiswa untuk dicari pemecahannya melalui penelitian-penelitian maupun menggunakan teknologi ICT itu sendiri,” ujarnya.
Acara diselingi dengan tanya jawab. Sementara Ketua STMIK Sisingamangaraja XII Medan Drs Pangeran Sianipar MSc mengharapkan kegiatan itu menambah wawasan mahasiswa ke depan. Turut menyampaikan sambutan Ketua Yayasan diwakili Drs M Situmorang MKom yang menyatakan menyambut baik kegiatan itu. Pada kesempatan itu juga dibagikan makalah Drs Poltak Sihombing MKom, kandidat Doktor dari Malaysia dengan topic “Issu teknologi informasi: Suatu kajian tentang aplikasi ICT dalam pemerintahan, pendidikan dan perdagangan”.
Drs Pangeran Sianipar bersama Drs Poltak Sihombing dan M Situmorang memakaikan ulos kepada Prof Abdullah Embong yang, Sabtu siang kembali ke Malaysia. Hadir pada acara ini unsur dosen Dra Nurmalina Napitupulu, Drs Jhon Berlin Damanik, Drs H Hutabarat dan yang lainnya. (M17/M5/g)