Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
17 juni 2008 02:56
T Syarfina Peroleh Gelar Doktor dari USU dengan Predikat Cumlaude
Medan- Dr T Syarfina mengatakan, Bahasa Melayu Deli sebagai bahasa daerah di Sumut, berfungsi sebagai alat komunikasi, pendukung kebudayaan dan lambang identitas masyarakat Melayu Deli. Ketiga fungsi itu terealisasi dalam kegiatan-kegiatan anggota masyarakat dalam berkomunikasi antar sesamanya.
Demikian Dr T Syarfina saat mempertahankan disertasinya berjudul “Ciri akuistik sebagai pemarkah sosial penutur Bahasa Melayu Deli” untuk memperoleh gelar doktor dalam ilmu linguistik pada Sekolah Pascasarjana USU, pada sidang promosi doktor. di ruang IMT-GT Biro Rektor USU, Jum`at (13/6).
Sidang dipimpin Rektor USU Prof Chairuddin P.Lubis, dengan tim promotor Prof Bahren Umar Siregar PhD, Dr Sugiyono dan Prof T Silvana Sinar MA PhD. Sementara tim penguji antara lain Prof Amran Halim PhD, Prof Amrin Saragih MA PhD, Prof Dr Khairil Ansari MPd dan Prof Paitoon M Chaiyanara PhD. Dr T Syafrina dalam ujian promosi doktor tersebut memperoleh predikat cumlaude.
Dikatakan, melalui Bahasa Melayu Deli , tergambar susunan lapisan masyarakat atau stratifikasi. Hal yang demikian tidak terjadi sesaat, tetapi merupakan kesinambungan sistem masyarakat melayu tradisional sejak masa kekuasaan raja-raja Melayu dan pada masa pemerintahan yang dikendalikan oleh Raja.
Menurut T Syarfina, pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa daerah di Indonesia sangat penting, karena selain sebagai pemerkaya kebudayaan nasional, bahasa itu juga menjadi pengungkap nilai-nilai kebudayaan tradisional (seperti yang diamanatkan UUD 1945 pasal 32).
“Dengan demikian, bahasa-bahasa daerah harus dipelihara agar tetap menjadi wadah pengekspresian budaya masyarakatnya,” kata T Syarfina yang bersuamikan Rinaldi Lubis SE dan memiliki 4 orang anak ini (Irham Syahrazi Lubis, Irsyad Mu`fada Lubis, Irfania Ramadhani Lubis dan Irhan Ar`rasyid Lubis).
Bahasa Melayu Deli, mempunyai keterkaitan erat dengan budaya, bahkan dapat mencerminkan adat istiadat (budaya) Melayu. Pilar adat istiadat inilah yang membina warga masyarakat melayu untuk bersikap dan bertutur kata sebagaimana layaknya seseorang yang religius dan beradat-berbudaya yang sudah disepakati secara konvensional.
“Pengaruh ini berakibat pada sikap dan kebiasaan berbahasa Melayu, baik yang berperingkat intra-sistematik maupun ekstra-sistematik dalam lingkungan komunitas bahasa melayu deli,”katanya.
T Syarfina menjelaskan, masyarakat Melayu terdiri dari atas dua golongan yakni golongan bangsawan dan golongan kebanyakan. Sejalan dengan itu terdapat pula dua golongan bahasa yaitu bahasa diraja dan bahasa kebayakan. Kedua golongan itu berbeda berdasarkan adat istiadat, gelar kebangsawanan, kedudukan ( status) peranan dan pemakaian bahasa.
“Karena perbedaan unsur eksternal itu, bahasa Melayu Deli memiliki kecenderungan perbedaan kualitas akustik. Kualitas akustik bangsawan berbeda dengan golongan kebanyakan. Diduga bahwa kualitas akustik Bahasa Melayu Deli dari satu generasi ke generasi berikutnya pun berbeda,”kata Syarfina.
Sesuai dengan catatan sejarah katanya, Kerajaan Deli mempunyai beberapa wilayah yang setiap daerah dikepalai seorang Kepala daerah yang bergelar datuk. Kemudian Datuk tersebut diberi gelar berdasarkan nama daerahnya. Kajian ini dilakukan di 4 daerah yang merupakan wilayah penuturan bahasa melayu deli yaitu wilayah Serbanyaman, wilayah XII Kuta, wilayah Sukapiring dan wilayah Senembah Deli.
“Dari hasil kajian ini ditemukan bahwa terdapat perbedaan antara sesama masyarakat melayu deli dalam berinteraksi, misalnya dalam memberi perintah, bertanya dan memberitahu melalui analisis akustik. Perbedaan yang ada adalah hasil penerusan tradisi melayu lama yang diwarisi hingga kini,” kata Dr T Syarfina. (M5/p)