Close
 
Rabu, 20 Mei 2026   |   Khamis, 3 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.882
Hari ini : 24.256
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 juni 2008 04:35

Syamsul Arifin: “Emak Bilang Maju, Majulah Saya….”

H. Syamsul Arifin bersama Ibunda Hj. Fadillah dan Adik-adiknya.

Sumatera Utara- Ibarat di persimpangan jalan, begitulah awalnya posisi H Syamsul Arifin sekitar delapan bulan lalu, ketika sejumlah komponen masyarakat memintanya mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut (Gubsu) masa bakti 2008-2013.

Kala itu, putra Melayu yang menyatakan dirinya sahabat semua suku ini, bingung. benar-benar bingung, apakah dia harus maju atau tidak. Silih berganti perasaan yang muncul. Di satu sisi, jiwa pengabdiannya sontak bangkit menyahut desakan tersebut. Itu artinya, dia harus maju. Namun di sisi lain, kata Syamsul, alam bawah sadarnya berbisik, namun di hatinya suara itu terdengar sangat kuat, “Hati-hati bos, itu tugas berat! Jangan main-main…” Mendengar bisikan ini, Syamsul yang Bupati Langkat ini pun mengaku agak ciut hatinya. Kebingungan pun semakin menyelimuti. Ketakutan terus membayangi.

Setelah berserah diri ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Syamsul Arifin Gelar Datuk Sri Lelawangsa Hidayatullah ini pun melakukan perenungan mendalam, sementara waktu terus bergerak dan Syamsul harus segera menentukan sikap, maju atau tidak.

Di tengah kegalauan hatinya inilah, saat menjelang masa pencalonan, ayah dari tiga anak dan suami dari Hj Fatimah Habibi ini mendatangi ibundanya tercinta, Hj Fadlah di kampung halamannya Pangkalan Brandan, dan “melabuhkan” kegalauan hatinya itu.

“Begitu jumpa dengan emak, hati saya rasanya tenteram. Segala kebingungan dan kegalauan itu pun hilang. Sejuk rasanya hati ini. Emak saya bilang, banyak orang datang kepadanya minta saya agar memimpin Sumut. Saat itu saya diam saja. Tak berapa lama kemudian, permintaan tersebut semakin banyak lagi datang. Kemudian emak memerintahkan kepada saya, ‘Kau ambillah itu, Pin…‘,” tutur Syamsul Arifin mengisahkan dialognya dengan ibundanya yang tercinta.

Atas perintah ibundanya itu, kata Syamsul semangat pengabdian yang sebenarnya sudah tumbuh kuat pada diri Syamsul sejak kecil namun sempat ragu akibat beratnya tantangan yang akan dihadapi apabila menjadi Gubsu, tiba-tiba meronta dan bangkit seperti tidak terbendung lagi.

“Meski begitu, saya bilang kepada emak, ‘apa mungkin saya menang, Mak?‘. Dengan tenang tetapi mantap, emak bilang, “Emak percaya, insyaallah, kau menang”. Ucapan itu kemudian berulang disampaikan emak kepada saya dalam berbagai kesempatan,” ujar mantan Ketua KNPI Sumut kelahiran 25 September 1952 ini saat berbincang dengan wartawan di rumah dinas Bupati Langkat di Stabat.

Saat itu wartawan sengaja datang sekitar pukul 05.30 WIB, terpaut beberapa saat setelah waktu shalat Subuh. Sebagaimana biasa, Syamsul Arifin selaku Bupati Langkat selalu mengawali kerja setelah shalat Subuh di ruang kerja di rumah dinasnya. Dengan masih mengenakan kain sarung dan kemeja seadanya, terkadang memakai kaos oblong, Syamsul sudah aktif mempelajari berkas-berkas. Ajudan sudah sibuk. Sederetan staf dan pejabat maupun masyarakat yang berurusan sudah “antri”, semuanya diterima oleh Syamsul.

Hebatnya, menjelang waktu apel pagi, semua urusan kelihatan selesai. Masyarakat yang “antri” tampaknya juga tahu diri. Sekitar pukul 07.00 WIB, Bupati sudah siap menuju kantornya. Ketika ditanya wartawan, Syamsul mengemukakan kebiasaan kerja seperti ini juga akan diterapkannya setelah menjadi Gubernur Sumatra Utara.

Sumber inspirasi

Syamsul mengemukakan, ibundanya inilah sosok motivasi utama dan sumber inspirasi yang menguatkan semangatnya untuk menerima permintaan banyak pihak agar dirinya komit maju mencalonkan diri menjadi Gubsu 2008-2013. Dengan kata lain, ibundanya inilah figur sentral yang berada di belakang motivasi suksesnya Syamsul Arifin pada Pemilu Gubsu (Pilgubsu) 16 April 2008 lalu. Emaknya lah ‘the person behind success of Syamsul Arifin‘.

“Emak yang memotivasi saya mampu mengemban amanah ini. Kalau saya bilang ratusan kali mungkin bohong, tapi kalau puluhan kali saya kira ada emak meyakinkan saya jika ikhlas dan berserah diri ke hadirat Allah SWT maka insyaallah, saya menang. Itulah sebabnya dalam pencalonan ini saya tenang saja, karena cakap emak sudah keluar, insya allah, saya diridhoi Allah Swt memimpin Sumut jika itu memang baik kepada diri saya dan masyarakat,” ujarnya.

Syamsul Arifin yang kemudian maju berpasangan dengan Gatot Pujo Nugroho ini mengaku ucapan emaknya yang berulang-ulang itulah yang antara lain selanjutnya membuat batinnya ikhlas terhadap apapun hasil Pilgubsu. Itu pulalah yang membuat dirinya pada masa pencalonan bersikap wajar-wajar saja, tidak perlu grasak-grusuk, tidak sibuk bagi-bagi sembako dan tidak melakukan rekayasa-rekayasa subjektif.

“Saya sadar betul saya ini tidak ada apa-apanya. Oleh sebab itu, saya ikhlas-ikhlas saja. Semuanya tergantung kepada kehendak Allah Swt dan yang memilih saya adalah masyarakat secara langsung. Jadi saya jalani saja secara wajar dan apa adanya. Alhamdulillah, saya mendapat amanah dan saya harus mengembannya dengan penuh tanggungjawab,” tuturnya.

Ikhlas mengabdi

Sikap apa adanya dan Syamsul Arifin tetap sebagai Syamsul Arifin yang dikenal oleh masyarakat sebelumnya, tidak ada yang berubah, ternyata mendapat respon positif dari masyarakat. Bahkan, dari 28 kabupaten dan kota di Sumut, pada 12 daerah yang Syamsul Arifin tidak masuk kampanye, pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho (Syampurno) memperoleh banyak suara, malah 5 daerah diantaranya Syampurno menang secara signifikan di atas 30 persen.

“Jadi doa restu orangtua itu memang sangat luar biasa. Dengan restu emak, saya bisa tenang menghadapi Pilgubsu. Malah sekarang ini, setelah menang, saya yang jadi takut. Saya takut kepada Allah Swt, apakah saya bisa melaksanakan tugas ini? Namun saya rasa, ketakutan ini sifatnya manusiawi, karena saya dan Pak Gatot bukan ingin gagah-gagahan,” ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, dia tetap mohon dukungan dari masyarakat untuk tetap ‘mengawal‘ dirinya bersama Gatot agar tetap ikhlas memimpin Sumut atas dasar pengabdian dan dijauhkan dari berbagai macam penyakit hati diantaranya iri, dengki, khianat, fitnah, tamak, sombong, angkuh, takabur dan ria, apakah yang datangnya dari dalam diri sendiri maupun dari orang lain.

Saat ditanya apa reaksi ibundanya setelah dirinya terpilih menjadi Gubsu, Syamsul Arifin mengemukakan, “Emak biasa-biasa saja. Dia hanya mengatakan, ‘Kerjakan aja tugas ini secara baik, ingat kepada Tuhan‘. Jadi tidak ada sikap berlebihan dari emak.”

Syamsul Arifin mengakui dalam perjalanan hidupnya terasa sekali restu orangtua sangat dominan mempengaruhi apapun yang dikerjakannya sehingga dia yakin betul restu orangtua sangat diperlukan. “Bagi saya ini sangat prinsip. Saya tidak pernah melihat ‘orang besar‘, termasuk presiden sekali pun, yang tidak hormat kepada orangtuanya. Jenderal-jenderal teman saya pun, semuanya saya lihat memiliki hubungan batiniah yang kuat dengan orangtuanya,” ujarnya.

Bagi Syamsul Arifin ada tiga perintah yang mengamanahkan manusia untuk menghormati dan menyayangi orangtua. Pertama, perintah Tuhan sudah tegas agar manusia menyayangi orangtua, kedua perintah adat dan yang ketiga adalah perintah orang-orang terdidik. “Ini yang saya pedomani dan ini yang saya lakukan, Tuhan memerintahkan kita menyayangi orangtua, adat juga begitu, orang-orang terdidik juga memerintahkan hal itu,” tuturnya.

Menurut Syamsul Arifin yang bupati pertama dari kalangan swasta dan dua periode memimpin Kabupaten Langkat ini ada kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri yang secara batiniah sangat dirasakannya dengan menyayangi orangtuanya.

“Mungkin orang yang terdidik, yang secara materi mencukupi, sudah memiliki apa saja, ilmu harta, pangkat, yang menurut kita terlihat cukup akan sangat merasa kehilangan jika kedua orangtuanya sudah tiada. Saya, ayahanda saya sudah berpulang ke rahmatullah. Kini hanya tinggal emak. Meski saya juga harus siap menerima apa kemungkinan ke depan, tapi jujur saya katakan, selalu ada ketakutan kehilangan orangtua. Ini mungkin manusiawi, namun ketakutan itu selalu ada,” ujar Syamsul dengan mata berkaca-kaca sembari mengemukakan oleh sebab itulah dirinya terus berupaya semaksimal mungkin membahagiakan ibundanya tercinta. (M3/h)

Sumber: http://hariansib.com/ (15 Juni 2008)

Kredit foto : www2.syamsul-arifin.com (15 Juni 2008)


Dibaca : 2.176 kali.

Tuliskan komentar Anda !