Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
27 juni 2008 03:36
Chairil Anwar Subyek Landasan Modernisasi Kota
Patung Chairil Anwar dan Balai Informasi Sejarah dan Budaya Jakarta
di Taman Silang Monas Utara.
Jakarta- Sastrawan Chairil Anwar dan karya-karya kembali menjadi telaahan menarik sastrawan dan pengamat sastra di Tanah Air. Dikaitan dengan HUT Kota Jakarta ke-481, Dewan Kesenian Jakarta menggelar diskusi sastra bertajuk Chairil dan Kota.
Pada Diskusi hari pertama, yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (26/6), Ketua DKJ Marco Kusumawijaya, yang tampil sebagai pembicara bersama Sastrawan Goenawan Mohamad, dan Penulis dan Kurator Arif Bagus Prasetyo, mengatakan, dalam landasan modernisasi, Chairil Anwar adalah seorang subyek. Bukan sebagai " aku" individu, tetapi sebagai aku "subyek" .
"Dalam puisi yang ditulisnya dalam kartu pos kepada HB Jassin, 8 Maret 1944, (ungkapan): ...dan garis-garis ku sudah kudapat, ialah harga sebagai manusia (mjenselijke waardigheid) dengan kepribadian. Kepribadian inilah yang saya maksud sebagai subyek, yang terus menerus berupaya menegaskan kembali keberadaan otonomi manusia terhadap bergitu bangyak di sekeliling-nya, " kata Marco, master di bidang Arsitektur yang juga dikenal sebagai planer.
Kemerdekaan yang dikehendaki Chairil Anwar, lanjutnya, bertujuan agar manusia dapat senantiasa terus bikin perhitungan dengan sekeliling yang, dalam proses modernisasi, terus menekan dan mendesak, berubah cepat mengasingkan subyek, atau sebaliknya menghanyutkan, meleburkan subyek ke dalam landasannya, menjadi obyek.
Menurut Marco, pengalaman bangsa Indonesia akan modernisasi hampir identik dengan pengalamannya akan kota dan juga penjajahan oleh bangsa asing. Sebab proses modernisasi datang pertama-tama kepada kota, dan menyebar dari kota. Indonesia dan Jakarta pada masa hidup Chairil Anwar (1922-1949) mengalami pertumbuhan fisik yang jauh di bawah tingkat sekarang, tetapi pada masa itu sudah tergolong sangat besar, dan dramatis bila dibandingkan dengan masa sebelumnya.
Sementara itu Goenawan Mohamad dalam presentasinya tentang Dari `Mooie Indie` ke Gambir mengatakan, kota adalah sebuah pengertian yang menyiratkan perbatasan, tapi sebenarnya kita tak tahu di mana perbatasan itu, terutama dalam sejarah Indonesia.
"Saya pernah baca sebuah penelitian arkeologi yang menyimpulkan bahwa Jawa lama adalah sebuah bentangan demografis `tanpa kota`. Kalau pun ada batas, mungkin samar-samar. Ada juga istilah negara. Kata seorang peneliti, makna kata itu adalah ke mana saja orang pergi ke luar tanpa melintasi sawah," katanya.
Untuk mempertegas pengertian kota dan desa, Goenawan mengutip sejumlah sajak tentang desa. Menurut dia, generasi penulis Indonesia yang diwakili Puisi Baru (yang lebih lazim disebut angkatan Pujangga Baru) menyambut modernitas dengan segala keriuhan dan kerancuannya. Berbareng dengan itu, memandang apa yang di luar modernitas (dicitrakan sebagai desa, atau alam dan peladang) sebagai sesuatu yang tak berubah, tapi juga "tipikal". Bahkan hanya semacam simbol. Lanskap itu dipandang dengan terpesona justru karena ia dipandang dari jauh.
"Baris terakhir sebuah sajak Chairil Anwar tentang Jakarta yang baginya bukan tempat asing, bukan raksasa yang mengerkah, tapi momen-monen yang intens dan beragam. Saya kutipkan: Kusalami kelam malam dan mereka dalam diriku pula," ungkapnya.
Sedangkan Arif Bagus Prasetyo mengatakan, ketika menelisik hubungan Chairil Anwar dan kota Jakarta, puisi Aku Berkisar Antara Mereka nyaris mustahil terlewatkan. Dalam khasanah karya Chairil, Aku Berkisar Antara Mereka adalah puisi yang paling eksplisit merefleksikan visi Chairil tentang kota, khususnya Jakarta yang menjadi basis kreatif sekaligus tempat tinggal sang penyair hingga tutup usia pada dekade 1940an.
"Dengan berpuisi, Chairil bersaksi menebus subyek dari cengkeraman kehidupan kota yang mengobyekkan dan menihilkan. Karya puisi Chairil merefleksikan kritisisme intelektual urban yang bergejolak dalam kesunyian, dan sekaligus sunyi dalam keramaian. Lewat puisi, Chairil mengilhami pandangan alternatif unik yang dapat dipakai untuk menimbang kembali posisi kota secara kritis dan kerangka produksi makna kebudayaan, " tandasnya.(NAL)