Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
07 juli 2008 03:31
Tradisi Tangkul yang Kembali Hidup
Seorang petani ikan menebar tangkul di Danau Teluk,
Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi.
Jambi- Tradisi menangkul (menangkap ikan dengan jaring besar) di Danau Teluk kembali hidup dalam setahun terakhir. Masyarakat petani, yang sebelumnya sempat beralih ke usaha keramba ikan, kini kembali menebar tangkul. Sore hari adalah saatnya memanen ikan bagi ratusan petani setempat.
Kehidupan di danau itu menjadi sangat hidup. Dalam sentuhan sinar lembut matahari yang hampir tenggelam, para petani bersukaria mengangkat tangkul-tangkul yang telah dibenamkan ke dalam danau. Dari balik tangkul mereka, ikan-ikan pun berlompatan.
”Kalau lagi musimnya, dalam satu hari saja, saya bisa mendapat setengah ton ikan,” tutur Mahdi, penabur tangkul di Danau Teluk, Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi, Sabtu (5/7).
Musim ikan yang dimaksud Mahdi adalah awal kemarau. Itu adalah saat air danau tidak lagi keruh karena hujan sehingga ikan banyak berkumpul di antara rumpon-rumpon dari bambu dan ranting-ranting kayu.
Di sekitar rumpon itulah, Mahdi setiap hari menebar tangkul, sebuah jaring besar yang keempat sudutnya tersambung pada bambu panjang. Bambu diikat pada sebuah tiang. Kalau Mahdi menarik ke bawah bambu, jaring besar akan terangkat dari dalam air. Begitulah caranya Mahdi mendapatkan ikan setiap hari.
Danau Teluk menjadi sumber pencarian masyarakat setempat. Diperkirakan ada 400 tangkul tersebar di sekeliling danau ini.
Tradisi menangkul sebenarnya tidak hanya di Danau Teluk. Pada sejumlah danau lainnya, seperti Danau Sipin dan Danau Lamo, yang merupakan limpasan Sungai Batanghari, juga dipenuhi tebaran tangkul. Bahkan tidak sedikit anak-anak Sungai Batanghari juga diisi tangkul.
Hanya saja, di Danau Teluklah yang paling ramai dengan tangkul. Menurut Mahdi, tidak seperti di danau-danau lainnya, air di Danau Teluk tidak pernah surut. Ini menjadi kondisi yang menguntungkan bagi petani ikan setempat.
Surut akibat keramba
Tradisi menangkul sempat surut ketika program pengembangan usaha keramba ikan gencar dilaksanakan Pemerintah Provinsi Jambi. Bayangkan saja, Danau Teluk dipenuhi lebih dari 1.000 keramba pada tahun lalu. Saking penuhnya, petani ikan yang tak punya modal untuk membuat keramba tak kebagian tempat lagi untuk menebar tangkul.
Tragisnya, karena keramba terlalu padat, ribuan ikan mati. ”Bagaimana tidak mati, danau ini terlalu padat dengan ikan- ikan dalam keramba. Kapasitasnya tak memadai lagi sehingga danau menjadi kotor dan penuh limbah,” tutur Mahdi.
Musibah matinya ikan-ikan di Danau Teluk terakhir kali dialami petani pada Lebaran tahun lalu. Rasanya itu adalah saat-saat yang suram. Modal besar yang telah dikeluarkan untuk usaha keramba malah mendatangkan kerugian.
Kegagalan pada usaha keramba rupanya segera membuat kapok petani setempat. Kini para petani setempat tidak lagi tertarik dengan program keramba. (Irma Tambunan)