Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
16 juli 2008 04:50
`The Photograph` Tembus Eropa
Salah Satu Adegan di Film The Photograph
Praha, Republik Ceko- Meraih penghargaan selalu menggembirakan lantaran karya kita mendapat apresiasi. Itu juga yang dirasakan Nan T. Achnas. Filmnya, The Photograph, meraih penghargaan Special Jury Prize dari perhelatan Festival Film Karlovy Vary di Republik Ceko. "Ini kompetisi pertama The Photograph," kata Achnas, yang sukses mengarahkan juga aktor kawakan Singapura Lim Kay Tong dan penyanyi Shanty dalam film tersebut, Senin lalu.
Walaupun Special Jury adalah penghargaan kedua di festival itu, Achnas merasa tersanjung karena bobot festival yang sudah diselenggarakan sejak 1946 itu. Salah satu festival tertua di dunia ini sejajar dengan Festival Cannes, Sundance, Berlin, dan Danish.
Apalagi pihak panitia sudah berburu film yang layak masuk festival itu sejak festival lain dilangsungkan. "Mereka sudah mengejar saya sejak festival di Busan (Korea Selatan)," ujar pembuat Kuldesak itu. Di Busan, filmnya tak masuk kompetisi, tapi bisa dinikmati para penggila film yang mementingkan keutuhan film, dari cerita sampai artistik, plus pesannya.
Menurut juri, yang terdiri atas Ivan Passer, Vilmos Zsigmond dan Ted Hope dari Amerika Serikat, Brenda Blethin dari Inggris, Ari Folman dari Israel, Jan P. Muchow dari Republik Ceko, serta Johanna ter Steege dari Belanda, film Achnas sangat indah dari sisi visual, dengan syarat lain, tentunya: keutuhan film terjaga.
Uniknya, menurut Achnas, film ini juga diapresiasi oleh enam juri lain yang "mewakili suara" Kristen dan Katolik, yaitu Jan Elias dan Helena Babicka dari Republik Ceko, Lucia Cuocci dari Italia, Karel Deburchgrave dari Belgia, Monica Lienin dari Swiss, serta Werner Schneider-Quindeau dari Jerman. Mereka sepakat film itu diganjar Ecumenical Jury Award. Achnas mendapat piala plus duit US$ 20 ribu.
Achnas, yang bingung karena filmnya tak mewakili suara agama, diberi tahu bahwa filmnya itu membicarakan nilai kemanusiaan yang tinggi. Dalam film tersebut, harapan terakhir Johan (diperankan oleh Lim Kay Tong) untuk membuat foto dirinya dan mendapatkan penggantinya sebagai tukang foto keliling diwujudkan Sita (Shanty). "Saya terinspirasi oleh guru saya," kata Achnas.
Lima belas tahun lalu, Sutomo Gandasubrata, dosennya yang terkena kanker, menyatakan keinginannya diberi hidup satu tahun lagi oleh Yang Mahakuasa. Sang dosen mau menulis buku film buat mahasiswanya. "Ini semua tentang harapan seseorang."
Keikutsertaan Achnas di ajang ini adalah yang kedua. Pertama kali, Pasir Berbisik belum beruntung mendapat penghargaan apa pun. Kemenangannya, menurut dia, menjadi pemicu untuk berkarya lebih tinggi lagi, menembus perfilman Eropa. Kemenangan Achnas merupakan kemenangan kedua Indonesia, setelah Kotot Sunardi mendapat penghargaan di ajang itu lewat Si Pincang pada 1950.
Selain dengan penyelenggaraan festivalnya, sineas kelahiran Singapura, 14 Januari 1963, itu terkesan mendapat bantuan Kedutaan Besar Indonesia di Praha. Duta besarnya, Salim Said, sampai menginap di hotel tempat festival berlangsung untuk memberi dukungan dengan promosi dan lobi kepada para sineas dunia.
Tak kurang dari empat film harus ditonton sang duta besar dalam sehari untuk membuktikan kelebihan film Achnas. Total ada 477 film yang diputar selama festival. Ajang pertemuan sineas dunia itu juga dihadiri artis-artis kawakan, seperti Robert de Niro, Arthur Berning, dan Mohan Agase. (Yophiandi, koran)
Sumber : www.korantempo.com (16 Juli 2008) Kredit foto : www.kviff.com/image/9894-the-photograph.jpg