Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 sepember 2008 07:38
Antara Tuah Sutan Chedoh dan Tukang Nagari Nan Tigo
Mengunjungi Masjid Tertua di Payakumbuh
Payakumbuh, Sumbar- Inilah masjid paling tua di Payakumbuh. Dinding lantai terbuat dari kayu, atap dipasang bertingkat tiga. Usianya diperkirakan mencapai 200 tahun, bahkan ada yang menyebut lebih. Mari kita telusuri sejarah, keindahan, pun keunikannya!
Gerimis baru saja membasuh Payakumbuh. Ruas Jalan Soekarno-Hatta masih terasa licin. Namun niat untuk mengunjungi Masjid Gadang Koto Nan Ompek yang merupakan masjid tertua Payakumbuh, pada suatu senja di pekan pertama Ramadhan 1429 Hijriah ini, sama sekali tidak mengendor.
Setelah mengendarai sepeda motor dari pasar Payakumbuh menuju Balai Kota Bukik Sibaluik atau arah ke Bukittinggi, kami belok kiri di simpang yang ada gerbangnya. Kalau tidak salah, gerbang itu bertuliskan kalimat ”Balai Nan Duo, Koto Nan Ompek”. Nah, dari sana motor lurus saja ke dalam. Kira-kira 150-100 meter, ditemukan kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Nan Ompek.
Tidak jauh dari kantor ini, sebuah masjid terlihat berdiri kokoh. Ada beberapa pohon kelapa, kolam ikan, dan kayu-kayu rimbun di sekelilingnya. Itulah Masjid Gadang Koto Nan Ompek. Belum ada bukti tertulis kapan Masjid Gadang didirikan dan siapa pendirinya. Meskipun demikian, tutua nan didanga, pusako nan dijawek (cerita yang diterima) masyarakat Koto Nan Ompek, rata-rata menyebutkan, Masjid Gadang dibangun setelah Rumah Gadang Sutan Chedoh berdiri.
Sekadar diketahui, Rumah Gadang Sutan Chedoh sendiri atau disebut juga Istana Regen, berada hanya sekitar 200 meter dari Masjid Gadang. Jika pendapat pertama ini benar, berarti usia Masjid Gadang Koto Nan Ampek, diperkirakan sudah 180 tahun lalu. Mengapa demikian?
Sebab menurut tokoh pendiri Payakumbuh HC Israr dalam buku autobiografinya, kota ini mulai ditaklukkan kolonial Belanda pada tahun 1823. Kemudian pemerintah Negeri Kincir Angin mengangkat Sutan Chedoh menjadi Regen, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.
Karena diangkat menjadi Regen, Chedoh membuat istana megah atau Rumah Gadang dan mendirikan Masjid Gadang untuk tempat ibadah bagi dirinya dan masyarakat sekitar. Walaupun begitu, pendapat di atas tidaklah mutlak sebagai pendapat satu-satunya. Karena ada pula dua pendapat lain yang tidak kalah menarik untuk disimak sekaligus disingkap tabir kebenarannya.
Dua Pendapat Lain
Pendapat kedua menyebutkan, Masjid Gadang berdiri setelah Sutan Chedoh tutup usia. Mula-mula masjid nagari ini hanya dibangun sederhana, selanjutnya baru dibuat besar seukuran sekarang. Untuk membangunnya, anak Nagari Koto Nan Ompek membentuk semacam kelompok tukang yang disebut ”Tukang Nagari Nan Tigo Baleh”.
Kelompok ini dipimpin tiga penghulu yang ahli dalam pertukangan. Mereka masing-masing adalah Datuk Kuniang (suku Kampai, Parik Rantang), Datuk Pangka Sinaro (suku Piliang Payolansek), dan Datuk Siri Dirajo (suku Melayu Payolansek). Disebutkan pula dalam pendapat kedua, bahwa atap Masjid Gadang yang bertingkat tiga, semenjak semula sudah seng, atau dengan ijuk pohon aren.
Masjid Gadang Koto Nan Ompek ini merupakan masjid tertua di Kota Payakumbuh. Masjid bersejarah ini diperkirakan telah berusia sekitar 200 tahun.
Sedangkan pendapat ketiga justru lebih mengejutkan lagi. Di mana Masjid Gadang Balai Nan Duo, disebut berdiri tidak semasa Sutan Chedoh berkuasa dan tidak pula setelah ”Si Regen” wafat. Tapi sudah sejak ratusan tahun lalu!
Pendapat terakhir kabarnya bisa dibuktikan dengan tulisan huruf arab 1812 Masehi, pada kayu ”pamimpie” atau lesplank tingkat dua yang menghadap ke selatan masjid. Sayang, sekarang tulisan itu tidak ada lagi. Sehingga jadilah pendapat ketiga seperti Tambo urang Minangkabau, hanya bisa didengar-dengar saja.
Terlepas dari hal tersebut, pastinya Masjid Gadang Balai Nan Duo, Koto Nan Ompek, merupakan bukti nyata, betapa kokohnya peradaban Islam di Payakumbuh.