Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
10 juli 2007 01:03
Mendag Puji Pindang Palembang
Palembang- Kendati baru pertama kali ke kota pempek ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Kabinet Indonesia Bersatu, Dr Marie Elka Pangestu, kesemsem berat dengan beragam karya wong Plembang. Bahkan, dia langsung mengajak Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang ikut pameran di Kuala Lumpur, Malaysia pada September mendatang bersama beberapa kota lain di Tanah Air, mewakili Indonesia.
Dalam sambutannya di rumah dinas Walikota Palembang Ir. H. Eddy Santana Putra, MT. di Jl. Tasik, Palembang, kemarin (8/7), Marie mengatakan, apa pun yang ingin disusun dan dikembangkan oleh Pemkot Palembang bersama masyarakat akan selalu ia dukung. “Termasuk mengajak ke Malaysia. Nanti, bulan September ada pameran dagang di Kuala Lumpur, saya harap Palembang bisa ikut,” ajak menteri di kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu sembari tersenyum.
Sejumlah catatan penting membuat Mendag merasa bangga dan senang dengan perkembangan dunia wisata, sekaligus perdagangan dan jasa di kota wisata air ini. “Saya merasa sangat terkesan tiba di Palembang. Sampai di bandara pagi tadi, dengan airport yang sangat bagus, jalanan lebar, pasar terpadu, pasar retil, stadion yang megah, Sungai Musi yang indah dengan Jembatan Ampera, yang saya lihat sudah kelihatan pembangunan yang baik sekali,” paparnya.
Dengan kunjungan perdananya itu, diakui Marie, dia merasa banyak mengetahui tentang Palembang. “Saya memastikan perencanaan pembangunan kota ini oleh pemkot dan masyarakat sudah sangat bagus, sudah mulai terlihat hasilnya. Dan mungkin sudah banyak yang studi banding ke sini untuk meniru konsep pembangunannya,” tambah Marie.
Hanya saja, kata Marie, masih ada yang perlu lebih digencarkan lagi promosinya yakni tentang produk dan kerajinan unggulan daerah. Antara lain songket, wisata, juga berbagai makanan. “Saya tadi makan Pindang Palembang, Pindang Musi, dan ikan Belido. Itu enak sekali, lebih enak dari Tom Yam Hum. Masakan pindang itu saya rasakan punya ciri khas sendiri yang tidak dimiliki daerah lain. Kenapa itu tidak dipromosikan dan dikembangkan,” ujarnya.
Marie mencontohkan, masakan Padang dan Manado yang menyebar membuat orang ingin mendatangi daerah asalnya. “Begitu juga masakan, bila itu dipromosikan lebih gencar lagi, saya kira dengan sendirinya orang ingin datang ke Palembang, bukan hanya karena pariwisatanya tapi juga karena makanannya,” ucapnya kemudian menyebut tak sabaran makan pempek asli Palembang.
Mengenai sungai, terang Marie, pengalamannya tinggal di Shanghai, sungai menjadikan kota lebih indah dan kota lebih tertata, bukan hanya soal wisata tapi berimbas pada niaga dan kesejahteraan. “Saya dukung Visit Musi 2008, semua orang sudah tahu bahwa Sungai Musi adalah ciri khas di sini. Tapi bagaimana mengangkatnya lebih luas, siapa tahu dikatakan Denis of Indonesia. Silakan, saya dukung semuanya,” paparnya.
Sebelumnya, Mendag bersama Walikota dan rombongan disuguhi dengan fashion show dari Zainal Songket dan Busana Tria. Hadir pada kesempatan itu Sekda Sumsel H. Musyrif Suwardi, para asisten, kepala dinas/badan/kantor dan instansi lainnya. Bahkan, sebelum itu Menteri sempat mengunjungi Zainal Songket di 35 Ilir, ke Pasar Induk dan Retil Jakabaring, ke RM Sri Melayu, juga ke lokasi Penas PNI di Sembawa.
Walikota Eddy Santana Putra berharap banyak kepada Mendag untuk membantu pembangunan dan pengembangan 25 pasar tradisional di Kota Palembang. “Kalau membangun pasar baru itu mudah. Tapi, yang sulit mengembangkan pasar tradisional menjadi pasar yang berkonsep modern, seperti di Pasar Bumi Serpong Damai (BSD) Jakarta.”
Berbagai penghasilan Sumber Daya Alam (SDA) terbesar ada di Sumsel, dan sebagian besar dikelola di Palembang. Eddy mencontohkan, baru-baru ini diresmikan pabrik karet terbesar di Indonesia dengan kemampuan produksi 800.000 ton per tahun, tentu dengan kualitas yang bagus. Dari 22 industri karet di Sumsel sebanyak 14 industri ada di Palembang.
Selain itu, batubara di Sumsel merupakan cadangan nasional dengan persentase 40 persen. “Yang lewat Palembang sekitar 2 juta ton, sementara yang lewat Lampung 8 juta ton. Untuk Palembang sebenarnya potensinya masih banyak, tapi masih terbatas dengan transportasi ketera api yang bagus, kuat, dengan jumlah gerbong yang banyak. Nantinya, kami akan sampaikan semua usulan-usulan Palembang secara tertulis,” papar Eddy.
Eddy juga menerankan, bahwa konsentrasi 91 kota peserta Apeksi (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) adalah untuk menyejahterakan masyarakat di perkotaan. “Bila masyarakat di perkotaan sudah sejahtera, berarti 60 persen penduduk Indonesia sejahtara. Sebab, 60 persen warga itu terkonsentrasi di perkotaan,” imbuhnya.
Kota Palembang, terang Eddy, terus memacu semangat untuk membangun bersama masyarakat. “Termasuk tidak ketinggalan menyediakan akses Palembang-Singapura dengan pesawat Silk Air, dan Palembang-Kuala Lumpur dengan pesawat AirAsia. Saat ini terbang empat kali seminggu. Diharapkan, dengan lancarnya akses itu, bisa menjadi promosi tersendiri bagi Palembang. Bukan hanya warga Palembang ke Singapura dan Malaysia untuk berobat dan jalan-jalan, tetapi ke depannya warga Singapura dan Malaysia kita rangsang untuk datang ke Palembang,” jelasnya.
Sumber : www.sumeks.co.id Kredit foto : nalarekonomi.blogspot.com