Selasa, 18 Agustus 2026 |Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
3.887
Kemarin
:
19.117
Minggu kemarin
:
179.363
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
12 juli 2007 04:14
Kampar Belum Miliki Balai Adat Kabupaten
Bangkinang- Sebagai negeri yang memegang teguh adat basandi syara, syara basandi kitabullah, Kabupaten Kampar masih belum memiliki balai adat kabupaten yang representatif sebagai balai pertemuan para ninik mamak se-Kabupaten Kampar, Riau.
Hal itu diungkapkan Ketua Lembaga Adat Kampar (LAK) H. Aliar Syam, SH. kepada Bupati Kampar Drs. H. Burhanuddin Husin, MM, dalam acara penyerahan secara simbolis insentif ninik mamak di Aula Kantor Bupati Kampar, Senin (9/7).
Untuk membicarakan tentang adat Kampar dan segala persoalan yang terjadi terkait dengan adat, hingga saat ini belum ada balai khusus bagi para ninik mamak untuk berkumpul bermusyawarah. Menyikapi hal ini, pembangunan balai adat kabupaten merupakan keperluan yang amat krusial bagi pembinaan adat istiadat di Kabupaten Kampar pada masa sekarang dan akan datang.
Gayung bersambut, pucuk dicinta ulam pun tiba, Bupati Kampar langsung menanggapi hal itu bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) berencana akan membangun balai adat kabupaten pada tahun anggaran 2008 mendatang. Balai adat tersebut, menurut bupati, akan dibangun di atas lahan yang representatif sehingga dapat menjadi simbol negeri Kabupaten Kampar yang terkenal dengan adat istiadatnya.
Untuk persiapan pembangunan balai adat tersebut, saat ini Dinas Perhubungan Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Kampar sedang melakukan persiapan untuk pelaksanaan festival seni budaya Kampar dan seminar adat Kabupaten Kampar. Dalam seminar tersebut akan dibahas sejarah berdirinya Kabupaten Kampar dan juga dimusyawarahkan bagaimana bentuk dari Balai Adat Kabupaten Kampar.
Pembicaraan mengenai bentuk balai adat yang akan dibangun tersebut dinilai amat penting karena jangan sampai terjadi, rumah salosai panokok babunyi, artinya begitu pembangunan selesai, kemudian baru datang kritik-kritik dari berbagai pihak. Untuk itu sebelum dibangun, akan dimusyawarahkan dulu bentuk balai adat yang dibangun. ”Saya juga sudah instruksikan Disbudpar untuk mencari konsultan yang dapat mendisain bentuk balai adat tersebut,” jelas bupati.
Sumber : www.riaupos.com Kredit foto : www.riau.go.id