Close
 
Kamis, 14 Mei 2026   |   Jum'ah, 27 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.521
Hari ini : 18.908
Kemarin : 35.104
Minggu kemarin : 209.627
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

01 april 2009 04:30

Kembali Berguru pada Anre`gurutta Ambo Dalle

Kembali Berguru pada Anre`gurutta Ambo Dalle

Yogyakarta, MelayuOnline.com - Bagi masyarakat Bugis, siapa yang tidak mengenal Anre‘gurutta Ambo Dalle, atau yang biasa disebut dengan Gurutta? Anre‘gurutta Ambo Dalle merupakan salah seorang pemuka agama yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat Bugis, namun sangat sedikit dokumentasi mengenai jejak tokoh yang meninggal pada tahun 1996 ini. Sebutan Anre‘gurutta sendiri memiliki arti ‘maha guru kami‘. Melihat kenyataan minimnya dokumentasi mengenai sang Maha Guru,  H. M. Nasruddin Anshoriy Ch merasa terpanggil untuk merekam dan menuliskannya ke dalam buku yang bertajuk Anre‘gurutta Ambo Dalle: Maha Guru dari Bumi Bugis.

“Apa yang ada dalam buku ini, merupakan hasil penelitian saya selama delapan bulan, di Sulawesi Selatan, dan tinggal bersama Gurutta,” ujar Nasruddin dalam acara bedah bukunya pada Selasa siang (31/03) di Gedung Teatrikal, Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pada acara tersebut, turut hadir sebagai panelis Dr. Khairuddin, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang juga murid Anre‘gurutta Ambo Dalle, dan Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lebih lanjut, Nasruddin memaparkan bahwa ada tiga hal yang menjadi kekuatan utama dari Gurutta ini, yakni silahturahim, pendidikan, dan dakwah. Ketiga hal inilah, yang menurut Nasruddin, menjadikan Gurutta disegani dan dihormati oleh masyarakat.

Sementara itu, Choiruddin melihat bahwa gurunya tersebut merupakan sosok yang telah menjadi milik publik. “Sejak punya pesantren sendiri, beliau sudah tidak lagi dimiliki oleh keluarganya, tetapi menjadi milik publik,” tuturnya. Hal ini, masih menurut Choiruddin, terlihat dari alokasi waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk berdakwah dan mengajar, dibandingkan berkumpul bersama keluarga.

Selain mencurahkan hampir seluruh waktunya bagi masyarakat, menurut Prof. Heddy ada tiga nilai yang dapat diteladani dari Gurutta, yakni rendah hati, berbeda pendapat dengan cara yang halus, dan mau belajar dari siapa saja. “Tiga hal ini, sebenarnya sangat jarang dimiliki oleh masyarakat setempat di masa tersebut. Namun, Gurutta sudah mampu melakukan pendobrakan budaya di jamannya,” urai guru besar yang juga pernah melakukan penelitian di Sulawesi Selatan ini.

Kerendahan hati, kehalusan beda pendapat, dan keinginan untuk belajar dengan siapapun, sudah seharusnya kembali diturunkan kepada generasi saat ini. Terutama, kepada para calon pemimpin bangsa yang tengah berlomba di ajang Pemilu.

(Des Christy/brt/40/03-09)


Dibaca : 2.710 kali.

Tuliskan komentar Anda !