Close
 
Jumat, 29 Agustus 2014   |   Sabtu, 3 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 929
Hari ini : 9.258
Kemarin : 20.124
Minggu kemarin : 150.178
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.067.381
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

18 april 2009 03:05

Sumut Barometer Keharmonisan Antar Etnis di Indonesia

Sumut Barometer Keharmonisan Antar Etnis di Indonesia

Medan, Sumatra Utara - Hubungan antar etnis/agama yang diakui cukup harmonis di Sumatra Utara (Sumut), dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam menerapkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Antropolog Universitas Sumatra Utara (USU), Dr. Fikarwin Zuska, di Medan, mengatakan, hubungan harmonis antar kelompok etnis di Sumut, tidak lain karena konflik fisik antar kelompok etnis di daerah itu yang sangat multi etnis ini sangat jarang terjadi.

Walau beberapa puluh tahun lalu pernah ada konflik bernuansa kesukuan di daerah itu, misalnya revolusi sosial 1940-an di Sumatra Timur atau perang Par Utara-Selatan di Sihepeng tahun 1957, tetapi peristiwa itu tidak pernah meluas dan berkepanjangan apalagi diwariskan.

Fenomena inilah yang kemudian diterjemahkan bahwa sentimen atau loyalitas kesukuan, termasuk di dalamnya agama, asal daerah, dan bahasa tidak cukup kuat dijadikan alat oleh orang-orang tertentu untuk menggerakkan individu-individu menyerang secara fisik individu dari etnis berbeda. "Berbagai konflik yang pernah terjadi itu selalu dapat dilokalisir menjadi konflik individual, bukan suku, agama, maupun daerah asal. Di Sumut sendiri ada beberapa etnis di antaranya Batak, Melayu, Mandailing, Karo, Simalungun dan Nias," katanya.

Kemampuan masyarakat Sumut untuk melokalisir benturan-benturan antar individu berlainan kelompok di dalam berbagai kancah sosial, inilah sebenarnya yang patut dicatat. Kemampuan ini bukan merefleksikan bahwa kesetiaan primordial dan rasa hormat yang kuat pada kelompok primordial, makanya orang orang di Sumut tidak mau membawa-bawa kelompok etnisnya untuk dibenturkan atau berbenturan dengan kelompok etnis lain. "Karena hasilnya hanya rugi, `kalah jadi abu, menang jadi arang`. Lagi pula komposisi penduduk berdasarkan kelompok etnis di Sumut jumlahnya relatif berimbang sehingga membuat berbagai pihak berpikir lebih panjang untuk menyerang kelompok lain," katanya. (amr/ann)

Sumber: http://www.waspada.co.id
Kredit Foto: http://www.jakartaphotoclub.com


Dibaca : 3.674 kali.

Tuliskan komentar Anda !