Close
 
Jumat, 24 Oktober 2014   |   Sabtu, 29 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.379
Hari ini : 12.309
Kemarin : 19.177
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.267.058
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 april 2009 03:15

Suharjo Hadim, Melestarikan Tanjidor di Palembang

Suharjo Hadim, Melestarikan Tanjidor di Palembang

Palembang, Sumsel - Musik tradisional tanjidor memiliki eksistensi sejarah yang cukup lama di Kota Palembang dan di berbagai daerah Sumatera Selatan lainnya. Jenis musik yang menggabungkan aliran musik pukul dan musik tiup ini juga sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat, terutama dalam memeriahkan sejumlah even seperti pernikahan, sunatan, dan hajatan rakyat lainnya.

Suharjo Hadim (50) merupakan salah satu seniman tanjidor yang selalu setia melestarikan dan menjaga nilai-nilai tradisi aliran musik tersebut. Hadim, panggilan akrab pria kelahiran Palembang, 11 Januari 1959, ini, merupakan sosok yang semakin lekat mengenalkan musik tanjidor sebagai pendamping hajatan masyarakat. ”Di Kota Palembang ini, pelaku musik atau seniman tanjidor bersaing ketat dengan pelaku musik organ tunggal. Dua jenis musik inilah yang kerap hadir di masyarakat, memeriahkan hajatan mereka,” katanya, Minggu (19/4) di Palembang.

Sejak musik organ tunggal hadir pada era 1990-an sampai sekarang, Suharjo terus mengkritisi keberadaannya. Menurut dia, bukan jenis musiknya yang dikritik, tetapi nuansa dan lingkup musik organ tunggal yang kerap disalahgunakan sebagai ajang penyaluran narkoba, seperti ineks dan alkohol.

Di Palembang, memang bukan hal yang rahasia lagi bahwa musik organ tunggal kerap dijadikan ajang pelampiasan anak muda yang sedang mabuk narkoba. Oleh karena itu, Suharjo punya tekad kuat tetap melestarikan musik tanjidor sebagai pencegah ekspresi negatif anak muda sekaligus melestarikan musik tradisional tersebut.

”Saya lalu mendekati beberapa tokoh masyarakat di Palembang. Hasilnya, ada beberapa kampung di Palembang yang mendukung niat kami,” kata pria yang hanya lulus SMP dan sudah menggeluti seni tanjidor sejak 20 tahun silam itu. Dia mencontohkan tokoh masyarakat di Kampung Muaro, Palembang, yang memiliki kesepakatan bahwa setiap ada hajatan kampung harus menggunakan seni tanjidor dan dilarang memainkan organ tunggal. Selain itu, beberapa kelurahan lain juga berniat menerapkan hal serupa.

Di Palembang dan kota-kota lain, seni tanjidor ini biasanya dimainkan secara berkelompok. Dalam kelompok yang besar dan lengkap, jenis alat musik yang digunakan antara lain terompet, trombon, perkusi, drum, bas, harmonika, dan trambolin. Jenis lagu yang dimainkan juga bisa bervariasi, mulai dari tembang kenangan, lagu-lagu wajib perjuangan, pop, rock, sampai dangdut.

Suharjo mengatakan, pada masa mendatang dia memiliki keinginan agar kesenian tanjidor ini diapresiasi pemerintah dan pemegang kebijakan terkait. Alasannya, sampai sekarang masih banyak seniman tanjidor yang sudah puluhan tahun menggeluti seni ini, tetapi belum bisa mencapai taraf kehidupan yang layak. Dia hanya ingin pemerintah memberikan penghargaan layak bagi para pelaku seni tersebut. (ONI)

Sumber: http://cetak.kompas.com
Kredit Foto: http://www.denieksukarya.com


Dibaca : 10.419 kali.

Tuliskan komentar Anda !