Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
24 april 2009 03:15
Farish A. Noor: Sebagai Nation-State, Malaysia dalam Bahaya
Yogyakarta, MelayuOnline.com -Malaysia merupakan salah satu contoh negara yang berhasil mengembangkan politik identitasnya. Setiap etnisnya mempunyai ruang yang cukup luas untuk mengembangkan dan memperkuat identitas kelompoknya. Namun, keberhasilan dalam mengembangkan politik identitas tersebut kurang diimbangi dengan pembangunan kesadaran nasionalisme, sehingga keberhasilan mengembangkan politik identitas dalam jangka panjang dapat menjadi ancaman terhadap keberlangsungan Malaysia sebagai nation-state.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Dr. Farish A. Noor dalam kuliah umum “Politik Identitas dan Demokratisasi di Malaysia” yang diadakan oleh Pusat Sudi Sosial Asia Tenggara, di Ruang 202 Gedung PAU Universitas Gadjah Mada, Kamis (23 April 2009).
Menurut Farish menguatnya politik identitas di Malaysia merupakan ancaman terhadap keberlangsungan demokrasi di negara tersebut. Hal tersebut terjadi karena politik identitas tidak dikembangkan dalam bingkai nation state. Setiap etnis di Malaysia selalu berjuang untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Mereka enggan untuk membuka ruang-ruang komunikasi dengan pihak lain.
Kondisi tersebut, lanjut Farish, terjadi karena politik identitas di Malaysia dikembangkan dalam bingkai etnis, bahasa, dan agama, bukan dalam bingkai Malaysia sebagai sebuah negara. “Saya kira kaum elit sangat sadar bahwa politik identitas yang berkembang saat ini sangat berbahaya terhadap keberlangsungan Malaysia sebagai nation state,” ungkap peneliti Rajaratnam School of International Studies Nanyang Technological University of Singapore ini.
Lebih lanjut Farish mengatakan bahwa untuk menghindari dampak buruk dari politik identitas yang berkembang saat ini, masyarakat Malaysia harus segera merumuskan identitas nasionalnya. “Saat ini yang harus dilakukan oleh masyarakat Malaysia adalah merumuskan identitas nasional yang bisa dishare dan menjadi kebanggaan semua masyarakat Malaysia tanpa dibatasi oleh etnis, bahasa, dan agama,” kata Farish mengakhiri diskusi.