Selasa, 18 Agustus 2026 |Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
3.852
Kemarin
:
19.117
Minggu kemarin
:
179.363
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 juli 2007 10:44
DR Surin Pitsuwan, Menjembatani Timur-Barat dari Pesantren
Surin menjadi sosok penerobos keterbatasan akses warga muslim di wilayah Selatan Thailand. Putra pondok bantan (pesantren) yang menembus dunia.
KEMENTERIAN Luar Negeri Thailand telah menunjuk Dr Surin Pitsuwan sebagai kandidat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) 2008–2013. Nama Surin telah diajukan dalam pertemuan seluruh Menteri Luar Negeri (Menlu) pada akhir bulan ini di Manila. Surin,58,yang akan dikukuhkan secara resmi sebagai Sekjen ASEAN pada konferensi tingkat tinggi (KTT) di Singapura pada 19–21 November 2007, sadar bahwa tantangan di masa depan tidak ringan.
”ASEAN menghadapi kompetisi sengit dan tekanan dari dunia luar. Kita perlu banyak berpikir ulang, membenahi kelengkapan, dan menguatkan organisasi untuk menghadapi tantangan besar,” ujar Surin yang akan memimpin organisasi beranggotakan Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia,Myanmar,Filipina, Singapura,Thailand, dan Vietnam ini. Kolumnis aktif di National Review dan Bangkok Post pada 1980-an itu menandaskan bahwa saat ini warga ASEAN memiliki banyak harapan pada masa depan organisasi tersebut.Karena beragam harapan itulah ASEAN akan memiliki piagam konstitusi untuk pertama kali dalam empat dekade berdiri.
”Jika saya dapat menjadi alat untuk membawa aspirasi tersebut ke depan, ini akan menjadi tantangan bagi saya,” papar Surin yang akan menggantikan Sekjen ASEAN saat ini,Ong Keng Yong dari Singapura, pada 1 Januari 2008. Ong Keng Yong menyambut kandidat penggantinya, Surin. Dia yakin ASEAN akan lebih baik di bawah kepemimpinan Surin. ”Thailand telah memutuskan. Dia (Surin) memiliki kemampuan dan kapasitas yang tidak diragukan untuk mendorong peran ASEAN di masa depan,”kata Ong Keng Yong. ”Demi tata dunia baru, Sekjen ASEAN yang baru perlu memiliki kemampuan berbuat di tingkat regional dan internasional.
Surin telah menunjukkan latar belakang aktivitas yang hebat.Saya sangat berharap dia memegang jabatan ini dan kami akan menyambutnya,” tambah Yong. Mantan Menteri Luar Negeri Thailand 1997–2001 di bawah pemerintahan Perdana Menteri (PM) Chuan Leekpai itu memang tak asal ditunjuk sebagai kandidat Sekjen ASEAN. Surin memiliki lebih dari cukup segala kualifikasi yang diperlukan untuk mengemban tanggung jawab besar tersebut. Tidak hanya kawasan ASEAN, dunia internasional juga telah mengenal Surin. Alumnus berpredikat cumlaude dari Thammasart University,Thailand, itu telah terjun di berbagai aktivitas perdamaian.
Surin yang dikenal sebagai pakar resolusi konflik dan civil society itu dikenal sebagai penganjur dialog antarkeyakinan. Surin juga yang menjadi pendorong demokrasi di negara Thailand yang didominasi militer. Surin pula yang selama ini menjadikan ASEAN sebagai organisasi yang disegani di kawasan lain. Bersama jajaran menlu di ASEAN, Surin telah mendorong dibukanya dialog antara ASEAN dengan China, Korea Selatan (Korsel), Korea Utara,Australia, Uni Eropa, Jepang, India, Selandia Baru, Kanada, dan Rusia.
Meski demikian, Surin sadar bahwa masih banyak yang harus dibenahi dalam tubuh ASEAN. ”Kita selama ini sadar masih termarginalisasi, diabaikan,dan hanya mendapat perhatian kecil,” ujarnya. Dengan kondisi ASEAN seperti itu, Surin berharap organisasi kawasan dengan populasi 500 juta orang dari 10 negara anggotanya itu dapat meningkatkan kualitasnya. Sebagai seorang muslim moderat dan anggota partai tertua di Thailand, Partai Demokrat, Surin dianggap menjadi jembatan antara Barat dan Timur. Sebutan untuknya tersebut bukan sekadar slogan,namun telah menjadi bagian dari aktivitas dan perjalanan hidupnya selama ini.
Sosok intelektual muslim itu tumbuh besar di ”pondok bantan” atau pondok pesantren di negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.Pondok bantan banyak ditemui di kawasan provinsi selatan Thailand yang selama ini diguncang kekerasan berdarah antara militer dan kelompok perlawanan. Surin mengaku mengenyam pendidikan pondok di Ma’had Misbahuddin (Obor Islam) atau Prateepsasana Islamic School,800 kilometer selatan Bangkok. Pondok itu didirikan kakeknya bersama sejumlah pelajar muslim Thailand setelah pulang dari Mekkah, 1940-an.
Awalnya hanya ada 50 murid,namun kini telah ada 1.361 murid yang datang dari berbagai provinsi di Thailand, termasuk Provinsi Krabi dan Songkhla. Menurut Surin,komitmen keislamannya ditempa di pondok tersebut. ”Pelajar perlu dididik dalam lingkungan religius yang komprehensif. Namun masalahnya ialah bagaimana menyiapkan mereka menghadapi tantangan modernisasi, sementara keyakinan yang ditanamkan orangtua terhadap anak tidak luntur,”jelas Surin yang tetap hangat dan energik itu. Surin menjelaskan, dirinya merupakan bagian dari 2,5 juta muslim di Thailand selatan yang berjuang menghadapi perubahan politik, sosial, dan ekonomi di negerinya dan dunia.
Surin pun menjadi salah satu pelopor menerobos keterbatasan akses yang selama ini dimiliki muslim untuk masuk ke kancah politik nasional dan internasional. Setelah mendapat dasar agama yang kokoh di pondok,Surin melanjutkan kuliah di Thammasart University, Thailand. Pada 1972, dia lulus kuliah ilmu politik dari Claremont Men’s College, California, dengan beasiswa dari Ford Foundation. Surin kemudian menjadi peneliti di Thai Studies Institute dan Ford Foundation antara 1977- –1980. Akhirnya, pada 1982, Surin menerima PhD dari Universitas Harvard. Surin kemudian bekerja di kantor anggota Kongres perempuan AS,Geraldine A Ferraro. Kerinduan terhadap Tanah Air membawanya kembali ke Thailand dan terpilih sebagai anggota parlemen pada 1986.Setelah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri pada 1992–1995, Surin terpilih sebagai Menteri Luar Negeri Thailand 1997–2001.
Kini, meski memiliki jadwal yang padat dan menjadi publik figur, Surin tetap dekat dengan lingkungan pondok yang telah membesarkannya. Bahkan, Surin menjadi tuan rumah bagi Perdana Menteri Thailand Surayud Chulanont yang turut hadir merayakan peringatan ulang tahun ke-66 pondok Ma’had Misbahuddin. ”Dia (PM Surayud) tertegun ketika melangkah masuk ke kompleks pondok. Dia mengira masuk ke sebuah masjid kecil dan tidak mengira melihat gedung seindah dan semodern ini,”papar Surin bangga. Berkat Surin, gedung pondok kakeknya telah dibangun dan diperluas dengan bantuan dari Islamic Development Bank,Emir of Kuwait, dan pengusaha dari Asia Barat. Surin mendorong pembangunan pondok pesantren tersebut karena dia yakin bahwa pendidikan akan menjadi salah satu kunci untuk mengakhiri konflik di Thailand selatan yang telah menewaskan ribuan orang. Menurut Surin, kesuksesan penanganan konflik di selatan tergantung pada seberapa besar peran seluruh jajaran pejabat untuk memahami kompleksitas masalah yang ada. (syarifudin/berbagai sumber)