Close
 
Minggu, 20 April 2014   |   Isnain, 19 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 1.514
Hari ini : 11.464
Kemarin : 16.609
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.615.738
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

13 mei 2009 02:15

Musik Tradisional Lampung Bisa Menasional

Musik Tradisional Lampung Bisa Menasional

Bandar Lampung - Musik tradisional Lampung yang dikenal dengan nama bambu cetik atau gamolan pekhing bisa menasional bila dikemas dan dipromosikan dengan baik oleh masyarakat dan dinas terkait karena musik ini tidak kalah menarik dengan musik gamelan dari Jawa ataupun Bali. Rasa optimis tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Bandar Lampung H. Kherlani saat membuka Pelatihan Gamolan Pekhing yang digelar Penggiat Gomolan Pekhing Lampung, di Jalan Cendana No. 12, Rawa Laut, Bandar Lampung.

Pelatihan yang diikuti 20 guru kesenian sekolah dasar (SD) Kota Bandar Lampung itu dihadiri Kabid Kebudayaan dan Kesenian Dinas Pariwisata Lampung Drs. Suwandi, Kabid Pendidikan Nonformal dan Informal Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Drs. Marsitho, Pembina Penggiat Gamolan Pekhing Lampung Hj. Dra May Sari Berty Mogni.

Kherlani mengungkapkan, gamolan cetik yang terbuat dari bambu tersebut merupakan salah satu hasil budaya dan karya seni masyarakat Lampung yang harus dipelajari, dikembangkan, dilestarikan, dipasarkan, dan menjadi komoditas yang bisa dijual untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia mencontohkan, Bali tidak memiliki sumber daya alam yang menonjol namun, di Pulau Dewata ini daya pesona luar biasa baik pantai, budaya, serta ritual keagamaan. Budaya tersebut tetap langgeng dan mampu menarik jutaan turis baik lokal maupun mancanegara. Dengan pesona tersebut mampu mendatangkan banyak devisa sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lampung juga memiliki laut dan kebudayaan yang tak kalah menariknya. Namun sejauh ini belum bisa “dijual” karena rakyat belum bergerak ke arah sana untuk mengembangkan hasil kebudayaan sebagai sebuah komoditi. Untuk itu, berangkat dari hal, Kherlani mengajak seluruh elemen masyarakat Lampung agar tergerak hatinya untuk berupaya maksimal mempromosikan daerah ini. Salah satunya dengan terus-menerus mengali potensi budaya menjadi komoditas yang bisa menghasilkan devisa daerah. Seperti gamolan cetik, ia mengajak seluruh kepala sekolah terus-menerus memperkenalkan dan mengembangkan kesenian ini kepada anak didik.

Sementara Kabid Pendidikan Nonformal dan Informal Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Drs. Marsitho optimistis gamolan cetik bisa berkembang hingga tingkat nasional bahkan go internasional. Karena laras cetik yang dinamakan Laras Pelog Enam Nada, mempunyai laras yang unik dan berbeda dengan gamelan yang ada di Indonesia. "Kami juga berupaya maksimal mengenalkan dan menyosialisasikan alat musik khas Lampung kepada seluruh mesyarakat. Dan mengenalkan kepada sekolah-sekolah. Hal ini sangat efektif guna membangkitkan minat generasi muda mencintai sekaligus melestarikan kesenian tradisional," kata dia. (n AST/S-1)

Sumber: http://www.lampungpost.com
Kredit Foto: http://www.flickr.com/photos/maes2rah/3013390882/


Dibaca : 10.782 kali.

Tuliskan komentar Anda !