Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
13 mei 2009 03:15
Seniman Wayang Orang Keluhkan Biaya Gedung
Jakarta - Seniman wayang orang yang tergabung dalam Paguyuban Wayang Orang Bharata mengeluhkan adanya biaya sewa gedung di gedung pertunjukan Wayang Orang Bharata, di kawasan Senen, Jakarta, yang selama ini menjadi tempat mereka melakukan aktivitas berkesenian. "Ini yang kami keluhkan. Kalau seniman wayang orang Bharata sendiri disuruh bayar sewa, jelas enggak masuk akal," kata Soeparmo, Penasehat Yayasan Paguyuban Wayang Orang Bharata, ketika ditemui di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Minggu (10/5).
Keluhan tersebut diutarakan terkait adanya Surat Keputusan (SK) Pemda DKI No 28 tahun 2006, yang salah satu poin di dalamnya menyangkut biaya sewa untuk penggunaan gedung kesenian. "Gedung Wayang Orang Bharata dengan Gedung Kesenian yang di Pasar Baru (GKJ) itu, jelas berbeda. Di sana orang hanya menyewa gedung untuk pentas, tapi di sini ada komunitasnya sendiri. Jadi, kalau Wayang Orang Bharata dibebankan biaya sewa juga, itu jelas kebijakan yang tidak tepat," papar Wakil Ketua Dewan Pendidikan DKI ini.
Marsam Mulyo Atmojo, Pimpinan Paguyuban Wayang Orang Bharata, membenarkan hal tersebut. Dengan diberlakukannya SK tersebut, mau tak mau berdampak pada mengendurnya aktivitas berkesenian Wayang Orang Bharata. "Sekarang, pementasan hanya sekali dalam seminggu. Untuk satu kali pertunjukan dibebankan biaya sewa Rp 6 juta," katanya.
Tarif tersebut juga berlaku untuk penggunaan gedung pada saat latihan. "Untuk sekali latihan biaya sewa gedungnya sebesar Rp 700 ribu. uang yang dikeluarkan itu belum termasuk biaya produksi dan sebagainya," ujar Marsam. "Uang itu seharusnya dikembalikan kepada pejuang budaya," sahut Soeparmo. Oleh karena itu, pihaknya meminta Dinas Kebudayan Pemda DKI untuk meninjau ulang dan mencabut keputusan tersebut sehingga tidak membebani seniman yang berjuang mempertahankan dan melestarikan budaya adiluhung.
Di era kekinian, di mana kebudayaan tradisional yang mulai terpinggirkan, kesenian tradisional Wayang Orang Bharata, justru masih memperlihatkan eksistensinya. "Salah satu kendala yang dihadapi sekarang adalah minimnya minta generasi muda mempelajarinya. Dari bahasa saja sudah tidak nyambung. Anak dari Jawa yang di Jakarta sudah tak bisa bahasa Jawa," terang Soeparmo.
Di era pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, paguyuban Wayang Orang Bharata, diadopsi oleh pemda sebagai pilot project wayang orang di Jakarta. "Itu dilakukan Ali Sadikin setelah kelompok wayang orang Pancamurti bubar pada tahun 1972. Mereka ada sejak tahun 1963," terang Soeparmo. Sejak itulah keberadaan Wayang Orang Bharata terus dipertahankan, dengan segala keterbatasan yang ada. "Banyak kendala yang dihadapi dari mulai minimnya penonton, kurangnya minat generasi muda mempelajari kesenian wayang orang, sampai beban produksi seperti sekarang ini," kata Soeparmo.
Menurutnya, usaha untuk melestarikan kesenian ini salah satunya bagaiamana wayang orangbisa pentas tiap hari, tapidengan kualitas yang baik. "Paling tidak 3 atau 4 kali seminggu, sehingga kesejahteraan pemain terjamin. Untuk bisa melestarikan warisan budaya adiluhung ini, salah satunya ya bisa memantaskannya," katanya. (Rien Kuntari)