Close
 
Senin, 20 April 2026   |   Tsulasa', 3 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 604
Hari ini : 13.339
Kemarin : 26.672
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 mei 2009 02:15

Wayang Golek Betawi Kurang Diperhatikan

Wayang Golek Betawi Kurang Diperhatikan

Jakarta – Aset budaya wayang golek Betawi kini kurang memperoleh perhatian dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. "Gabungan lenong Betawi dan wayang golek ini tidak pernah memperoleh dukungan dana dari Pemprov DKI untuk pengembangan," kata Tizar Purbaya, seniman dan pencipta wayang golek Betawi itu, di Jakarta, Selasa (19/5). Tizar yang lebih dari 30 tahun menggeluti seni pewayangan itu menginginkan agar dukungan tidak berupa dana saja namun lebih kepada pelestarian wayang golek Betawi. "Pemerintah seharusnya ikut melestarikan kebudayaan asli Indonesia," kata dalang wayang golek Betawi itu. "Jangan kalau sudah mau punah baru pada ribut," tambahnya.

Menurut pria berdarah Betawi itu, hanya kesenian tertentu seperti tari kreasi baru saja yang diberi kesempatan untuk berkembang, terutama untuk pentas ke luar negeri. Pementasan wayang golek Betawi, kata dia, selalu menggunakan biaya sendiri, kecuali diundang oleh pihak penyelenggara. "Itu pun kelompok kami masih "kerja bakti" untuk menutup kekurangan biaya transportasi dan akomodasi," kata Tizar yang menjadi ketua kelompok wayang golek Betawi itu.

"Seharusnya Pemprov DKI peka terhadap usaha kami untuk  mengenalkan budaya Betawi kepada masyarakat luas melalui wayang," kata Tizar yang pernah pentas di Jepang, Belanda dan beberapa negara di Eropa lainnya. Ia berharap pemerintah melalui Dinas Pariwisata tidak berpaling dari putra-putra Betawi yang kreatif dan selalu membawa citra baik budaya Betawi.

Menurut Tizar yang mempunyai 7000 lebih koleksi wayang golek itu, wayang Betawi yang dia ciptakan lebih berkarakter bila dibandingkan dengan golek sejenis. Dia pun menambahkan berbagai trik agar wayang Betawi terkesan lebih hidup. Misalnya karakter Haji Manong yang bisa merokok dan mengeluarkan asap, lalu karakter orang Kompeni yang mengeluarkan darah saat kena senjata tajam, dan masih banyak lagi. "Pokoknya berbeda dengan golek lainnya," kata Tizar.

Cerita yang ia bawakan, kata Tizar, tidak berasal dari kisah Ramayana atau Mahabharata namun berasal dari legenda-legenda asli Betawi, seperti Si Jampang, Si Pitung, Si Manis Jembatan Ancol yang lebih dikenal oleh masyarakat Jakarta. (kom/ant)

Sumber: http://oase.kompas.com
Kredit Foto: http://antoys.wordpress.com


Dibaca : 4.493 kali.

Tuliskan komentar Anda !