Close
 
Rabu, 10 Juni 2026   |   Khamis, 24 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 650
Hari ini : 57.921
Kemarin : 25.426
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

01 juni 2009 01:15

Tiga Negara Ramaikan Pameran Kaligrafi Cina

Tiga Negara Ramaikan Pameran Kaligrafi Cina

Semarang, Jawa Tengah - Para seniman dari tiga negara turut serta dalam Pameran Kaligrafi dan Lukisan Cina di Plasa Semarang, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, yang akan berlangsung selama dua hari hingga Minggu (31/5). Menurut ketua penyelenggara, Hidayat Purnama, seniman-seniman kaligrafi asing yang turut memamerkan karyanya berasal Cina, Singapura, dan Taiwan, sedangkan seniman lokal berasal dari empat kota besar di Indonesia, yakni Semarang, Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

Pameran tersebut menampilkan 529 karya, sebagian besar berupa kaligrafi dengan tulisan khas Cina. Selain menampilkan karya pelukis profesional dan ternama, dihadirkan pula puluhan karya pelukis pemula. Menurut Hidayat, tulisan dalam seni kaligrafi umumnya mengandung pesan moral dan kata-kata bijak yang mengajarkan orang untuk berperilaku baik. "Ada pula yang berisi pantun yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Ketua Himpunan Kaligrafi dan Seni Rupa Indonesia tersebut.

Ia mengatakan, pameran tersebut juga bertujuan untuk merangsang minat generasi muda untuk belajar seni kaligrafi dan lukisan dari budaya Cina yang memiliki filosofi tinggi. "Tulisan kaligrafi penerusnya masih sangat sedikit, sehingga perlu ada pembibitan agar seniman kaligrafi Cina di Kota Semarang bisa berkembang seperti kota besar lainnya, seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta," ujarnya.

Sementara itu, Loe Hing Tyiang, warga keturunan Tionghoa yang mengikuti pameran tersebut, mengatakan seharusnya pameran seperti itu sebaiknya digelar secara berkala mengingat minat generasi muda yang mulai berkurang. Ia mengatakan, untuk mencetak seorang seniman kaligrafi profesional harus dimulai dari usia anak-anak.

"Jika pelatihannya dilakukan saat dewasa sulit berkembang. Kita harus meniru kota-kota besar lainnya yang memiliki generasi penerus seni kaligrafi maupun lukisan Cina," ujarnya. Ia mengaku menyumbangkan beberapa karya seni kaligrafi pada pameran tersebut. "Sejak kecil, saya memang menyukai seni kaligrafi maupun lukisan khas budaya Cina," ujarnya.

Lusianawati (40), warga Semarang, juga turut menyumbangkan lukisan tentang seorang menteri dalam sejarah Cina yang disegani ratusan tahun yang lalu. "Saya bukanlah pelukis profesional, namun saya tetap belajar melukis dengan objek sejarah masa lalu bangsa Cina," ujarnya bangga karena lukisannya mendapat apresiasi dari sejumlah pengunjung. (antara)

Sumber: http://www.antara.co.id
Kredit Foto: http://matanews.com


Dibaca : 3.367 kali.

Tuliskan komentar Anda !