Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
06 juni 2009 03:25
Keluarga Besar Kesultanan Matan Menjamu Tokoh-tokoh Melayu Serantau
Ketapang, Melayuonline.com - Kesultanan Matan merupakan saksi bisu perjalanan sejarah Melayu di Ketapang, Kalimantan Barat. Sebelum bernama Matan, kerajaan ini bernama Tanjung Pura dan masyarakatnya menganut agama Hindu. Hal ini dibuktikan oleh keberadaan Patung Perunggu Hayati dan struktur bangunan candi Hindu yang terbuat dari susunan batu bata merah di Desa Negeri Baru Ketapang. Pasca Hindu, yaitu sejak abad ke-15, Islam mulai hidup dan berkembang di kawasan ini. Hal ini ditunjukkan dengan ditemukannya nisan terbuat dari andesit di pemakaman keramat sembilan yang bertarikh 1418-1423 Masehi dan bertuliskan kalimat dalam bahasa Arab “kullunafsin dzaikatul maut”.
Demikian diungkapkan Ir. Gusti Kamboja, MH., dalam silaturahim antara keluarga besar Kesultanan Matan dengan para tokoh Melayu serantau, Sabtu malam (30/05/2009). Selain keluarga besar Kesultanan Matan, acara tersebut juga dihadiri di antaranya oleh Raja Kubu Raya, Raja Sintang, Datuk Setia Amanah Huzrin Hood S.H., Ketua Majlis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat, Datuk Abang Imien Taha, Presiden Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (GAPENA), Prof. Dr. Tan Sri Dato‘ Ismail Hussein (Malaysia), Vice Chairman Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), Datuk DR. Hj. Mohd Jamil bin Mukmin, Prof. Dr. Awang dari Brunei, Dr. Saiful Nizam bin Subari dari Singapore, Tengku Mira Sinar dari Kesultanan Serdang, dan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dan Pimpinan Umum MelayuOnline.com, Mahyudin Al Mudra, SH. MM.
Dalam silaturahim yang dilaksanakan di Balairung Kesultanan Matan tersebut, Datuk Abang Imien Taha dalam sambutannya mengatakan bahwasannya orang Melayu tidak hanya yang beragama Islam, tetapi juga dapat beragama selain Islam. Pernyataan Abang Imien tersebut mendapat justifikasi historis melalui Kesultanan Matan, yang pada awalnya memang beragama Hindu.
Acara silaturahim yang begitu hangat menjadi tambah semarak dengan tampilnya Tengku Mira Sinar membawakan tarian khas Kesultanan Serdang, Serampang Duabelas. Di tengah Balairung Kesultanan Matan dan disaksikan para peserta Silaturrahim, Tengku Mira membawakan dengan apik tarian karya guru Sauti yang menceritakan sepasang anak muda yang sedang dimabuk cinta ini. ”Sungguh beruntung malam ini saya bisa menyaksikan Tari Serampang Dua Belas yang dibawakan oleh Putri Sultan Serdang,” ungkap Harun, budayawan Ketapang.
Begitu musik pengiring Tari Serampang Duabelas berhenti, masuklah para perempuan membawa nampan berisi ketupat, lauk-pauk khas Melayu Ketapang, dan buah-buahan. Makanan tersebut kemudian diletakkan berjejer, dan para peserta silaturrahim menempati posisinya masing-masing, yaitu setiap nampan untuk empat orang. Seperti inilah, menurut salah seorang peserta silaturrahim, tradisi makan bersama khas Melayu.