Selasa, 18 Agustus 2026 |Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
3.852
Kemarin
:
19.117
Minggu kemarin
:
179.363
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
29 juli 2007 05:20
Budaya Baca Al-Quran Telah Berganti dengan Sinetron
Bireuen- Seiring perkembangan zaman, aplikasi hampir seluruh nilai-nilai keagamaan di Aceh perlahan mulai memudar. Bahkan akibat perkembangan teknologi yang cukup pesat, budaya baca Al-Quran pada malam hari (seusai magrib) cenderung berganti dengan budaya menonton sinetron.
“Akibatnya budaya baca Al-Quran pada anak-anak, terutama usia dini, kini makin memudar. Padahal dulu, sudah menjadi kebudayaan Islam di Aceh, di mana seusai salat magrib, anak-anak tergiring ke balai pengajian,” kata Wagub NAD, M Nazar S.Ag, dalam sambutan yang dibacakan Asisten III Setdaprov, Drs Dermawan MM pada seminar Revitalisasi Baca Al-Quran Senin (23/7) di aula Setdakab Bireuen.
Dalam seminar yang digelar sebagai rangkaian dari pelaksanaan MTQ NAD ke-28 di Bireuen, Wagub menyatakan, dahulu di hampir semua pelosok desa dan kota, usai salat magrib cenderung terdengar lantunan Al-Quran dari rumah ke rumah.
Bahkan sebuah rumah yang tanpa bunyi bacaan Al-Quran seusai salat magrib sangat sulit ditemui. Hal itu masih dapat diresapinya karena semasa kecilnya wagub juga sebagai salah seorang anak yang selalu menjalani kebiasaan itu.
“Seiring perubahan teknologi yang demikian pesat, suasana seperti itu nyaris tak terdengar lagi. Nuansa malam telah berganti dengan keasyikan menonton sinetron. Kondisi ini pula yang cenderung mempengaruhi mental generasi muda dan kanak-kanak menjadi lebih cepat dewasa dari sepatutnya. Tak mengherankan jika saat ini ada dari generasi kita di Aceh yang tak mampu memahami bahkan membaca Al-Quran,” terang wagub.
Oleh karena itu, nilai Muhammad Nazar, seminar yang digelar dalam rangka mengisi pelaksanaan MTQ NAD ke-28 adalah suatu pertemuan yang sangat tepat sebagai upaya introspeksi guna mengembalikan nilai-nilai Islam bagi generasi muda.
Nazar juga menilai ironis terhadap kebanggaan masyarakat pada panabalan Aceh sebagai daerah Seramoe Mekkah, padahal kebanggaan itu tak perlu berlebihan karena sebagian masyarakat Aceh memang nyata tidak bisa membaca membaca Al-Quran secara baik dan benar.
“Semoga dari pelaksanaan seminar ini akan muncul rekomendasi-rekomendasi untuk mewujudkan metode-metode baru sebagai langkah yang harus ditempuh baik oleh pemerintah dan masyarakat untuk lebih membudayakan belajar membaca Al-Quran bagi semua kalangan,” harapnya.
Sumber : Analisa Kredit foto : www.sk-sungaidua.edu.my