Close
 
Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.372
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

23 juni 2009 04:23

Tradisi Bangka Mbulembule, Ungkapan Syukur dan Penolak Bala

Tradisi Bangka Mbulembule, Ungkapan Syukur dan Penolak Bala

Wakatobi, Sultra - Kabupaten Wakatobi memiliki keragaman budaya dan tradisi yang masih terpelihara hingga kini. Masyarakat daerah ini begitu mencintai dan memelihara berbagai adat kebiasaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang sejak ratusan tahun silam. Adat kebiasaan ini tak lekang digilas oleh arus globalisasi dan modernisasi. Salah satu adat kebiasaan yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Kadie Mandati Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi adalah Tradisi Bangka Mbulembule.

Menurut Nur Saleh SPd MM Pub, tokoh adat Mandati yang juga menjabat sebagai Camat Wangi-Wangi Selatan, saat ini tak ada yang dapat mengartikan secara pasti makna dari Bangka Mbulembule. Namun jika dipenggal, kata Bangka berarti perahu atau koli-koli sedangkan Mbulembelu berarti pergi. Di Kabupaten Wakatobi tradisi ini hanya dilaksanakan oleh masyarakat Mandati Besar. Disebut Mandati Besar karena masyarakat Mandati yang dulu mendiami tanah mandati, saat ini telah terbagi dalam tiga wilayah administrasi. Kelurahan Mandati I, Mandati II dan mandati III.

Pelaksanaan tradisi ini diawali dengan pertemuan para tokoh adat dan agama. Untuk menentukan hari H pelaksanaan ditetapkan setelah melihat bulan dan hari yang dianggap baik. Seminggu sebelumnya dialakukan peniupan kapupu. Terompet tradisioanal yang terbuat dari kulit kerang. Peniupan kapupu dari empat penjuru kampung merupakan pemberitahuan sekaligus undangan pada warga bahwa seminggu kedepan akan akan hajatan besar berupa Bangka Mbulembule. Biasanya paca peniupan ini diikuti dengan pembuatan kapupu dari daun kelapa yang akan terus dimainakn oleh anak-anak hingga hari pelksanaan.

Sehari sebelum acara puncak, para pemuda kampung dikumpulkan dan ditugasi mencari kayu besar dan diolah menjadi Bangka (Koli-koli). Dalam pengambilan Bangka prosesi secara adat sudah mulai dilakukan. "Dalam pengambilan bangka ini, prosesi dilakukan untuk meniatkan agar masyarakat mendaptakan kemudahan rejeki, dan dijauhkan dari segala mara bahaya," kata Nur Saleh. Bangka yang telah dibuat dihutan lalu dibawa di salah satu rumah warga. Penentuan rumah yang akan ditempati bangka ini juga tidak sembarang tetapi harus melalui pertimbangan para tokoh adat. Di tempat itu bangka dihiasi yang prosesnya tak melebihi waktu satu hari satu malam.

Keesokan harinya, bangka diisi dengan berbagai jenis hasil panen milik masyarakat. Mulai dari Kelapa, beras, ubi, jagung, talas dan jenis lainnya. Karena banykanya hasil kebun masyarakat maka bangka ini penuh sesak dengan muatan. Selain muatan dari hasil bumi bangka ini juga berisi empat patung (orang-oragan) yang biasa dugunakan masyarakat untuk mengusir burung yang akan memakan tanaman dikebun. Orang-orang ini terdiri dari satu laki-laki dewasa dan satu perempuan dewasa serta dua orang anak.

Menurut masyarakat setempat orang-orangan ini merupakan simbol dari roh jahat atau setan yang sering mengganggu manusia. Sehingga perlu buang agar tak lagi berada ditengah-tenga masyarakat. Sepanjang pelaksanan kegiatan, kita hanya akan mendengar suara Kapupu (terompet tradisonal yang terbuat dari janur). Namun terompet ini tak boleh dibunyikan lagi ketika bangka beserta isinya sudah akan dilarung ke dalam laut. Sebelum dilakukan pelarungan, bangka yang telah berisi sesak dengan segala jenis muatannya ini, diletakkan di persimpangan jalan (Oina Tooge). Tempat ini sudah ditetapkan sejak dulu. Tak ada lagi yang mengetahui sejak kapan tempat ini mulai gunakan.

Di tempat itu ribuan masyarakat berkumpul dan bersiap untuk mengawal bangka mbulembule yang akan diarak keliling kampung. Setelah warga terkumpul para tokoh adat dan agama berdiri mengelilingi bangka sementra para pemuda bersiap mengangkat bangka. Dari komando salah tokoh adat bangka diangkat dan diputar sebanyak sembilan kali diawali dengan melawan arah jarum jam dan diakhiri dengan putaran sembilan kali mengkuti arah jarum jam. Proses ini dilajutkan dengan mengarak bangka keliling kampung. Bangka ini kembali diputar seperti sebelumnya saat melewati bundaran Mandati. Dilanjutkan dengan proses pelarungan.

Pelarungan bangka beserta isinya ini disimbolkan bahwa segala bentuk keburukan yang akan menimpa dalam kampung itu telah dibuang bersama Bangka Mbulembule sehingga masyarakat dalam tahun selanjutnya akan mendapatkan keberkahan dan jauh dari mala petaka. "Kita dapat memetik nilai persatuan dan persaudaraan yang begitu tingga dari pelakksanaan tradisi ini. Dengan penuh kesadaran dan semangat persaudaraan masyarakat rela meninggalkan aktifitas untuk mensuksekan kegiatan ini," kata Nur Saleh. (Abdullah)

Sumber: http://kendariekspres.com
Kredit Foto: http://www.kabarindonesia.com


Dibaca : 3.683 kali.

Tuliskan komentar Anda !