Close
 
Jumat, 17 April 2026   |   Sabtu, 29 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 8.677
Hari ini : 105.240
Kemarin : 36.578
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

03 juli 2009 01:15

Negara, Tantangan Besar bagi Suku Laut

Negara, Tantangan Besar bagi Suku Laut

Belitung, Babel - Malang benar kisah suku laut di seluruh penjuru negeri. Tantangan terbesar mereka bukan saja berasal dari para nelayan asing yang menguras isi laut dengan kapal modern, tetapi juga negara yang tak sigap melindungi mereka dari sisi ekonomi hingga budaya. Pun demikian, dengan kondisi salah satu suku laut yang bermukim di Pulau Belitung yang memiliki sebutan suku Sawang.

Kondisi mereka menurut pengamat budaya Salim Yah dalam "Diskusi Budaya Bahari" di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Kamis (2/7), terancam oleh aksi para pencari ikan yang menggunakan bom dan potasium. Namun hal ini, menurut salah seorang penanya, bukanlah tantangan yang substansial. Sebab, tantangan terberat yang dihadapi suku laut semacam suku Sawang justru datang dari negara.

"Negara yang tak optimal melindungi wilayah laut dari eksploitasi yang dilakukan WNI maupun nelayan asing, menyebabkan suku laut telah menderita secara ekonomi. Pengelola negara yang tak paham dengan budaya suku laut telah menyebabkan adat istiadat suku laut (diberangus) oleh kelompok masyarakat lainnya dengan mengatasnamakan agama," ungkap salah satu penanya.

 Salim Yah pun sepakat. Dia mengatakan, kendati Perda untuk melindungi lingkungan kelautan sudah dibuat, tetapi pada implementasinya jauh dari yang disebut ideal. "Kalau kita melaporkan adanya pengeboman oleh para pencari ikan, aparat terkesan lamban menanganinya," ucap Salim.

Menanggapi kekurangpedulian negara atas budaya masyarakat laut seperti suku Sawang, diskusi ini merekomendasikan kebudayaan seperti upacara tradisi Muang Jong yang dilakukan oleh suku Sawang harus dilestarikan dan negara wajib melindungi pelaku upacara tradisi itu dari "pemberangus" yang mengatasnamakan agama. (Jodhi Yudono)

Sumber: http://oase.kompas.com
Kredit Foto: http://www.pbase.com/vince_r/image/61944296


Dibaca : 3.272 kali.

Tuliskan komentar Anda !