Close
 
Senin, 22 Januari 2018   |   Tsulasa', 5 Jum. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.820
Hari ini : 29.355
Kemarin : 36.291
Minggu kemarin : 311.236
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 104.229.096
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

07 juli 2009 03:00

Singapura Maju Berkat Pendidikan

Singapura Maju Berkat Pendidikan

Palu, Sulawesi Tengah - Apa rahasia Singapura sehingga menjadi salah satu negara termaju di kawasan Asia Tenggara dan bisa mengalahkan saudara-saudara tuanya di kawasan semenanjung Melayu? Salah satu jawabannya ternyata adalah kemajuan sistem pendidikan. Hal ini menjadi kesimpulan yang dirangkum oleh Abdul Basit Arsyad, kepala SMP Al-Azhar Palu yang baru saja mengikuti pelatihan kepala sekolah di Singapura.

Singapura sebagai negara yang dianggap paling maju di Asia Tenggara, hanya memiliki jarak kurang lebih 40 km dari barat ke timur, atau hanya empat kali lipat lebih kecil dari pada luas wilayah Kabupaten Parigi Moutong. Kalau dihitung dengan jumlah penduduk maka negara Singapura yang kurang lebih 5 juta jiwa masih lebih sedikit dibandingan dari jumlah penduduk propinsi Sulawesi Selatan yang lebih dari 7 juta jiwa. Jumlah penduduk yang sedikit dan jarak wilayah yang relatif kecil untuk ukuran sebuah negara bukan menjadi alasan untuk tidak maju. Singapura memulai pembangunan kekuatan dasarnya dengan modal pendidikan.

Mengutip Prof Goh Chor Boon Wakil Direktur NIE (National Institute of Education), salah satu lembaga pendidikan pemerintah terbesar di Singapura, yang mengatakan. “Kami tidak punya sumber daya alam, kami tidak punya tambang, kami hanya punya human resourses. Kalau kami tidak punya pendidikan yang baik maka kami tidak akan bertahan.” Penegasan ini, tampaknya bisa dilihat dari anggaran pendidikan Singapura kedua tertinggi setelah anggaran pertahanan. Kekuatan SDM Singapura lebih dahsyat dari sumber daya alam yang dimiliki negara lain. Kekuatan ekonomi Singapura hanya mengandalkan jasa pelabuhan udara, laut, perdagangan dan pariwisata.

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Depdiknas, mengutus 40 kepala sekolah, 40 widyaiswara, serta pengawas pendidikan, untuk dilatih di NIE. NIE adalah lembaga pendidikan di bawah struktur NTU yang mendidik para calon guru dan kepala sekolah Singapura. Selama dua minggu, peserta dari Indonesia dilatih bagaimana menjadi seorang pelatih kepala sekolah yang profesional.

Berbicara pendidikan tidak lepas dari peranan lembaga pendidikan yang ada di Singapura, di antaranya NTU (Nanyang Technology University), salah satu perguruan tinggi paling bergengsi di Asia. Kata Nanyang berasal dari bahasa Cina, yang artinya Asia Tenggara, diharapkan akan menjadi terhebat di ASEAN bahkan dunia. Tidak heran banyak mahasiswanya berasal dari berbagai negara di dunia, bahkan ada yang berasal dari Asia, Cina, Eropa, India, Australia, Amerika dan negara-negara Arab.

Berbicara mutu pendidikan pasti berbicara sekolah. Jumlah sekolah yang ada di Singapura hanya 360 buah. Bandingkan dengan jumlah sekolah SMP di Sulteng yang jumlahnya sekitar 500 buah. Setiap sekolah di Singapura baik negeri maupun swasta memiliki otonomi sendiri untuk merekrut calon guru. Dan calon guru yang lulus seleksi akan dilatih di NIE selama 6 bulan dengan biaya pemerintah. Bagi yang lulus akan diberi honor pelatihan sebesar S$ 2800 (kira2 Rp 20.400.000) bagi wanita dan S$ 3400 (kira2 Rp 24.800.000) bagi laki-laki. Honor calon guru laki-laki lebih besar karena harus mengikuti wajib militer selama 2 tahun. (radarsulteng)

Sumber: http://www.radarsulteng.com
Kredit Foto: http://www.cpgcorp.com.sg

 


Dibaca : 9.635 kali.

Tuliskan komentar Anda !