Close
 
Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.608
Hari ini : 20.379
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

12 april 2007 02:23

Pagelaran Seni Budaya Alternatif Lain Memajukan Pariwisata

Pagelaran Seni Budaya Alternatif Lain Memajukan Pariwisata
Keindahan obyek wisata di Sumatera Utara sesungguhnya tidak perlu diragukan lagi. Panorama alamnya sangat mempesona, semua pihak mengakui hal itu bahkan oleh para turis mancanegara. Daerah tujuan wisata (DTW) ini malah sudah menjadi salah satu andalan untuk menghasilkan devisa bagi negara, termasuk menambah income masyarakat sekitar yang bermuara kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

DTW yang ada di daerah ini sebut saja seperti Danau Toba, Tongging, Simarjarunjung, Tomok, Tuktuk, Berastagi dan lain-lainnya. Baik turis domestik maupun mancanegara, sangkin indahnya tak bosan-bosannya mengunjungi obyek-obyek wisata tersebut.

Makanya, dibandingkan Bali yang sekarang telah menjadi kiblat pariwisata Indonesia, sebenarnya obyek wisata di daerah ini tidaklah kalah indahnya semisal Danau Toba atau pantai-pantai indah yang ada di Pulau Nias yang juga dapat dimanfaatkan untuk olahraga berselancar.

Lantas, kenapa arus kunjungan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara tetap tidak dapat meningkat secara signifikan? Jumlahnya, menurut hemat kita, malah cenderung melempem walau tidak terlalu drastis.

Jawabannya memang boleh jadi sangat relatif. Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Seni dan Budaya sudah berupaya melakukan berbagai terobosan, tetapi prospek kepariwisataan di daerah ini terkesan masih tetap jalan di tempat.

Lihat saja, kalau tidak ada event-event penting dilaksanakan di Parapat, dapat dipastikan hotel-hotel atau rumah penginapan akan lebih sering kosong melompong. Suasana di kota turis Parapat pun, kecuali hari Minggu atau libur, bagai kota mati dan akan terlihat sepi dari kunjungan wisatawan.

Dampaknya tentu akan berpengaruh sekali terhadap berbagai sektor, termasuk para pelaku bisnis pariwisata pun akan mengeluh dengan situasi seperti ini. Di pihak lain, masyarakat sekitar pun terutama yang membuka usaha souvenir, sewa ban, cafe, speed boat dan lain sebagainya akan terkena imbas.

Kenyataan menunjukkan, para pedagang souvenir di Parapat dilaporkan saat ini banyak yang mengeluh karena sepinya pembeli/pengunjung bahkan ada yang sampai gulung tikar. Tentu hal ini tidak kita harapkan. Bisnis pariwisata pada gilirannya mestinya dapat memberi kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peluang-peluang usaha pun harusnya mampu memberi arti dan keuntungan bagi masyarakat itu sendiri.

PAGELARAN SENI BUDAYA

Kita tidak menampik, bahwa pemerintah senantiasa berupaya memajukan industri pariwisata lewat berbagai kebijakan-kebijakan yang progresif. Apakah itu melalui jasa biro travel untuk menginformasikan/mempromosikan obyek-obyek wisata di daerah ini ataupun dengan sistem jemput bola ke luar daerah pun hingga ke luar negeri.

Tetapi memang hasilnya belum begitu maksimal ditandai dengan kunjungan arus wisatawan terutama dari luar masih sangat minim. Peningkatannya tidak terlalu signifikan.

Harus kita akui, hal ini terjadi disebabkan beberapa tahun terakhir situasi di tanah air kurang kondusif untuk memberi rasa aman dan nyaman ditandai dengan peristiwa Bom Bali Jilid I dan II serta peristiwa tsunami dan bencana alam yang beruntun terjadi di Indonesia.

Imbasnya tentu memberi dampak buruk tak terkecuali terhadap arus kunjungan wisata asing. Karena bagaimanapun, wisatawan yang berkunjung ke tempat obyek-obyek wisata pastilah sangat mendambakan suasana yang aman, tenang, nyaman dan damai. Kita pun tidak memungkiri hal ini.

Dalam konteks memajukan pariwisata di Sumut dengan Danau Toba sebagai DTW andalannya, rasanya perlu dibuat suatu kebijakan dengan membuat alternatif-alternatif lain untuk menarik minat kunjungan wisatawan khususnya wisatawan asing.

Kegiatan-kegiatan atau event yang mengusung kesenian daerah agaknya perlu dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Pagelaran seni budaya daerah pasti akan memberikan nuansa lain yang sama sekali tidak ada di negeri asal para turis asing tersebut.

Dalam hal ini, kita di daerah ini memang terlambat selangkah dibandingkan seni budaya Jawa atau Bali misalnya yang sekarang telah menjadi kiblat pariwisata Indonesia yang senantiasa disuguhkan dan dipertontonkan kepada turis mancanegara.

Bali telah berhasil manggaet kunjungan wisatawan mancanegara melalui pagelaran seni budaya daerah, nah...kenapa Parapat dengan keindahan Danau Toba yang begitu mengagumkan tidak mencoba melakukan hal yang sama?

Lokasinya juga toh sudah ada yakni open stage Parapat dan jadwalnya bisa diatur sedemikian rupa dengan menampilkan atraksi seni budaya daerah yang ada di sekitar kawasan Danau Toba seperti Toba, Simalungun, Karo, Dairi dan Nias serta yang lainnya. Sebab selama ini kita lihat sendiri, para turis asing tidak pernah betah berlama-lama tinggal di tempat obyek wisata dikarenakan minimnya sarana hiburan yang bersifat spesifik dan lain daripada yang lain. Kalau disco atau hiburan modern lainnya, mereka nggak terkejut badan lagi. Sudah biasa.

Pagelaran seni budaya daerah semisal opera Batak, tortor atau cerita legenda rakyat dan lainnya, sesungguhnya merupakan salah satu daya tarik wisata. Melempemnya atraksi budaya, sebetulnya merupakan salah satu faktor membuat kunjungan wisata ke daerah ini terbilang sangat minim.

Buktinya, open stage Parapat selama ini lebih sering menganggur tanpa aktivitas sama sekali. Kalaupun ada hanya sesekali ketika ada event-event musiman atau dadakan seperti Pesta Danau Toba (PDT) atau Pesta Rondang Bittang (PRB). Padahal tempat itu sangat strategis dan cocok untuk menampilkan berbagai atraksi pagelaran seni budaya.

Untuk itu, ke depan hal ini perlu dipikirkan sebagai alternatif untuk memajukan pariwisata di daerah ini. Dalam hal ini Dinas Pariwisata Seni dan Budaya haruslah lebih proaktif membuat terobosan-terobosan, bukan sebaliknya malah miskin kreativitas.

Keanekaragaman seni budaya yang ada di daerah ini seharusnya bisa dimanfaatkan lewat suatu pagelaran atau pertunjukan untuk menarik minat wisatawan asing.

Artinya, di beberapa tempat obyek wisata yang ada haruslah dipikirkan untuk mementaskan pagelaran seni budaya secara rutin dan teratur. Dan kalau boleh  para turis asing diikutkan di dalamnya untuk berpartisipasi sekaligus sebagai pengenalan terhadap seni budaya daerah itu sendiri.

PENUTUP

Sekali lagi, kemajuan industri pariwisata di daerah ini pada gilirannya diyakini akan mampu memberi kontribusi terhadap peningkatan penerimaan devisa serta peningkatan ekonomi masyarakat. Tinggal bagaimana komitmen kita untuk selalu berupaya memajukan industri pariwisata hingga membuat wisatawan domestik maupun mancanegara tertarik untuk mengunjunginya.

Selain itu, pembangunan infrastruktur serta bagaimana sikap kita terhadap para wisatawan adalah juga sangat esensial untuk tetap dibenahi secara terus menerus. Semoga.

Oleh: Drs Lurus Tarigan

Sumber : www.hariansib.com


Dibaca : 3.303 kali.

Tuliskan komentar Anda !