Close
 
Minggu, 19 April 2026   |   Isnain, 2 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 702
Hari ini : 17.127
Kemarin : 25.133
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

04 agustus 2009 04:33

Kenalkan Budaya dan Wisata Melalui Aceh International Literary Festival

Kenalkan Budaya dan Wisata Melalui Aceh International Literary Festival

Yogyakarta, MelayuOnline.com – Konflik berkelanjutan yang sering merundung bumi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) justru dinilai sebagai keunikan tersendiri bagi kalangan penikmat seni. Selain itu, letak Aceh yang berada di ujung Pulau Sumatra dengan limpahan kekayaan alam serta musibah tsunami yang memporak-porandakan Aceh pada 2004 silam, juga menjadi poin khusus daerah berjuluk Serambi Mekkah ini. Beberapa faktor di atas tentu saja mempengaruhi berbagai sisi kehidupan masyarakat di Aceh, termasuk berpengaruh juga terhadap karya-karya para kreator seni.

Sebagai bentuk sikap untuk menanggapi berbagai persoalan yang kerap terjadi di Aceh, juga sebagai tolak ukur bagaimana sastrawan dari luar daerah dan luar negeri dalam melihat Aceh, digelarlah perhelatan besar bertajuk Aceh International Literary Festival yang akan dibuka Rabu (5/8) besok. Aceh International Literary Festival masih menjadi rangkaian dari pagelaran Pekan Kebudayaan Aceh ke-V yang berlangsung sejak tanggal 2-11 Agustus 2009. Pekan Kebudayaan Aceh sendiri merupakan even kebudayaan lima tahunan yang menampilkan atraksi seni-budaya Aceh, nusantara, dan internasional.

Ajang Silaturrahmi Kreatif Sastrawan Dunia

Sesuai agenda yang dijadwalkan, Aceh International Literary Festival rencananya akan digelar selama dua hari, Rabu-Kamis (5-6/8), bertempat di Banda Aceh, NAD. Acara ini berisikan pembacaan karya sastra yang dipusatkan di tempat-tempat bersejarah di Banda Aceh antara lain di Krueng Aceh, Pinto Khob, dan Kapal Apung. Aceh International Literary Festival melibatkan peserta dari kalangan sastrawan Aceh, sastrawan nusantara, serta sastrawan luar negeri. Para calon peserta diharapkan menyertakan masing-masing lima puisi dan/atau satu cerpen beserta biodata dan foto diri untuk dimuat dalam antologi sastra Krueng Aceh.

Menurut keterangan yang tercantum dalam undangan dari Fikar W. Eda dan Mustafa Ismail atas nama panitia Aceh International Literary Festival, acara ini diharapkan menjadi semacam silaturrahmi kreatif antara karya-karya sastrawan Aceh dengan publik sastra nusantara dan dunia. Selain itu, penyelenggaraan Aceh International Literary Festival juga dimaksudkan untuk lebih memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada masyarakat dunia. Diterangkan juga bahwa sasaran utama yang ingin dicapai dengan digelarnya Aceh International Literary Festival adalah terbukanya ruang silaturrahmi kreatif yang lebih intens antara sastrawan Aceh dengan masyarakat seni/sastrawan dunia.

Mengkhidmati Sastra, Meresapi Sejarah

Terdapat serangkaian acara penting yang diagendakan dalam perhelatan Aceh International Literary ini. Dalam undangan disebutkan bahwa pada hari pertama, 5 Agustus 2009, mulai pukul 16.00-18.00 WIB, akan dilangsungkan pembacaan karya oleh para sastrawan yang bertempat di Panggung Krueng Aceh. Krueng Aceh merupakan sungai yang bersejarah bagi masyarakat adat Aceh. Dahulu, pada masa Kesultanan Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda, Krueng Aceh adalah bandar dagang yang sangat ramai dan disinggahi lalu lalang kapal-kapal penumpang serta pedagang dari berbagai bangsa di dunia. Konon, air Krueng Aceh diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Air sungai itu bersih dan sehat sehingga didatangi oleh banyak orang dari berbagai daerah untuk mandi di Krueng Aceh. Dalam rangkaian acara Aceh International Literary di Krueng Aceh, para sastrawan akan membacakan karyanya di atas perahu.

Masih di hari pertama Aceh International Literary Festival, pada malam harinya acara dilanjutkan di Panggung Pinto Khop, yang dijadwalkan akan berlangsung dari pukul 20.30–23.30 WIB. Di Pinto Khop, di malam yang cemerlang, para sastrawan akan melantunkan karyanya. Pinto Khop yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda itu dikenal pula dengan nama Pintu Biram Indrabangsa. Pintu Khop merupakan tempat beristirahat Putri Phang atau Putroe Phang, permasuri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Pahang, sekarang termasuk wilayah negara Malaysia. Pintu yang terletak di lembah Sungai Darul Isyki itu berfungsi juga sebagai penghubung antara istana dengan Taman Ghairah, tempat tinggal permaisuri. Bangunan Pintu Khop yang memiliki panjang dan lebar masing-masing 2 meter serta tinggi 3 meter tersebut dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-Iangit berbentuk busur untuk dilalui dari arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang yang memunculkan imajinasi gambaran figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut.

Rangkaian terakhir acara Aceh International Literary Festival menurut rencana akan dipusatkan di Kapal Apung, sebuah kapal milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan berat sekitar 3600 ton, yang sekarang tidak digunakan lagi karena diterjang badai tsunami pada 2004 silam. Sebelum terjadi tsunami, kapal ini berada di laut dan sering merapat di Pelabuhan Uleelheue, Banda Aceh. Isi kapal apung ini adalah generator yang memasok listrik untuk Kota Banda Aceh. Acara pamungkas Aceh International Literary Festival yang dilangsungkan pada 6 Agustus 2009 mulai pukul 20.30-23.30 WIB tersebut akan menampilkan pembacaan karya para sastrawan dengan mengambil setting tempat di geladak Kapal Apung sambil mengenang peristiwa dahsyat tsunami.

(Iswara NR/Brt/O1/08-2009)

Sumber: Undangan dari Panitia Aceh International Literary Festival
Kredit Foto: http://www.defence.gov.au


Dibaca : 3.911 kali.

Tuliskan komentar Anda !