Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 2.095
Hari ini : 22.283
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

22 sepember 2009 03:10

Modernisme Islam Tak Selalu Radikal

Modernisme Islam Tak Selalu Radikal
Jamaah Sholat Idul Fitri 1430 H di Alun-Alun Utara Yogyakarta

Yogyakarta, Melayu Online -  Ribuan umat Islam memadati Alun-Alun Utara Yogyakarta untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri 1430 H pada Minggu, 20/09. Penetapan 1 Syawal 1430 H yang jatuh pada 20 September 2009, dimanfaatkan oleh seluruh umat Islam khususnya di Yogyakarta untuk memadati tempat-tempat pelaksanaan Sholat Idul Fitri. Tampak hadir dalam Sholat Idul Fitri di Alun-Alun Utara ini, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono ke-X. Bertindak selaku imam dalam Sholat Idul Fitri 1430 H adalah H. Irfan Jamhari, imam Masjid Gede Kauman Yogyakarta. Sedangkan bertindak selaku khatib adalah Dr. H. Agung Danarto M.Ag, Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam ceramahnya Dr. H. Agung Danarto M.Ag menyampaikan seputar modernisme Islam yang tidak selalu harus dilakukan lewat cara radikal. Ahlul hadits yang juga sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menyampaikan bahwa Islam pada dasarnya adalah agama yang moderat. Melalui sikap moderat inilah Islam kini mencoba memangkas stigma negatif yang mulai mengidentifikasikan dalam agama Islam, bahwa Islam adalah agama ekstrim. Padahal menurut Agung Danarto, “Sikap ekstrim dalam beragama bisa berdampak buruk pada agama itu sendiri”. Sikap ekstrim dapat menimbulkan disharmoni dalam beragama.


Dr. H. Agung Danarto M.Ag

Menurut dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini, terdapat 6 faktor yang menyulut tindakan ekstrim radikal. Pertama adalah pemikiran yang menganggap bahwa agama merupakan faktor penyebab kemunduran. Pengembangan paham ini dikenal dengan istilah kapitalisme. Kedua adalah ekonomi dan disusul dengan politik. Keempat adalah faktor sosial yang biasanya tercermin melalui kondisi konflik. Konflik yang sering terjadi dalam masyarakat menimbulkan efek antipati pada sekelompok orang yang menyebabkan kelompok tersebut terpisahkan (termarjinalkan) atas kelompok masyarakat yang lain. Kelompok kecil yang terpisahkan ini jika berkumpul akan sangat mudah untuk dimanfaatkan dalam hal-hal tertentu. Timbulnya kelompok-kelompok kecil ini salah satunya disebabkan karena mereka menganggap bahwa sikap moderat yang diambil oleh pemerintah kurang mengakomodasi gerakan radikal. Faktor kelima adalah faktor psikologis yang terkait dengan faktor individual seseorang. Faktor ini biasanya dipicu karena seseorang merasa telah mengalami kegagalan hidup. Sedangkan faktor terakhir adalah pendidikan.

Untuk menyingkapi permasalahan ini, kerjasama dari seluruh elemen bangsa sangat diperlukan. Ketiga elemen penting yaitu, pemerintah, ulama, dan masyarakat perlu mensinergiskan tujuan, maksud, dan pemahaman masing-masing. Dari sinilah peran ulama diharapkan bisa meluruskan paham-paham keagamaan yang telah berkembang di masyarakat. Dengan mensinergiskan ketiga unsur ini, diharapkan tercipta suasana yang kondusif, religius, bertakwa, dan cinta tanah air. Sesuai dengan firma Allah SWT dalam Surat Al A‘raf:96, “Sekiranya penduduk negeri itu beriman kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, pasti Kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi, …”

(Tunggul Tauladan/brt/1/09-2009)

Sumber Foto: Koleksi www.melayuonline.com (Fotografer: Tunggul Tauladan)


Dibaca : 2.460 kali.

Tuliskan komentar Anda !