Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 sepember 2009 07:54
Berdialog dengan Nurani di Hari yang Fitri
Yogyakarta, MelayuOnline.com – “Mari kita berdialog dengan nurani. Apakah sampai saat ini masih ada di antara kita yang menuntut sesuatu yang bukan haknya dan menahan hak orang lain? Atau mengambil sesuatu yang bukan haknya? Kalau sekiranya ada, maka sungguh hal itu sangatlah memprihatinkan!” Demikian seruan yang disampaikan Drs. Setyadi Rahman selaku imam dan khatib dalam sholat Idul Fitri yang diselenggarakan di Halaman Belakang kampus lama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), di Jalan HOS Cokroaminoto, Wirobrajan, Yogyakarta, pada Ahad (20/9) atau bertepatan dengan 1 Syawal 1430 Hijriah.
Setyadi Rahman membuka rangkaian ceramahnya dengan mengurai makna dari Idul Fitri. Menurut Ustadz Madrasah Mu`alimmin Muhammadiyah Yogyakarta itu, makna asal yang sederhana dari Idul Fitri adalah “hari raya berbuka”. Artinya, umat Islam diperbolehkan kembali berbuka setelah selama sebulan menahan diri dari perbuatan makan dan minum, serta melakukan hubungan suami istri di siang hari di bulan Ramadhan. Adapun makna yang lebih dalam, lanjut Setyadi, adalah kembali kepada fithr, yaitu kembali kepada asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.
“Menurut Alquran, asal kejadian manusia adalah bebas dari dosa dan suci, sehingga Idul Fitri antara lain diartikan sebagai kembalinya manusia kepada keadaan sucinya, atau keterbebasan dirinya dari segala dosa dan noda, sehingga dengan demikian ia berada dalam kesucian,” tutur Setyadi sembari mendoakan agar semua yang hadir dalam sholat Idul Fitri di hari yang cerah itu termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah.
Selanjutnya, Setyadi mengajak supaya kondisi kembali kepada kesucian atau Idul Fitri ini dapat digunakan sebaik-baiknya untuk berdialog dengan hati nurani. “Marilah secara jujur kita menjawab pertanyaan ini: Seberapa jauhkah kita telah merasakan adanya peningkatan keimanan dan ketakwaan yang terwujud pada perubahan perilaku (kita)?” tanya Setyadi. Setyadi lantas mengutip nukilan dalam Alquran, yakni dalam Surat Fathir Ayat ke-32, di mana di dalamnya diterangkan bahwa terdapat tiga golongan terpilih yang akan mewarisi kitab dari Tuhan yang Maha Esa, antara lain golongan yang menganiaya diri sendiri, golongan yang bersikap pertengahan, dan golongan yang lebih cepat mengerjakan kebaikan dengan izin Allah.
“Dari ketiga macam kelompok tersebut, kira-kira diri kita masuk kelompok manakah? Harus diakui bahwa kita sering menyaksikan perilaku di antara kita yang menunjukkan keteguhan pada keyakinan dalam ber-Islam, tetapi tidak lagi menunjukkan kearifan,” demikian Setyadi menuturkan. Yang tampak, tambahnya, adalah sikap mengklaim bahwa dirinya atau kelompoknya sebagai yang paling pintar dan benar, sementara yang lain adalah bodoh lagi salah. Akibatnya, kata Setyadi, terjadilah benturan-benturan yang merapuhkan umat Islam itu sendiri. “Akibat selanjutnya, dengan sesama umat Islam tidak saling menghormati tetapi saling menghujat, tidak saling menyayangi tetapi saling menendang, tidak bersikap ramah tetapi menganggap remeh orang lain, bahkan saling memfitnah,” demikian Setyadi seolah-olah mengeluhkan kondisi dan citra Islam dewasa ini.
Sudah seharusnya, urai Setyadi, momen berharga seperti Idul Fitri ini bisa dijadikan ajang dan media untuk berdialog dengan lebih menggunakan kekuatan hati nurani. “Sungguh banyak di antara kita yang jika ditegur, bukannya menyesal, melainkan (malah) marah. Jika bersalah, bukannya beristighfar, memohon ampunan kepada Allah, melainkan justru mencari pengacara agar perbuatan salahnya dinyatakan benar. Jika dimaki, bukannya berdoa memohonkan ampunan bagi orang yang memakinya, melainkan membalas makian itu dengan makian yang yang jauh lebih kotor,” tukas Ustadz Setyadi.
Momen untuk Berubah Menjadi Lebih Baik
Ustadz Setyadi selanjutnya menukil sabda Nabi Muhammad Saw yang disarikan dari Hadist Riwayat Tabrani yang berbunyi: “Barangsiapa yang keadaannya hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung.” Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kata Seytadi, hadist tersebut di atas senantiasa relevan dengan perkembangan zaman, bahkan seakan-akan menjadi pengawal bagi kemajuan suatu umat atau bangsa, tidak terkecuali umat Islam yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
“Adakah kita secara sadar dan berkesinambungan, juga secara integral dan sinergis, melakukan perbaikan dalam berbagai aspek kehidupan? Apakah kita termasuk golongan orang yang sukses dalam memanfaatkan momentum bulan Ramadhan untuk melakukan perbaikan diri di bidang akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak?” Setyadi mencoba mengajak hadirin untuk merefleksikan hikmah Ramadhan yang usai dijalani sebulan kemarin.
Setyadi kembali mempertautkan hati, nurani, dan pikiran jama`ah sholat Ied pagi itu dengan berseru, “Marilah kita renungkan. Apalah arti ber-Idul Fitri jika hari ini sama dengan, atau bahkan lebih buruk, dari hari kemarin. Apalah arti ber-Idul Fitri manakala nurani dibohongi, nikmat Allah pun dikorupsi. Apalah artinya ber-Idul Fitri jika aroma kebencian tetap semerbak, tak berganti dengan aroma kasih sayang. Ketidak-acuhan tetap mewarnai pergaulan, tak berganti dengan kepedulian. Kedzaliman tetap merajalela, tak berganti dengan keadilan. Kebohongan tetap kebohongan berganti dengan kejujuran. Ketumpulan perasaan kian membatu, tak berganti dengan kepekaan.”
Belum berhenti sampai di situ, Setyadi kembali mengilustrasikan, kali ini yang terjadi dalam kehidupan nyata yang lebih konkret, “Apalah arti ber-Idul Fitri jika kelaparan berganti dengan gizi buruk. Keluarga miskin berganti dengan `gakin`. Kenaikan harga berganti dengan penyesuaian harga. Perjudian berganti dengan permainan ketangkasan. Tempat maksiat berganti dengan tempat hiburan. Korupsi berganti dengan penyimpangan. Penjualan aset negara berganti dengan privatisasi.”
Dalam kondisi yang demikian ini, seharusnya manusia tahu diri di hadapan Sang Pencipta. “Ya Allah, sungguh aku malu berbicara dengan-Mu. Engkau itu Maha Santun dalam menegur sekalipun. Engkau itu Maha Pengampun pada dosa besar apapun, asalkan bukan kesyirikan. Engkau itu Maha Peramah bukan pemarah walaupun kami sangat berulah. Ya Allah, aku malu berbicara dengan-Mu. Engkau itu Maha Tahu akan segala sesuatu yang tersimpan, apalagi yang berwujud perilaku. Aku sajalah yang tak mendengar padahal mempunyai telinga. Aku sajalah yang tak melihat padahal mempunyai mata. Aku sajalah yang tak menyadari padahal mempunyai nurani,” demikian Ustadz Setyadi berserah diri kepada Sang Khalik.
Pada akhir ceramahnya, Ustadz Setyadi mengajak kepada seluruh jama`ah sholat Ied agar segera bergegas bersadar diri, tidak usah menunggu teguran yang lebih dahsyat dari Sang Kuasa. Manusia memang terkadang bersifat jumawa, merasa paling berani dan tidak takut akan laknat dari Allah, bahkan justru berbangga diri karena telah berbuat maksiat. Untuk itu, Ustadz Setyadi mengajak semua untuk segera menuju pintu taubat. Tidak hanya taubat secara individual, tetapi juga taubat yang dilakukan serta disadari secara kolektif oleh sehimpunan manusia sebagai sebuah umat dan bangsa.
(Iswara NR/Brt/03/09-2009)
Sumber Foto: Tunggul Tauladan (www.MelayuOnline.com)