Minggu, 19 April 2026 |Isnain, 2 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 244
Hari ini
:
12.429
Kemarin
:
25.133
Minggu kemarin
:
249.242
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 oktober 2009 06:25
Masyarakat Melayu Bangka Miliki Lima Dialek Bahasa
Pangkalpinang, Bangka Belitung - Masyarakat Melayu Bangka, Provinsi Bangka Belitung memiliki lima dialek bahasa daerah yang merupakan cikal bakal dari Bahasa Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan, pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang, Ahmad Elfian, di Pangkalpinang, Rabu, mengatakan, bahasa Melayu Bangka secara umum memiliki karakteristik, bunyi E ditulis sebagai E’ dan diucapkan seperti pada nagpe, siape.
Ia menjelaskan, bahasa daerah Melayu Bangka mempunyai lima dialek utama yaitu dialek Mentok, dialek Belinyu, dialek Toboali, dialek Sungailiat dan dialek Pangkalpinang.
Dialek Toboali Kabupaten Bangka Selatan memiliki ciri dalam pengucapannya menggunakan huruf S sering diucapkan seperti kata sabun menjadi habun, namun tidak semua huruf S menjadi H, seperti susu tetap susu bukan huhu, sisir tetap sisir bukan hihir.
Kemudian bahasa Bangka dialek Pangkalpinang vokal umumnya sama dengan bahasa Bangka secara umum, seperti E diucapkan E’ seperti siape, leteh, ngape, lalu vokal U diucapkan jadi O seperti, dek kalok artinya tidaklah, ku jadi ko artinya aku.
Bahasa dialek Belinyu (Bangka Utara), vokal A dalam bahasa Indonesia dan E dalam bahasa Bangka dialek yang lain berubah atau sering diucapkan O khususnya pada akhir kata seperti Belanjo, ngapo.
Kemudian, bahasa Bangka dialek Mentok (Bangka Barat) hal yang spesifik dalam ragam bahasa dan dialek bahasa Mentok ada gabungan GH yang di baca R contoh legegh dibaca legar artinya tong atau drum.
"Bahasa daerah yang ada hidup dan berkembang di masyarakat merupakan kekayaan daerah yang tidak ternilai harganya, melalui bahasa daerah akan tampak jatidiri dan kearifan seseorang, melalui bahasa daerah akan tampak karakteristik masyarakat dan peradabannya," ujarya.
Menurut dia, istilah bahasa Melayu yang di pakai di Bangka Belitung mempunyai beberapa penafsiran antara lain, pertama, merujuk pada mereka yang beragama Islam.
Dengan pengunaan rujukan ini maka siapa saja yang beragama Islam dapat digolongkan sebagai orang Melayu. Di Bangka setiap orang yang masuk Islam dan bersunat atau di Khitan disebut dengan masuk Melayu.
Kedua, istilah Melayu juga dirujuk berdasarkan persamaan penggunaan bahasa induk yaitu bahasa Melayu Bangka. Sebagaimana daerah lain di Nusantara Pulau Bangka memiliki bahasa daerah yang digunakan masyarakat yaitu Bahasa Daerah Melayu Bangka.
Teks tulisan bahasa Melayu adalah huruf arab dengan struktur yang ditulis berdasarkan ketetapan dengan pasal aturan tulis.
Sementara, asal muasal, sebutan Melayu yang paling awal muncul sebagai nama sebuah kerajaan yang berpusat di hulu Sungai Jambi. Kerajaan ini pernah disinggahi selama dua bulan oleh seorang pendeta agama Budha berasal dari Cina bernama IT-SING dalam perjalanannya dari Kanton ke India pada tahun 644 M.
Dalam salah satu bukunya yang dia selesaikan antara tahun 690 dan 692 M ada keterangan yang menyatakan, bahwa sementara "Melayu telah menjadi kerajaan Sriwijaya". Selanjutanya dari kelima prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya termasuk Prasasti Kota Kapur di Bangka ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno.
Definisi Melayu kemudian berkembang dengan ditandai runtuhnya Kerajaan Majapahit dan mulai berkembangnya Islam yang dimulai dari Pasai pada tahun 1400 M, selanjutnya terbentuklah wadah baru berupa komunikasi Islam yang disebarkan dari Malaka ke segenap penjuru nusantara.
Oleh karena itu, kata dia, untuk menjaga keaslian bahasa melayu Bangka Pemerintah Kota akan terus melestarikan dengan menjaga keaslian kebudayaan daerah dari pengaruh budaya asing dan penyimpangan dalam pemanfaatannya.
"Upaya pelestarian bahasa daerah akan ditingkatkan baik secara individu, melalui organisasi, maupun pemerintah," ujarnya.