Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
20 januari 2007 02:05
Senggarang Jadi Pusat Budaya Melayu
Kota Tanjung Pinang, Provinsi Riau Kepulauan, sedang mempersiapkan kawasan Senggarang sebagai pusat budaya Melayu. Senggarang, yang juga akan menjadi pusat pemerintahan Kota Tanjung Pinang, akan diresmikan sebagai pusat budaya Melayu pada akhir Juli 2004.
"Mewujudkan kawasan Senggarang sebagai pusat budaya Melayu merupakan salah satu visi Kota Tanjung Pinang 2020," ungkap Wali Kota Tanjung Pinang Hj Suryatati A Manan kepada wartawan di Senggarang, akhir pekan lalu.
Peresmian Senggarang sebagai pusat budaya Melayu adalah salah satu agenda dalam kegiatan Revitalisasi Budaya Melayu, yang akan berlangsung 29-31 Juli 2004. Selain itu akan diadakan seminar "Identitas dan Pluralisme Melayu", lokakarya tentang seni tradisi Melayu, festival seni tradisi, kemah budaya, serta pameran. Pada kesempatan itu akan diresmikan pula Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman Riau di Tanjung Pinang.
Rangkaian kesenian yang ditampilkan dalam festival seni tradisi itu, antara lain Mak Yong (Kelantan), Tarik Selampit (Kelantan), Opera Cina (Singapura), Saman (Aceh), Mak Yong (Riau), Opera Bangsawan Lingga (Singkep), Mendu (Kepulauan Riau), Gurindam Dua Belas (Penyengat), dan Joget Dangkung (Kepulauan Riau).
Suryatati mengatakan, festival budaya yang digelar setiap tahun itu akan lebih memperkenalkan kearifan budaya Melayu lokal yang dinamis dan terbuka. Posisi geografis Tanjung Pinang yang sangat dekat dengan Malaysia dan Singapura, kata Suryatati, menjadikan wilayahnya sebagai pintu gerbang barat bagi masuknya wisatawan.
Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Pranata Sosial, Mukhlis Paeni, mengingatkan bahwa posisi Tanjung Pinang sebagai pintu gerbang masuknya wisatawan, sekaligus akan membawa pengaruh dari luar ke dalam. "Budaya Melayu tidak bisa hanya bertahan, dalam arti mengurung diri, tetapi juga harus menerima realitas dari luar. Tidak boleh hanya meratapi budaya, tetapi harus melihat ke depan. Dengan demikian, daerah ini akan menjadi tempat berdenyutnya tradisi Melayu secara terus-menerus," katanya. (LAM)