Close
 
Kamis, 17 April 2014   |   Jum'ah, 16 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 2.533
Hari ini : 17.685
Kemarin : 28.564
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.603.642
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

30 mei 2008 08:17

Geliat Wisata di Kota Kuching, Malaysia

Perjalanan Budaya MelayuOnline.com Di Malaysia (4)
Geliat Wisata di Kota Kuching, Malaysia

“Coba ambil segenggam daun kangkung lalu taruh dalam kantong baju atau celana, mudah-mudahan dapat mencegah mabuk kendaraan”. Begitu nasehat Ratu Endang Sri Muningsih (Ratu Kesultanan Sambas) kepada salah satu kru MelayuOnline.com yang tampak lemas dan pucat akibat mabuk kendaraan selama perjalanan dari Pontianak ke Sambas.

Sayangnya, pagi itu tidak seorang kru pun yang sempat mencari daun kangkung, sehingga kemanjuran resep ala Melayu itu belum sempat dibuktikan langsung. Tapi kalau Anda penasaran, silahkan mencoba.


Pagi itu, Jum‘at (22/02/2008), jam 10.00 WIB, MelayuOnline.com meluncur menuju perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong. “Biasanya perjalanan dari Sambas ke Entikong memakan waktu selama delapan jam. Artinya, kita bisa sampai ke Entikong pukul 18.00 WIB. Padahal perbatasan itu ditutup pada pukul 16.00 WIB.” Jelas Pak Husin, sopir yang membawa MelayuOnline.com.

Ala mak, kan kita sudah pesan tiket pesawat ke Miri. Kalau kita tidak bisa masuk perbatasan, berarti kita tidak bisa terbang besuk pagi, dan seluruh rencana kita di Brunei bisa kacau”, kata salah seorang kru penuh was-was.

“Tapi saya usahakan kita bisa sampai di Entikong sebelum jam 16.00 WIB”, kata Pak Husin mencoba menenangkan. Perjalanan yang biasanya memakan waktu 8 jam, akan “disunat” menjadi enam jam. Maksud Pak Husin jelas, yaitu tancap gas.

Pak Husin tidak sedang bercanda. Mobil yang kami tumpangi melaju dengan cepat. Seluruh mobil yang ada di depannya tanpa ragu disalip. Jangankan sepeda pancal dan kereta kuda, bus-bus cepat jurusan Pontianak-Kuching pun semuanya lewat. Beberapa kali para kru menarik nafas dalam-dalam karena mobil yang kami tumpangi hendak adu seruduk dengan mobil lain. Sekali dengan truk dan dua kali dengan bus. Untung masih dapat dihindari.

Rintangan terberat dalam perjalanan kala itu adalah jalan yang berlubang, bergelombang, dan berkelok-kelok. Karena kecepatan yang begitu tinggi, mobil yang kami tumpangi terkadang terbang setelah menggilas lubang. “Hati-hati Pak Husin”, kata salah seorang kru selalu mengingatkan dengan tarikan nafas yang dalam. Memang harus dipahami, ini adalah Indonesia, “wajar” jika banyak jalan berlobang dan bergelombang. Lain halnya kalau sudah berada di wilayah Malaysia.

Janji Pak Husin ditepati. Perjalanan MelayuOnline.com dari Sambas sampai di Entikong hanya memakan waktu sekitar enam jam. Pukul 15.45 kami sudah memasuki gerbang Entikong (nama perbatasan Indonesia), dan pukul 15.55 memasuki Tebedu (nama perbatasan Malaysia). Kami masuk area Tebedu lima menit sebelum gerbang perbatasan ditutup. Sore itu, MelayuOnline.com adalah rombongan terakhir yang masuk ke Malaysia. Setelah melewati perbatasan, semua kru dapat bernafas lega, dan kontan perasaan kawatir dan tegang selama di Kalbar sirna. Yang juga melegakan, tidak ada lagi jalan-jalan berlubang dan bergelombang, karena sudah berada di wilayah Malaysia.


Cukup menyedihkan memang. Hanya berjarak beberapa ratus meter saja, pemandangan di kedua negara begitu kontras. Gerbang perbatasan antara kedua negara menjadi pembatas yang menandai perbedaan kondisi hutan, perkampungan, dan jalan-jalan antara Indonesia dan Malaysia.       

Di Kota Kuching

MelayuOnline.com memasuki kota Kuching pada pukul 22.00 waktu setempat. Setelah istirahat sejenak di hotel, kami berkeliling melihat keindahan pemandangan malam kota itu. Kota yang bersih, rapi, dan teratur. Bangunan-bangunan lama dan baru berdiri berdampingan, sehingga mengesankan kota ini sebagai kota kuno sekaligus kota modern.

Pohon-pohon rindang berbaris, berdiri kokoh di pinggir-pinggir jalan, menciptakan suasana sejuk. Tidak ketinggalan, sesuai dengan namanya, beberapa patung kucing juga berdiri dengan berbagai pose di beberapa sudut kota. Ada yang sendirian bergaya manja, berdua saling menempel, bertiga berdesakan, bahkan ada yang beramai-ramai dengan anak-anaknya. Namun, meski binatang ini menjadi ikon kota, tidak tampak kucing hidup yang berkeliaran di sepanjang jalan.

Nama Kuching itu sendiri konon diambil dari nama binatang berkaki empat yang punya suara “meong” itu. Tapi ada juga yang berpendapat, nama itu berasal dari bahasa India yang berarti pelabuhan. Memang, dahulu di kawasan Kuching terdapat pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai tempat, termasuk dari India. Apapun asal nama kota itu, yang jelas, kini Kuching telah menjadi tujuan wisata yang sangat menarik. Ibarat seekor kucing beneran, kota ini tampak menggemaskan setelah didandani sedemikian molek oleh pemiliknya, sehingga menarik perhatian siapapun untuk menyentuh dan membelainya.


Tempat pertama yang dikunjungi MelayuOnline.com adalah Masjid Bandaraya Kuching. Letaknya di atas bukit, di tepian Sungai Serawak. Dari sini kita dapat menikmati indahnya gemerlap lampu-lampu kota dan kilauan lampu-lampu yang berbaris di sepanjang Sungai Serawak. Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1840 M oleh Datuk Patinggi Ali. Sekarang masjid itu berdiri megah dan dapat menampung sekitar 4.000 jama‘ah. Namun sayang, malam itu MelayuOnline.com tidak dapat mengambil gambar kemegahannya karena keterbatasan penerangan dan proses renovasi yang belum selesai.    

Setelah beberapa saat melihat Masjid Bandaraya, MelayuOnline.com kemudian beranjak menuju ke waterfront yang terletak tidak jauh dari lokasi masjid. Di waterfront inilah rekreasi dan aneka hiburan masyarakat dipusatkan. Meskipun malam sudah larut, suasana waterfront masih tetap ramai. Denyut kehidupan di sekitar sungai seolah tidak pernah berhenti. Baik warga Malaysia maupun warga asing tumpah ruah di kawasan ini, menikmati indahnya pemandangan malam di pinggiran Sungai Serawak tanpa dibatasi waktu.

Berbagai upaya untuk menjamin keamanan dan kenyamanan di waterfront diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Meskipun sudah larut malam, masih banyak pengunjung yang berlalu lalang. Ada yang berpasangan, sendirian, ataupun bergerombol. Mereka tampak nyaman berjalan kemanapun tanpa rasa khawatir akan ada gangguan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pun, seorang gadis yang sedang berjalan sendirian dengan pakaian yang aduhai, tidak ada seorang pria yang mengganggunya, meskipun hanya dengan siulan “suit...suiiit”.  

Di samping itu, kebersihan dan keramahan juga dijaga. Warung-warung tenda berjejer rapi, kursi-kursi dan meja-mejanya tersusun apik dan bersih, dan selalu siap sedia menyambut siapapun yang datang dengan berbagai macam jenis sajian khas Melayu, Arab, Eropa, India, dan Cina.

Potensi wisata waterfront dikembangkan dengan sangat baik. Keindahan, keamanan, dan keramahan menjadi jaminan bagi waterfront untuk tetap dikunjungi dan didambakan bagi siapa saja yang pernah mengenalnya. Kalau kita menatap ke arah sungai, di sana tersaji pemandangan yang begitu indah. Kapal motor yang sesekali lewat, pemandangan lampu yang memancar dari berbagai sudut, angin malam yang berhembus, seolah membujuk para wisatawan untuk tidak beranjak dari lokasi itu. Dan, kalau memandang ke arah kota, tampak barisan bangunan-bangunan lama, toko-toko yang menyediakan berbagai macam kebutuhan, mall-mall, hotel-hotel yang berdiri megah, pohon-pohon rindang, dan tempat parkir yang rapi.


Setelah cukup lelah menelusuri sepanjang tepian Sungai Serawak. MelayuOnline.com kongkow-kongkow di pinggir sungai, tepat di sebelah patung buaya yang cukup besar sambil menikmati gurihnya kacang kulit dan segelas teh hangat. Di sebelah kanan dan kiri tampak beberapa orang sedang asik memancing. Rasa lelah setelah sehari perjalanan dari Sambas ke Kuching berusaha kami lepaskan di sini.

Obrolan antar kru MelayuOnline.com diawali dengan pertanyaan, kenapa yang dijadikan simbol di sungai ini adalah patung buaya, bukan patung ikan atau perahu, misalnya? Dengan nada bercanda salah satu kru menjawab, “ya...karena di sekitar sini banyak buaya darat berkeliaran”. Bukan, bukan itu jawabannya. Karena memang Sungai Serawak dahulu merupakan rumah bagi banyak buaya. Dan, konon sampai sekarangpun masih ada beberapa buaya yang masih bertahan. Dipilihnya buaya sebagai simbol lebih karena reptil ini menempati rantai makanan tertinggi di antara penghuni sungai lainnya.   

Perbincangan kami kemudian berlanjut sampai pada strategi Malaysia yang begitu baik dan serius dalam mengelola potensi wisata yang dimiliki. Dapat dilihat bagaimana pemerintah Malaysia memanfaatkan nama “kucing” untuk sarana menambah daya tarik wisata. Hampir di setiap sudut kota ada patung-patung kucing, meskipun sebenarnya nama “kucing” itu sendiri tidak berkaitan dengan binatang sejenis macan itu. Namun dengan pengelolaan dan publikasi yang optimal, nama “kucing” menjadi daya pikat tersendiri bagi banyak wisatawan. Hampir semua pengunjung, termasuk MelayuOnline.com, menyempatkan diri berfoto di bawah patung-patung kucing sebagai bukti pernah mengunjungi kota itu.

Sebenarnya, potensi yang dimiliki Kuching juga dimiliki oleh beberapa daerah di Indonesia, terutama daerah-daerah di Sumatra dan Kalimantan. Bedanya, Malaysia unggul dalam hal keseriusan dan pengemasan. (RI/brt/04/05-08)   


Dibaca : 7.745 kali.

Tuliskan komentar Anda !