Close
 
Selasa, 18 Agustus 2026   |   Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 812
Hari ini : 12.151
Kemarin : 22.556
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

09 april 2008 06:54

Meneroka Keagungan Melayu Melalui Istana Alwatzikhoebillah Sambas

Perjalanan Budaya MelayuOnline.com di Kalimantan Barat (3)
Meneroka Keagungan Melayu Melalui Istana Alwatzikhoebillah Sambas

Perjalanan budaya MelayuOnline.com selama sehari di Kalimantan Barat (Kalbar) berakhir di Istana Alwatzikhoebillah, Sambas. Sebelumnya, MelayuOnline.com telah mengunjungi dua istana Melayu lainnya, yaitu Istana Kadriah di Pontianak dan Istana Amantubillah di Mempawah. Berdasarkan studi inventarisasi oleh Balai Kajian Sejarah Kalbar pada tahun 2000, di Kalbar terdapat 40 kesultanan, namun baru 21 istana kesultanan yang terinventarisir. Keterbatasan waktu memaksa MelayuOnline.com memendam hasrat ingin menangkap atmosfir sejarah Melayu di 18 istana (atau bekas istana) lainnya, karena hari itu juga, Juma‘t (22/02/2008), sudah harus bertolak ke Kuching, Malaysia.  

Nama “alwatzikhoebillah” diambil dari bahasa Arab yang berarti “yang percaya kepada Allah”. Kata ini memiliki arti yang dekat dengan “amantubillah”, nama Istana Kesultanan Mempawah, yang berarti “aku beriman kepada Allah”. Kedua kata, “alwatzikhoebillah” dan “amantubillah”, memiliki makna ketundukan kepada Allah, serta menyimbolkan kepasrahan jiwa dan raga seluruh elemen kesultanan dan rakyatnya kepada Sang Maha Pencipta. Dari kedua kata tersebut dapat dilihat bagaimana kuatnya pengaruh ajaran Islam di dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Melayu, baik itu di dalam maupun luar istana. Dahulu istana merupakan poros kehidupan masyarakat, sehingga pandangan dan keyakinan yang beredar dalam istana dan terungkap melalui simbol-simbol juga mewakili keyakinan masyarakat sekitar.


Yang juga menarik untuk diperhatikan adalah bahwa Kesultanan Mempawah dan Sambas menjadikan sikap pasrah kepada Tuhan sebagai simbol utamanya seperti tercermin pada nama masing-masing istana. Sementara itu, nama Istana Kadriah diambil dari nama orang, yaitu Habib Hussein Al-Kadrie, ayah Sultan Syarif Abdurrahman (pendiri Kesultanan Kadriah yang juga sebagai sultan pertama). Agaknya, penamaan Istana Kadriah dipengaruhi oleh tradisi Arab yang selalu menjadikan nama leluhur sebagai nama sebuah dinasti. Misalnya saja, di Arab terdapat Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, dan Dinasti Fatimiyah, yang seluruhya merujuk kepada leluhur masing-masing pendirinya.

Dalam tradisi Arab menjaga garis keturunan sangat penting terutama jika garis itu berujung pada seseorang yang memiliki status sosial atau tingkat kesalehan yang tinggi. Akan tetapi, tradisi semacam itu tidak ada dalam masyarakat Melayu, sehingga orang Melayu kurang mengenal silsilah keluarganya secara detil. Perbedaan tradisi tersebut menciptakan perbedaan pemilihan simbol-simbol, sebagaimana terlihat pada nama-nama istana di Kalimantan Barat, meskipun para pendiri istana-istana itu hidup di kawasan dan budaya yang sama, Melayu.

***

Kunjungan MelayuOnline.com di Istana Alwatzikhoebillah disambut oleh Ratu Endang Sri Muningsih yang kebetulan sedang bersantai di ruang depan istana. Setelah mempersilakan MelayuOnline.com duduk di kursi-kursi kuno yang besar dan antik, Ratu Endang menghidangkan kue Bolu Kemojo yang lezat dan minuman yang menyegarkan untuk menemani perbincangan. Kebetulan pagi itu belum banyak pengunjung yang datang, sehingga kami dapat berbincang secara leluasa tentang berbagai hal, terutama seputar upaya-upaya pelestarian Istana Alwatzikhoebillah dan benda-benda warisan Kesultanan Sambas lainnya. Namun, tidak jarang perbincangan kami keluar jauh dari konteks pembicaraan awal, hingga sempat masuk ke pembahasan bagaimana menanggulangi mabuk kendaraan dengan resep Melayu.


Sesekali para kru memusatkan pandangan pada benda-benda yang ada di sekeliling ruang depan istana yang sudah tampak kuno namun terawat dengan baik. Terbersit di benak Pimpinan Umum MelayuOnline.com untuk mendokumentasikan dan mengkaji benda-benda tersebut, kemudian mempublikasikannya kepada masyarakat luas sebagai upaya preservasi warisan sejarah kebesaran bangsa Melayu. Niat baik itu akhirnya terucapkan, dan Ratu Endang menyambut baik seraya menyatakan jika upaya pelestarian itu dilakukan, keluarga istana akan membantu menyediakan seluruh informasi dan data yang diperlukan. Semoga ini menjadi langkah awal kerjasama yang baik antara pihak Istana Sambas dan MelayuOnline.com. Beberapa saat setelah berbincang, MelayuOnline.com berkeliling di sekitar area istana.

Di dalam komplek Istana Sambas terdapat beberapa bangunan, di antaranya adalah istana, masjid, rumah kediaman keluarga kesultanan, balai pertemuan, dan dua gapura. Lapangan terbuka atau alun-alun seluas kira-kira satu hektar menghubungkan gapura pertama dengan seluruh bangunan yang ada, sehingga bangunan-bangunan itu menjadi satu kesatuan. Konsep penyatuan antara istana, masjid, dan lapangan terbuka, tidak berbeda dengan konsep pembangunan istana di kawasan lain di Nusantara.


Gapura pertama merupakan pintu gerbang untuk memasuki alun-alun, sekaligus pembatas antara jalan umum dengan area istana. Sedangkan gapura kedua membatasi alun-alun dengan halaman istana. Jika melihat seluruh bangunan dari gapura pertama, maka kita mendapati tata letak bangunan-bangunan di dalam lokasi itu tertata begitu rapi. Di sebelah kanan alun-alun berdiri Masjid Jami‘ Sultan Muhammad Shafiuddin, yang didirikan pada 10 Oktober 1885 M, oleh Sultan Muhammad Shafiuddin II. Arsitektur masjid yang terdiri dari dua lantai ini sangat indah, atapnya bertingkat tiga, dengan atap paling atas berbentuk limas. Lantai pertama digunakan untuk jama‘ah laki-laki, dan lantai kedua untuk perempuan. Setiap bagian bangunan memiliki atap secara terpisah dengan atap bangunan lainnya, sehingga atap-atap tersebut tampak bertingkat-tingkat. Atap lantai satu merupakan atap paling bawah, disusul kemudian atap kedua dan ketiga yang menjadi atap lantai dua. Setiap atap dipisah dengan jendela berjumlah delapan yang berfungsi mengatur sirkulasi udara. Bahan utama masjid ini adalah kayu-kayu pilihan yang konon berasal dari istana salah satu istri Sultan Tajuddin yang berada di seberang sungai yang terbentang di depan istana.


Di sebelah kanan masjid terdapat dua balai bertemuan yang terletak persis di sisi kanan dan kiri gerbang kedua. Dua balai pertemuan itu tampak sederhana tetapi bersih. Dindingnya setinggi kira-kira setengah meter, dan atapnya yang terbuat dari potongan-potongan kayu ditopang oleh 10 tiang penyangga setinggi kira-kira dua meter. Dahulu balai pertemuan ini digunakan untuk menerima tamu-tamu kehormatan sebelum bertemu dengan sultan. Saat ini balai pertemuan tersebut difungsikan sebagai tempat bedug.

Cukup mengherankan melihat bedug berada di halaman Istana Sambas, karena bedug menjadi ciri khas masjid-masjid di tanah Jawa untuk menandai datangnya waktu sholat. Bagaimana bedug bisa “hijrah” ke Kalimantan Barat? Dulu Kesultanan Sambas cukup terbuka bagi budaya-budaya asing untuk masuk dan berkembang di daerah kekuasaannya.


Banyaknya masyarakat dari luar Kalimantan yang datang ke Sambas, baik untuk kepentingan politik maupun ekonomi, mendorong terciptanya kontak budaya dan proses akulturasi antara budaya lokal dengan budaya pendatang. Di antara sekian banyak budaya yang berpengaruh dalam Kesultanan Sambas adalah budaya Jawa yang dibawa oleh para bangsawan Majapahit yang lari ke Kalimantan karena diperangi oleh Kesultanan Demak pada sekitar tahun 1527 M. Bedug merupakan salah satu bentuk pengaruh tersebut. Demikian juga dengan gelar putra-putra sultan. Sebut saja putra Sultan Umar Akamuddin (Sultan Sambas kelima) yaitu Raden Pasu yang bergelar Pangeran Anom. Kata “raden” dan “pangeran” merupakan gelar yang lazim dipakai para bangsawan di tanah Jawa.      

Kalau kita berdiri di balik gerbang kedua, kita dapat melihat dengan jelas tiga bangunan istana yang saling berhubungan, dengan dominasi warna kuning warna khas Melayu yang melambangkan kewibawaan dan ketinggian budi pekerti. Bangunan utama terletak di tengah, dan berukuran paling besar. Sedangkan bangunan di sisi kanan dan kiri merupakan bangunan pendukung yang memiliki fungsi berbeda-beda. Di atas pintu bangunan utama tampak lambang dua kuda laut bersayap saling berhadapan dengan lambang matahari berada di antara keduanya. Bagian dalam istana ini terbagi menjadi tiga ruang, yaitu ruang depan, tengah dan belakang. Ruang depan berukuran cukup luas, yang dahulu berfungsi sebagai ruang singgasana sultan dan permaisuri. Di ruangan ini, foto-foto para sultan dengan pakaian kebesaran kesultanan terpampang di setiap sudut. Ruang tengah terdiri dari empat kamar yang dahulu merupakan kamar sultan dan keluarganya. Di ruangan ini juga banyak terdapat foto-foto para sultan yang sedang berpose bersama keluarganya, tamu-tamu kehormatan, dan acara-acara kesultanan. Sedangkan ruang belakang berukuran kecil dan tampak kosong.

Bangunan tambahan di sisi kanan dahulu digunakan sebagai tempat menjamu tamu-tamu kehormatan yang berkunjung ke istana. Sedangkan yang di sebelah kiri untuk mempersiapkan segala keperluan sultan dan keluarganya. Saat ini, bagian depan bangunan sayap kanan difungsikan untuk menyimpan benda-benda pusaka peninggalan sultan-sultan Sambas. Keris, tombak, dan berbagai macam senjata lainnya, serta gong tersimpan dengan baik di ruangan ini. Meskipun senjata-senjata itu sudah berkarat, namun tetap tidak mengurangi nilai seni dan historisnya.


Hari itu, MelayuOnline.com menjadi pengunjung pertama yang memasuki ruang pusaka. Pelan-pelan pintu dibuka oleh salah satu keluarga kesultanan. Sementara, kru MelayuOnline.com menunggu dengan rasa penasaran. Maklum, di antara kru merupakan penggemar dan kolektor benda-benda pusaka. Setelah pintu terbuka lebar, nuansa mistis cukup terasa, disertai aroma wangi berasal dari bunga-bunga yang ditaburkan di beberapa sudut ruangan. Mungkin bagi pengunjung yang telah mengasah kemampuan batinnya secara baik akan lebih merasakan kekuatan mistis dari senjata-senjata yang telah berumur ratusan tahun itu. Kepercayaan masyarakat akan kekuatan mistis senjata-senjata itu tampak pada tumpukan uang, mulai dari seribuan hingga lima puluh ribuan, yang diletakkan pengunjung dengan mengharap agar mendapatkan kebaikan.

Merasa asyik menikmati benda-benda bersejarah di sekitar istana, MelayuOnline.com tidak memperhatikan bahwa jarum jam telah menunjukkan pukul 08.47 WIB. Padahal kami harus cepat berangkat ke perbatasan Indonesia-Malaysia yang ditempuh sekitar 9 jam dari Sambas. Hampir tiga jam lamanya MelayuOnline.com menangkap atmosfir sejarah Melayu di Istana Sambas. Sesaat setelah berbincang lagi dengan Ratu Endang, MelayuOnline.com memohon diri untuk berziarah ke makam Sultan Abubakar Tajuddin II (Sultan Sambas ke sebelas) dan Sultan Muhammad Syafiuddin II (Sultan Sambas ke tiga belas), yang terletak tidak jauh dari lokasi istana.

Setelah menyusuri jalan-jalan sempit dan bergelombang selama beberapa menit, sampailah para kru di area makam Sultan Abubakar Tajuddin II. Kondisi makam itu masih tergolong baik. Namun, lantai, dinding, dan atap makam sudah tampak rapuh. Kondisi area di sekitar makam tampak digenangi air, sehingga untuk melihat-lihat suasana area makam ini kami berjalan berjingkat, dengan menarik celana sedikit ke atas untuk menghindari genangan air.


Akan tetapi keprihatinan MelayuOnline.com sedikit terobati dengan melihat kondisi makam Sultan Muhammad Syafiuddin II yang bernasib lebih baik. Tanah di sekelilingnya kering, dan lokasi makamnya cukup tinggi, sehingga jauh dari jangkauan genangan air. Pada batu nisan kedua makam sultan itu dipenuhi ukiran ayat-ayat Alqur‘an yang berbunyi permohonan maghfirah (ampunan) kepada Yang Maha Kuasa, ayat peringatan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan akan dikembalikan ke tanah, serta ayat-ayat yang mengajarkan akan keesaan Allah. Pada bagian bawah batu nisan itu terukir silsilah kedua sultan yang berujung pada Sultan Muhammad Syafiuddin (1631-1668), Sultan Sambas pertama.


Dengan melihat langsung tiga istana Melayu di Kalimantan Barat, MelayuOnline.com mendapati beberapa hal yang menjadi catatan. Upaya pemerintah daerah Kalimantan Barat untuk membangun misi sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara agaknya masih perlu banyak persiapan lagi. Memang, di satu sisi, telah dibangun Rumah Melayu Kalbar yang begitu megah di Kota Pontianak, yang diproyeksikan sebagai pusat kegiatan kemelayuan di Kalbar. Siapapun akan menggelengkan kepala tanda kagum ketika melihat kemegahan Rumah Melayu itu. Namun, di sisi lain, pemerintah setempat, belum mengoptimalkan upaya-upaya pelestarian dan promosi warisan sejarah Melayu di daerah itu. Setiap memasuki lokasi istana, misalnya, belum ada sarana-sarana informasi yang memadai tentang obyek wisata yang bersangkutan, seperti booklet bahkan leaflet sederhana sekalipun. Juga, belum terdapat sarana-sarana penunjang lainnya yang memadai guna mendukung sebuah lokasi menjadi layak dikunjungi.  

Lain halnya dengan Brunei Darussalam dan Malaysia. Brunei berkomitmen menjadi pusat kebudayaan Melayu Borneo, dan secara serius telah menggalakkan berbagai kegiatan, baik yang bersifat keilmuan maupun preservasi budaya dan sejarah untuk mendukung tercapainya misi tersebut. Demikian juga dengan Malaysia yang sejak lama telah melakukan pembenahan di berbagai sektor untuk mendukung misinya sebagai The Truly Asia dan pusat budaya Melayu pada tahun 2020. Pendek kata kedua negara itu telah melakukan start dan berlari menuju titik finish pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Nah, bagaimana dengan Melayu Indonesia? Bersambung (RI/brt/7/04-2008)

Kredit foto :


Dibaca : 9.433 kali.

Tuliskan komentar Anda !