Close
 
Senin, 15 Juni 2026   |   Tsulasa', 29 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.164
Hari ini : 17.230
Kemarin : 19.032
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

23 februari 2008 08:43

Kebangkitan Islam Akan Muncul dari Melayu

Kebangkitan Islam Akan Muncul dari Melayu

Oleh: Azyumardi Azra

Islam di Melayu diakui sebagai salah satu wilayah kebudayaan yang cukup berpengaruh dari tujuh wilayah kebudayaan yang ada di dunia. Wilayah kebudayaan Islam yang pertama adalah wilayah kebudayaan Arab yang mencakup semenanjung Arabia dan daerah-daerah Madrid, Afrika Utara, dan sebagainya. Wilayah kebudayaan yang kedua adalah Persia, Iran, dan sebagian wilayah Asia Tengah, yang dalam unsur bahasanya dipengaruhi oleh Bahasa Persia, dan dalam unsur kebudayaannya banyak diwarnai oleh kebudayaan Persia. Wilayah kebudayaan ketiga adalah wilayah kebudayaan Islam Turki dengan beberapa wilayah strategis di Eropa Timur, seperti Bosnia, Kosovo, dan daerah sekitarnya. Keempat adalah wilayah kebudayaan Islam Indo-Pakistan, India, dan Bangladesh, dengan wilayahnya adalah India, Bangladesh di samping Pakistan itu sendiri. Yang kelima adalah wilayah kebudayaan Afrikanistan, yang wilayah kebudayaannya mencakup Madrid (Spanyol), Praha, Nigeria, dan sebagainya. Keenam adalah wilayah kebudayaan Indonesia-Melayu. Terakhir adalah wilayah kebudayaan di bagian belahan dunia barat.

Dari masing-masing culture area (daerah kebudayaan) ini meskipun sama-sama berbendera Islam, tetapi mempunyai ciri budaya yang sangat distingtif, artinya bahwa masing-masing wilayah kebudayaan mempunyai kekhasan masing-masing. Dalam hal ini adalah sebuah kekayaan budaya yang tidak bisa disebandingkan dengan negara-negara lainnya yang sama-sama dalam kerangka wilayah kebudayaan Islam. Dan, di sinilah kita bisa melihat perbedaan antara kebudayaan Islam di Arab dan kebudayaan Islam di Melayu. Begitu juga dengan wilayah kebudayaan Islam di Turki atau di Rusia yang mempunyai karakter dan perbedaan masing-masing yang cukup distingtif.

Telinga kita mungkin sering mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang bahwa kalau masing-masing wilayah kebudayaan yang secara riil memang ada, apakah ini tidak mempengaruhi tingkat kemurnian keislamannya? Dalam proses ini, Islam di dunia baru sering disebut sebagai Islam periferal (pinggiran). Dalam hal ini, Islam di dunia Melayu sering disebut sebagai Islam pikiran, artinya bahwa kedewasaan Islam di Melayu tidak murni lagi. Dengan pengertian lain bahwa Islam di Melayu ini berasal dari berbagai sudut kebudayaan yang melingkupinya sehingga seoal-olah Islam hanya menjadi bagian dari kebudayaan tersebut, dan pengikut ajaran ini akan begitu mudah mencampur-adukkan antara Islam dengan dunia perdukunan, atau hal-hal yang berada di luar kekuatan manusia (ghaib). Jadi Islam murni yang juga percaya kepada alam yang berada di luar kesadaran manusia.

Ada penelitian yang mencoba mengupas atau menjawab persoalan-persoalan ini. Salah satu penelitian yang penting dan sangat monumental adalah sebuah penelitian yang mencoba menguji apakah ketidakmurnian Islam sebagai agama itu karena mereka sering pergi ke dukun, ke kuburan, dan lain sebagainya itu. Adalah suatu ciri yang distingtif, yang khas bagi Islam di Melayu dan tidak terdapat di Timur Tengah, di wilayah kekuasaan atau pun kebudayaan Arab. Beberapa penelitian di Asia Tenggara dan juga di Timur Tengah serta beberapa tempat lain di Iran, menunjukkan bahwa ada beberapa kesimpulan yang perlu diambil yaitu seperti misalnya beberapa Muslim pergi ke dukun lalu melakukan praktek-praktek bakhil atau khurafat. Maka di Timur Tengah juga dilakukan praktek yang serupa yang mungkin lebih kuat lagi dalam menganut kepercayaannya lagi. Sama seperti penayangan film-film yang paling laris di Indonesia, misalnya Nyi Roro Kidul atau Sunan Kalijaga, maka film-film yang laris di Kairo juga film-film seperti itu, yaitu sebuah budaya  mistis berbau tenung, tahayul, dan sebagainya. Kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa Islam di dunia itu lain.

Sebagai Islam yang periferal dari segi ajaran dapat dikatakan bahwa Islam di dunia Melayu adalah Islam yang tegar, bahkan boleh dikatakan Islam yang damai, ramah, dan toleran, sehingga disebut “sinkretis”, oleh karena itu kemudian kemurnian keislamannya diragukan. Maka yang terjadi kemudian adalah bahwa Islam yang paling murni adalah Islam Timur Tengah. Penelitian yang dilakukan oleh Syaifuddin bahwa ukuran-ukuran (asumsi-asumsi) selama ini menunjukkan bahwa Islam di Melayu adalah Islam periferal dalam suatu ajaran, artinya bahwa tidak bisa dipertahankan lagi apalagi dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dari ketujuh akar kebudayaan Islam itu diikat oleh sebuah hegemoni bahasa Arab. Begitu juga dengan serbia, atau Turki. Meskipun dalam kasus selanjutnya, Afrika tidak termasuk dalam  mainstream ini. Dengan adanya bahasa yang beranekaragam, dengan bahasa yang paling populer adalah bahasa Suadini. Meskipun oleh sebagian orang Afrika, bahasa ini tidak banyak digunakan oleh kaum Muslimin di Afrika, tetapi tetap menjadi unsur penyatu di dalam pembentukan wilayah dari ketujuh akar kebudayaan yang dimaksud. Di samping itu, yang menjadi faktor pilihannya adalah apa yang disebut dengan tradition culture, di mana tradisi kebudayaan Arab yang berbeda dengan budaya Melayu yang menjadi kunci dari kebanggaan Islam untuk mencapai tahap-tahap perkembangan selanjutnya. Yang memungkinkan dari adanya ketidakseragaman ini menjadi bukti bahwa Islam tetap utuh dalam mengentaskan ajaran-ajarannya, sehingga yang terjadi kemudian pada wilayah kebudayaan dunia Melayu itu lebih dan hanya sekedar persamaan bahasa, kesamaan tradisi, tetapi bisa dikatakan sebagai kesamaan pengalaman historis, terutama ketika sebelum kedatangan penjajah, dalam hal ini adalah kolonialisme Belanda. Itu pengalaman renaissance di bawah kekuasaan kesultanan-kesultanan atau kerajaan-kerajaan yang terdapat di berbagai wilayah di Nusantara ini.

Jadi, kalau kita berbicara tentang karakter keagamaan, maka kita bisa melihat karakter apa sebenarnya yang ada di seputar kebudayaan Islam Melayu ini. Terutama yang menonjol sebagai karakter keagamaan di sini adalah pluralisme keagamaan. Bahwa budaya Melayu dari segi ke-Islaman yang dominan dalam keagamaannya secara fiqh adalah mazhab Syafi‘i dan secara teologis adalah kalam Asy‘ari. Ini mungkin betul kalau dilihat dari masa lalunya, tetapi di masa sekarang masyarakat pluralistik akan semakin meningkat dan yang kemudian terjadi adalah ketika arus globalisasi semakin tinggi sehingga sebuah identitas suatu kebudayaan dipertanyakan kembali, di mana berbagai aliran dan paham masuk dalam literatur kebudayaan Melayu, maka yang kemudian terjadi adalah semakin menonjolnya pluralisme dalam keberagamaan kita. Dalam hal ini, konteks sejarah Melayu adalah pengalaman nyata yang menjadi dasar dari pluralisme sosial keagamaan di budaya Melayu. Ini bisa dibuktikan ketika pluralisme kebudayaan Melayu tidak menimbulkan bahaya infiltrasi atau kesatuan (wilayah) negara di dalam lingkup budaya Islam pada kebudayaan Melayu itu sendiri.

Karakter yang menonjol kedua dari kebudayaan Islam Melayu selain pluralisme keagamaan adalah munculnya toleransi yang begitu kuat pada setiap pemeluknya. Faktor penyebabnya adalah terutama, pertama, adalah dari faktor budaya atau orang-orang Melayu itu sendiri. Yang kedua, yang sangat relevan dengan Islam adalah  watak yang baik atau sering disebut dengan penetration pasific. Sehingga dilihat dari cuaca penyebarannya sampai sekarang kita bisa melihat bahwa wilayah kultural dunia Melayu sering kita sebut sebagai wilayah penyebaran yang biasa disebut dengan “fundamentalisme” Islam. Dalam hal ini kasus-kasus tersebut jarang kita temukan, dengan catatan itu semua kalau dilihat dalam skala perbandingan dengan dunia Timur Tengah. Karena gerakan yang mungkin bisa disebut “fundamentalisme” hanya pernah muncul sekali di Melayu ketika gerakan Padri muncul di Sumatera Barat dengan menempuh jalan kekerasan, yaitu dengan memaksa kepada kaum Muslimin yang tidak sepaham dengan mereka untuk mengikuti paham mereka.

Ciri yang ketiga adalah “moderat”. Dalam masa kontemporer ini dengan sistem dan lingkungan politik yang lebih toleran, baik terhadap penguasa yang berada di Malaysia maupun di Indonesia. Ini semua bisa dibandingkan dengan rezim-rezim yang berkuasa di Timur Tengah yang lebih opresif terhadap lawan-lawan politiknya. Moderat ini juga dimungkinkan/dimanfaatkan oleh ideologi politik yang berkembang. Baik ideologi politik Malaysia maupun Indonesia adalah ideologi politik yang sesuai dengan Islam. Bahkan Pancasila di Indonesia oleh banyak ulama diakui tidak bertentangan dengan Islam. Tetapi di Malaysia sendiri yang namanya Islam menjadi agama seni sehingga persoalan-persoalan ideologis ini tidak akan pernah terjadi, apalagi kemudian memunculkan konflik. Dengan demikian, tidak ada alasan yang kemudian memunculkan kelompok-kelompok yang mempersoalkan ideologi atau berkeinginan mengubah ideologi.

Praktek keagamaan yang ketiga, yang relevan kita bicarakan dalam perspektif di masa depan termasuk di dalamnya adalah pluralisme, moderasi, dan atau dengan toleransi akan menjadikan Islam sangat akomodatif di dalam pengembangannya ke arah kemajuan dan perkembangan Islam di masa yang akan datang.

Faktor-faktor di atas itulah yang menyebabkan kondisi Muslim di Asia Tenggara ini menjadi lebih banyak mempunyai ukuran pada tingkat mistisnya, ketimbang harus berurusan  dengan urusan fiqh dan syariatnya. Ini pula yang menjadikan landasan sebagian besar kaum Muslimin di Asia Tenggara, yang tidak mempunyai historical golden (latar belakang sejarah yang kuat), sehingga akar kemuslimannya pun carut marut dengan kebudayaan setempat. Berbeda dengan apa yang terjadi di Timur Tengah, di mana ada latar belakang sejarah  yang menghimpit mereka, yaitu kejayaan dinasti Abbasiyah, yang kemudian dijadikan kekayaan bagi historical mereka. Dan kekayaan ini menjadi dasar dalam pencapaian sebuah peradaban baru bagi masa lalunya.

Sebaliknya, kita melihat bahwa kaum Muslimin di dunia Melayu justru (karena tidak ada pembantu sejarah) tidak ambil peduli dengan apa yang disebut dengan kekayaan masa lalu itu. Dan oleh karena itu, eksperimen-eksperimen baru mungkin bisa dilakukan, termasuk eksperimen baru dalam bidang kebudayaan dan di dalam aspek-aspek kehidupan lainnya. Praktek keagamaan yang keempat, yang berkaitan dengan sejarah kontemporer adalah bahwa kaum Muslimin di dunia Melayu lebih banyak menggunakan pendekatan kultural ketimbang politik. Pendekatan kultural itu adalah dengan membangun masyarakat Muslim dengan salah satu upayanya adalah membentuk jaringan Usahawan Melayu Antarbangsa. Ini adalah salah satu bentuk culture approach untuk menyelesaikan, untuk mengatasi, mencoba membangun sosial ekonomi Muslim di serantau ini.

Jadi dalam skala perbandingannya, maka kita melihat bahwa political approach yang mungkin digunakan, baik oleh Indonesia pada tahun 50-an, dan di Timur Tengah yang sampai masa-masa terkahir ini, sering mengalami kegagalan. Apalagi kalau kita lihat di dalam konteks kehidupan di Timur Tengah dalam skala perbandingan bahwa political approach, pendekatan politik ini, itu bound to file, found to press by regime. Dan biasanya ditindas oleh rezim-rezim yang berkuasa, karena kekuasaan yang demikian adalah menjadi watak dan karakter dari suatu kekuasaan yang sulit dihindari. Yaitu kecenderungan menindas bagi lawan-lawan politiknya. Jadi political of court ini lebih dimungkinkan bagi pembangunan yang lebih riil, pembangunan yang lebih menghasilkan, pembangunan yang lebih konkrit bagi bangsa Melayu di dunia ini.

Dari pendekatan kultural ini juga, saya kira fenomena yang muncul di Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir itu muncul dari pendekatan kultural ini. Seperti dalam fenomena yang orang sering menyebutnya sebagai proses santrinisasi kaum Muslimin, yaitu proses peningkatan cinta, rasa terikat kepada Islam, dan sebagainya. Karena itu karakter yang saya lihat di dalam prospek perkembangan Islam di masa yang akan datang, terutama di Melayu ini akan sangat memungkinkan, sehingga tidak berlebihan kalau banyak pengamat yang mengatakan bahwa ‘kebangkitan Islam‘ akan muncul dari dunia Melayu, dari Asia Tenggara ketimbang dari Timur Tengah, yaitu sering disebut orang sebagai center of continue (secara terus menerus).

Kalau kita mencoba merefleksi sejarah lebih jauh lagi, maka ada beberapa hal yang mungkin penting saya kemukakan di sini dalam kaitannya dengan pokok dari seminar ini, yaitu mengenai pembentukan jaringan keusahaan. Maka kami mencoba mengambil posisinya dari sejarah. Pertama, berkaitan dengan konteks perkembangan Islam dan indikasinya terhadap perkembangan sosial budaya, dan sebagainya. Kebangkitan Islam di Asia Tenggara pada masa perdagangan; masa perdagangan itu kira-kira pada abad ke-14 sampai abad ke-17. Justru pada abad ini terjadi kebangkitan Islam, sehingga Islam menjadi agama mayoritas di Asia Tenggara ini. Ada beberapa faktor yang penting di sini, bahwa terdapat korelasi yang positif di antara masa perdagangan, dan masa perdagangan adalah masa kesultanan-kesultanan yang menjadi pusat perdagangan, menjadi lintas samudera, lintas benua bagi perdagangan internasional. Jadi pada masa itulah masa gong perdagangan dari kesultanan-kesultanan ini secara prakteknya melakukan perdagangan. Dan kenapa pada masa perdagangan dan kesultanan terjadi Islamisasi agama di Asia Tenggara, sehingga mayoritas penduduknya beragama Islam. Ada beberapa faktor, yang pertama, yang paling penting, adalah bahwa Islam itu dijadikan power. Political power, terjadi karena pada waktu itu para sultan melihat bahwa daerahnya dikuasai oleh masyarakat Muslim, maka Islam menjadi menarik bagi orang-orang yang berorientsi pada politik. Dan inilah salah satu faktor yang mendorong proses terjadinya Islamisasi. Faktor yang kedua adalah kekayaan (wealth), yang tadi sudah saya gambarkan bahwa negara-negara atau kesultanan-kesultanan yang ada di Nusantara ini, menjadi pusat perdagangan, pusat lintas perdagangan dunia. Oleh karena itu Islam menjadi elit, jadi kalau orang ingin kaya ya... masuk Islamlah ia, atau ingin bergengsi, mereka akan masuk Islam. Inilah yang mendorong perkembangan Islam  secara fenomenal dalam kerangka perkembangan Islam di Nusantara ini.

Kemudian apa indikasi pada masa perdagangan, kemudian Islamisasi. Kenapa terjadi korelasi positif di antara the x of promise, di mana masa kesultanan-kesultanan ini yang menguasai perdagangan dengan perkembangan kemajuan-kemajuan, terutama kemajuan intelektualisme Islam. Masa ini adalah masa kejayaan kesultanan, kekayaan yang memberikan patronase terhadap para ulama, pemikir sehingga dengan patronase yang diberikan mereka mampu berkarya dengan karya yang besar. Jadi semua itu berkaitan erat dengan kemajuan ekonomi yang berkembang pada saat itu.

Yang kedua adalah apa yang biasa disebut dengan kemajuan jaringan ulama, karena ada dukungan patronase dari penguasa maka memungkinkan terjadinya perjalanan ulama ke tempat lain, atau ke ulama lain. Sehingga transmisi keilmuan, transmisi intelektual keislamannya menjadi lebih tertib. Oleh karen itu, tidak mengherankan kalau orang seperti Hamzah Fansuri dilaporkan pernah pergi ke daerah semenanjung Banten, atau di Sumatera. Ini tidak mengherankan. Ini semua bisa terjadi karena pertama, faktor ekonomi yang memberikan kemajuan, dan yang kedua proses kesultanan yang memberikan patronasenya kepada para pemikir dan ulama di zamannya, yang pada gilirannya para ulama ini tersebar di seluruh Nusantara, dan karya-karya mereka tersebar sampai ke pelosok yang lebih jauh, seperti karya Sumatrani dan sebagainya itu akan cepat tersebar ke segala penjuru dengan mobilitas ulama yang tinggi.

Kemudian kolonialisme datang, pada abad ke-17 terjadi konsolidasi kekuasaan, maka yang terjadi kemudian adalah distorsi, betul-betul distorsi tidak hanya dalam bidang politik, tetapi dalam bidang ekonomi pun terjadi. Inilah yang kemudian terjadi apa yang disebut oleh syeh Husen Alatas dengan repartasi dalam kehidupan pribumi, sehingga kemudian orang-orang Muslim pribumi hanya mampu menjadi pedagang kecil, pedagang patungan. Satu hal lagi yaitu dengan diterapkannya sistem monopoli oleh kolonialisme, dalam hal itu kolonialisme Belanda, itu menimbulkan atau mengakibatkan kemunduran ekonomi yang parah bagi pribumi karena diterapkannya sistem monopoli Belanda. Karena monopoli ini semuanya menjadi tidak terkontrol, dan terjadilah pengkayaan kekuasaan. Jadi, inilah yang terjadi pada waktu itu pada masyarakat pribumi, masyarakat bumi putera Melayu.

Kalau kita melihat dari pengalaman sejarah ini, saya melihat bahwa jaringan usahawan yang harus kita perhatikan adalah unsur dari membangkitkan tradisi budaya, tradisi politik yang telah menjadi bagian dari sejarah perkembangan Melayu Raya ini. Cuma ada satu masalah dalam hal ini, yaitu adalah apa yang disebut dengan travel dari para ulama pada saat itu, yang kita kembangkan dalam masa kini. Yaitu dengan adanya arus informasi bagi perkembangan intelektualisme sekarang ini yang tidak seimbang. Ini adalah satu persoalan yang mungkin harus diatasi. Arus informasi tentang pemikiran keagamaan di Malaysia tidak banyak menyebar di Indonesia, sehingga tidak seimbang. Dan menjadi satu masalah konkrit yang ada di depan mata, yaitu tentang intelektualisme. Jadi kesimpulannya, yaitu bahwa arus informasi intelektualisme di Asia Tenggara ini sudah begitu parahnya. Jadi harus diciptakan secara lebih berimbang untuk mengatasi semua.

____________________
Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal Ulumul Qur‘an No. 1.VII/TH 1996


Dibaca : 4.249 kali.

Tuliskan komentar Anda !