Selasa, 18 Agustus 2026 |Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 514
Hari ini
:
9.139
Kemarin
:
22.556
Minggu kemarin
:
179.363
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
28 november 2008 04:12
Panggung Bangsawan Bengkulu
Oleh: Agus Setiyanto
Konon, seni pertunjukan teater rakyat yang disebut “Panggung Bangsawan” ini berasal dari Wayang Parsi (Persia, Iran) yang dibawa oleh orang-orang Majusi ke Pulau Penang tahun 1870-an. Wayang Parsi ini kemudian diadopsi oleh Abu Muhammad Adnan alias Mamak Phusi yang memperkenalkan sandiwara gaya komedi stambulnya dengan nama “Phusi Indra Bangsawan of Penang”. Kelompok kesenian ini kemudian lebih populer dengan sebutan “Wayang Bangsawan” atau “Indra Bangsawan”.
Teater rakyat Bangsawan ini diperkirakan masuk ke Pulau Penyengat (salah satu pulau di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau) pada tahun 1906-an. Dan selanjutnya lebih berkembang di wilayah Daik–Lingga dan Dabo–Singkep (Riau) dengan nama Komedi Bangsawan atau Panggung Bangsawan. Panggung Bangsawan ini juga menyebar ke berbagai wilayah dengan sebutan (istilah) yang berbeda-beda, seperti “Bamanda” atau “Mamanda” (Kalimantan Selatan); “Bakda Muluk” atau “Dul Muluk” dan “Bangsawan” (Sumatera Selatan); “Sinlirik” (Sulawesi Selatan);“Tonil Sambrah” (Betawi); dan sebagainya.
Di Bengkulu sendiri, konon katanya di daerah Padang Ulang Tanding (Kabupaten Lebong) pernah berkembang sebuah seni pertunjukan teater rakyat yang juga disebut “Komedi Bangsawan” atau “Bangsawan” saja. Persisnya tidak diketahui apakah ada pengaruh dari “Bangsawan” Sumatera Selatan atau “Komedi Bangsawan” Riau.
Bung Karno semasa pengasingannya di Bengkulu (1938—1942) juga sempat mempopulerkan sandiwara tonil yang diberi nama “Monte Carlo”. Beberapa karyanya yang sempat meledak dan menjadi “box office” (laris manis) yaitu Rainbow (Poetrie Kentjana Boelan), dan Dokter Pengiblis Sjetan. Tetapi, sebelumnya (tahun 1937), di Bengkulu sudah ada pertunjukan tonil. Sayangnya, tulisan pada foto yang saya temukan tidak bisa menjelaskan lebih jauh karena hanya terbaca tulisan “Pertoendjoekan Tooneel Redde Krus Tiongkok8 - 9 – 37”.
Tetapi munculnya sandiwara tonil Panggung Bangsawan Bengkulu yang dipopulerkan oleh Komunitas Seniman Bengkulu (KSB) sejak tahun 2000 tidak sekedar menambah deret panjang sejarah perkembangan teater rakyat di Indonesia. Boleh jadi, atau bahkan lebih tepatnya sebagai pertanda upaya gerakan revitalisasi budaya lokal atau local wisdom (kearifan budaya). Seperti yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya “Rejung Pasirah” di Sumatera Selatan; Ketoprak Humor –Ketoprak Campursari- Ludruk Glamour (di layar kaca), dan sejenisnya.
Upaya revitalisasi seni pertunjukan Panggung Bangsawan juga telah dilakukan oleh masyarakat Melayu Riau-Lingga. Menuruthasil penelitian Sutamat Arybowo dalam disertasinya yang berjudul “Panggung Bangsawan Studi Politik Kebudayaan Di Daerah Riau Lingga: Perspektif Kajian Budaya”disebutkan, bahwa setelah Revitalisasi Budaya Melayu tahun 2004, pemahaman tentang alam budaya Melayu sudah mulai mencair. Identitas–jatidiri budaya Melayu tidak lagi berdasarkan pada konvensi religius tertentu, tetapi sudah mengarah pada pluralistik-kultural.
Di tengah ancaman krisis kebudayaan, munculnya sandiwara tonil Panggung Bangsawan Bengkulu merupakan sebuah langkah strategis dalam upaya penguatan identitas produk budaya lokal. Ceritera-ceritera lokal seperti Putri Gading Cempaka, Ratu Samban, Raja Lelo, Putri Serindang Bulan, Putri Kencana Bulan (Rainbow) yang dikemas dengan gaya komedi stambul ternyata lebih menarik dari ceritera pakemnya. Dan lebih menariknya lagi, karena didukung oleh para pemain yang memiliki latar belakang pendidikan, pekerjaan, agama, serta suku bangsa yang berbeda. Bahkan, tak jarang menghadirkan bintang tamu dari kalangan elite politisi, akademisi, maupun petinggi (pejabat) daerah.
Karenanya, tak mengherankan jika setiap ada pertunjukan Panggung Bangsawan Bengkulu selalu dipenuhi oleh penonton. Sayangnya, Panggung Bangsawan Bengkulu hingga saat ini masih bergantung pada sponsorship-nya. Dan memang belum juga menjadikan sebagai andalan pekerjaan bagi para senimannya. Dengan kata lain, bermain di Panggung Bangsawan Bengkulu semata hiburan dan menambah teman pergaulan. Namun demikian, “added value”nya (nilai tambahnya) masih tetap dipertahankan, yaitu sebagai sebuah gerakan kesadaran untuk lebih mencintai produk budaya lokal. Bukankah ini sebuah daya tarik wisata budaya di Bengkulu?
_______________________
Agus Setiyanto, dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu, lulusan Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jurusan Humaniora, Program Studi Ilmu Sejarah tahun 1996.
Sumber : Kiriman Agus Setiyanto melalui email di info@melayuonline.com Kredit foto : http://agussetiyanto.wordpress.com/