Close
 
Selasa, 18 Agustus 2026   |   Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 520
Hari ini : 9.194
Kemarin : 22.556
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

19 desember 2008 04:56

Menjejak Seni Pertunjukan karya BUNG KARNO

Menjejak Seni Pertunjukan karya BUNG KARNO
Bung Karno ditengah para pemain Rainbow

Oleh: Agus Setiyanto

Jika Anda sempat berkunjung ke Bengkulu, dan menyinggahi rumah bekas pengasingan Bung Karno,  Anda masih dapat  melihat eks properti (barang-barang) sandiwara tonil peninggalan Bung Karno. Ada beberapa kostum, layar, spanduk, serta atribut sandiwaranya. Tetapi, Anda mungkin belum tahu banyak, bahwa Bung Karno, semasa pengasingannya di Bengkulu (1938-1942), pernah sukses sebagai penulis naskah, sutradara, manajer, dan sekaligus produser sandiwara tonil yang diberi nama “Monte Carlo”.  

Sayangnya, dari sekian banyak naskah yang pernah ditulisnya,  hanya tersisa empat buah naskah, yaitu: Dr. Sjaitan; Chungking Djakarta; Koetkoetbi; dan Rainbow (Poteri Kentjana Boelan). Bahkan, teks naskah Dr. Sjaitan sudah tidak lengkap –hanya ada dua bedrijf (babak) saja– di mana semestinya terdiri atas enam babak (Lambert Giebels, 1999: 201). Namun, melalui beberapa narasumber lokal, kandungan ceritera naskah Hantoe Goenoeng Boengkoek, Dr. Sjaitan, maupun Si Ketjil (Klein’duimpje) dapat direkonstruksi.

Cermin Wawasan Kebangsaan

Dalam hal penulisan naskah, Bung Karno rupanya tidak mau asal-asalan.  Ia berusaha mempelajari berbagai macam cabang ilmu pengetahuan, termasuk ilmu sejarah dan sastra –bahasa. Referensi pengetahuan serta wawasan kebangsaan Bung Karno yang sangat luas menjadi entitas yang tak terpisahkan dalam mengimplementasikan proses gagasan atau ide kreatifnya.  Tanpa hal tersebut, akan sulit bagi seorang Bung Karno dalam menciptakan ide-ide kreatif, seperti menginterpretasi film Franskenstein yang amat populer pada saat itu menjadi lakon Dr. Sjaitan dan Koetkoetbi.

Konsep wawasan nasionalisme (wawasan kebangsaan) yang dibangun oleh Bung Karno terbaca jelas dalam naskah Chungking Djakarta. Naskah ini menggambarkan  semangat kesadaran nasionalisme bangsa Asia melawan bangsa kolonial. Apa yang dicita-citakan oleh Bung Karno dalam konsep pembangunan politiknya, misal membangun poros Jakarta – Peking, bisa jadi sudah tertuang dalam naskah Chungking Djakarta.

Demikian juga dengan naskah Rainbow (Poetri Kentjana Boelan). Tanpa wawasan pengetahuan sejarah, khususnya sejarah Bengkulu, sulitlah bagi Bung Karno ujntuk mampu menuangkan cerita epik yang berbau historis dalam naskah tersebut.  Mungkin saja,  Bung Karno juga membaca Tambo Bangkahoeloe sebelum menulis naskah Rainbow. Bung Karno amat cerdas menggiring alur cerita berbau roman sejarah yang penuh semangat patriotik, meskipun dalam cerita tokoh sentral yang romantis berakhir dengan tragis atau “romantis membawa tragis”. Bisa jadi, naskah Rainbow ini merupakan naskah karya Bung Karno yang dapat dikategorikan ke dalam karya sastra sejarah atau tepatnya roman sejarah.

Penyutradaraan Gaya Soekarno

Ada hal menarik dan cukup menonjol tentang perbedaan ketika Bung Karno memimpin sandiwara Kelimutu dengan ketika ia memimpin sandiwara Monte Carlo, terutama dalam penerapan naskah. Ketika di Endeh, Bung Karno menulis naskah-naskahnya secara garis besar saja, kemudian disampaikan kepada kelompok pemain, lalu menetapkan siapa memegang peran apa, dan selanjutnya mereka  disuruh menghafalkan dengan terus mengulang, serta menirukan contoh yang diberikannya (Lambert Giebels, 2001: 200).  Sedangkan dalam Monte Carlo, Bung Karno menulis naskah secara lengkap, meski dalam pelaksanaannya tak jauh berbeda dengan ketika memimpin Kelimutu. Bung Karno tetap mendiktekan naskahnya kepada para pemain yang sudah dipilihnya dan disuruh menghafal secara terus-menerus, serta menirukan perkataan serta gerakan yang diberikannya.

Gaya Bung Karno ini agak berbeda dengan gaya kelompok sandiwara komersial seperti Miss Riboet, Oreon, Dardanella, Komedi Bangsawan, Komedi Stamboel, dan sejenisnya. Sebagaimana digambarkan oleh Bakdi Soemanto, gaya Bung Karno merupakan kelompok yang mempertahankan jagad pikir kebudayaan oral karena cara bermain lebih loose, dan bebas dari segala patokan (Bakdi, 2001:266).  Termasuk juga jenis sandiwara Ludrug gaya stamboel Jawi, sebagai kelanjutan dari bentuk Ludrug Besutan asal Jawa Timur (J.J. Ras, 1985: 311-318).


Soekarno bersama pemain usai pentas Rainbow

Dalam naskah gaya Bung Karno, tidak terdapat monolog yang memberi peluang atau ruang gerak pada pemain (aktor) untuk berkomunikasi dengan penontonnya –menyapa dengan audien– seperti yang dilakukan gaya monolog dalam Ludrug, maupun Lenong Betawi. Contoh gaya monolog Lenong Betawi ialah monolog yang diucapkan pada permulaan adegan dengan tujuan memperkenalkan tokoh yang akan diperankan berikut situasi lingkungannya (Ninuk Kleden-Probonegoro, 1996:42).

Demikian juga dalam hal pemilihan tema atau lakon yang dipentaskan.  Bung Karno mencoba menggabungkan alias memasukkan unsur (konsep) teater modern  dengan tetap menggunakan  setting layar berdasarkan latar belakang tempat dan peristiwa kejadiannya. Berbeda dengan konsep drama atau teater modern yang menggunakan setting tak sekedar latar belakang, tetapi juga unsur yang membangun perkembangan struktur dramatik lakon dari awal hingga akhir (Bakdi, 2001: 268).

Sementara, pada kelompoknya Miss Riboet yang bertahan hingga lima belas tahunan dan Dardanella yang mampu bertahan hingga dua dekade, lebih mengedepankan gaya dalam bentuk nyanyian yang disajikan melaui lagu-lagu sindiran, sinis, dan simbolis (Mohamad Nazri Ahmad, 2000: 33).

Bung Karno disamping menyiapkan berbagai macam layar gambar dan properti lainnya, juga menambahkan trik-trik dengan teknik yang menyerupai peristiwa kejadiannya. Seperti teknik menggunakan  lembaran zink (seng), blik (kaleng), pasir, kerikil atau batu-batuan, bubuk zat peledak, dan lain-lain untuk menirukan  suara gemuruh angin, hujan, petir, halilintar, dan lain-lain. Bung Karno juga menggunakan peralatan elektrik dengan kabel-kabel stroom.

Sebagai Sutradara

Menurut catatan Kalam Hamidi (2003: 40), dalam hal penyutradaraan, secara teoretis seorang sutradara harus memiliki modal pengalaman, pengetahuan, berbakat pemimpin atau guru, kemampuan meyakinkan para aktor, serta pengetahuan psikologi. Penekanan-penekanan Hamidi tersebut sudah dilakukan oleh Bung Karno ketika menjadi sutradara dalam pementasan sandiwara Monte Carlo.

Lebih lanjut, sebagai sutradara, Bung Karno jelas memberikan latihan terhadap para pemainnya. Dan tentu saja, sebelumnya Bung Karno telah melakukan seleksi para pemainnya untuk menentukan tokoh dan peran. Selain itu, Bung Karno juga menyiapkan jadwal dan tempat latihannya, gladi resik, hingga persiapan pementasannya.  Bung Karno membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu untuk melatih para pemainnya.

Bung Karno sangat teliti dalam urusan yang kecil-kecil, termasuk memeriksa kenyamanan dan keamanan lantai panggung yang akan digunakan oleh para pemain, seperti memeriksa kalau ada paku-paku yang membahayakan. Kesuksesan pertunjukan Monte Carlo ternyata tidak hanya berimbas pada kesejahteran bagi para pemainnya saja, tetapi juga berimbas pada yang lainnya karena sebagian dari hasil pertunjukannya ternyata  diamalkan untuk kepentingan sosial.

Sebagai pemimpin sandiwara, Bung Karno menyadari bahwa musik memegang peranan yang sangat penting. Tanpa illustrasi musik, pertunjukan seni jenis apapun takkan pernah berhasil. Karenanya, dalam hal penataan musik, Bung Karno mempercayakan penuh kepada Manaf Sofiano yang piawai dalam memainkan alat musik piano maupun saxofon.  Bahkan, di antara para pemain Monte Carlo, Manaf Sofiano dianggap yang terbaik oleh Bung Karno dan karena itu Bung Karno secara jujur telah memujinya sebagai seorang primadonna (Cindy Adams, 1966: 206).

Pada acara pertunjukan, Bung Karno tidak menempatkan diri dibelakang layar, seperti halnya yang biasa dilakukan oleh para sutradara pada pertunjukan sandiwara Kethoprak maupun Ludrug. Bung Karno justru duduk di kursi barisan depan sejajar dengan para pembesar Belanda, elite pribumi, pengusaha (saudagar), dan orang-orang Tionghoa yang biasanya mengambil karcis loge de luxe (tempat duduk VIP).   

Produser Yang Melampaui Zamannya

Kepiawaian Bung Karno sebagai produser sandiwara Monte Carlo boleh dibilang cukup mengagumkan karena keberhasilannya menyelesaikan pekerjaan yang rumit. Mulai dari merancang, menulis naskah, mencari pemain, menyeleksi pemain, membagi peran, merancang tonil, menyiapkan kain, melukis layar, menyiapkan properti, menyiapkan spanduk, penyebaran pamlet, percetakan, menyiapkan promosi dengan kendaraan keliling, menyiapkan tempat pentas, menyiapkan dana produksi, menyiapkan tiket, mengundang penonton, membuat jadual latihan, gladi resik, hingga jadual pementasan semua berada dibawah tanggungjawab dan pengawasan Bung Karno.

Bung Karno memilih Hanafi dan M. Zahari Thanie, serta Sjoufi, untuk memeran tokoh perempuan. Sementara, Bu Inggit melakukan pekerjaan yang sama ketika di Endeh, yaitu sebagai penata rias. Belakangan nama Hanafi ditambah namanya menjadi A.M. Hanafi (A.M kepanjangan dari Anak Marhen). Setelah Bung Karno menjadi Presiden RI, A.M. Hanafi pun diangkat sebagai Duta Besar untuk Kuba (A.M. Hanafi, 1996: 22).

Bung Karno menyiapkan pamflet yang promosinya sangat memikat para pembacanya. Isi pamfletnya selain mengundang rasa penasaran, juga memberikan informasi menarik serta menyertakan harga karcis tanda masuk. Pada sore hari menjelang pertunjukannya, Bung Karno mengadakan programa keliling, yaitu mengarak para pemain yang akan tampil nanti malam untuk berkeliling kota dengan menyewa mobil. Di samping  menyewa mobil untuk mengarak para pemain, Bung Karno juga menyewa gedung tempat pertunjukannya, yaitu gedung bioskop Royal Cinema dengan cara mengangsur (menyicil).

Sayang, hingga kini belum ada pelaku seni maupun produser yang berminat mengadaptasi lakon-lakon yang pernah dipentaskan Bung Karno. Jangan-jangan, memang belum ada yang tahu?

Sumber dan kredit foto: Agus Setiyanto


Dibaca : 2.874 kali.

Tuliskan komentar Anda !