Close
 
Selasa, 18 Agustus 2026   |   Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 400
Hari ini : 8.438
Kemarin : 22.556
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

11 maret 2009 03:32

Budaya Melayu Sebagai Lokomotif Persatuan Dunia

 Budaya Melayu Sebagai Lokomotif Persatuan Dunia

Oleh: Tengku Dahril

Keberhasilan bangsa Indonesia meredam gejolak internal melalui perdamaian di Aceh, Poso, Maluku dan Papua serta kemampuan bangsa Indonesia memperkuat ketahanan pangan melalui swasembada beras pada tahun 2008 merupakan prestasi gemilang yang pantas untuk disyukuri. Indonesia merupakan sebuah bangsa besar yang sangat majemuk. Banyak suku bangsa dunia bermukim di sini di samping suku bangsa asli yang beragam warna kulit dan tutur bahasanya. Kebudayaan dan agama yang berbeda juga bisa hidup dan berkembang di sini. Namun semua itu dapat disatukan dalam suatu ikatan kekeluargaan besar yang disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negaranya. Berbeda tapi satu, satu dalam perbedaan. Menjadi mottonya.  Bhinneka Tunggal Ika, itulah Indonesia.

Bahasa melayu menjadi bahasa pemersatu yang sangat strategis. Ke mana pun kita pergi, di mana pun kita berada di seantero republik ini, hampir tidak ada orang yang tidak paham dengan bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia, bahasa yang memperrsatukan Indonesia. Bahasa Melayu ternyata bisa menjadi bahasa besar. Kita yang hidup di bumi melayu Riau sepantasnya bersyukur dan berbangga hati karena bahasa kita sudah bisa menjadi bahasa Indonesia dan juga bahasa dunia..

Bisakah bahasa melayu Indonesia benar-benar menjadi bahasa pemersatu dunia? Jawabannya pastilah mungkin bisa jika mulai sekarang kita bisa  memperjuangkannya. Satu hal yang paling penting dan pantas untuk disyukuri, Presiden Amerika Serikat saat ini bisa berbahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia. Karena itu, saat ini adalah momentum yang paling tepat dan saat yang sangat menentukan bagi kita untuk memperjuangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa sekaligus bahasa dunia. Melalui pernyataan lisan Barack Husien Obama kita berharap akan tercetus dukungannya untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi PBB.

Namun satu hal yang teramat penting yang harus kita perjuangkan bahwa kita perlu mempromosikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia dengan mengajak dan mengajar orang untuk belajar bahasa Indonesia. Semakin banyak orang yang belajar dan memahami bahasa Indonesia, akan semakin banyak pula orang yang akan tertarik dengan Indonesia dan semakin ingin berkunjung ke Indonesia. Kita bersyukur bahwa Barack Husien Obama ternyata tidak lupa dengan Indonesia dan bahasa Indonesia. Dia sudah pernah menelpon dan berbicara dalam bahasa Indonesia dengan Presiden SBY. Sebagai bukti ketidaklupaannya kepada Indonesia adalah dikirimkannya Menteri Luar Negerinya dalam waktu dekat ini ke Indonesia bersamaan dengan kunjungan perdananya ke negara-negara lain di dunia. Dia sendiri juga merancang akan berkunjung ke Indonesia dan menjadikan Indoensia sebagai salah satu negara prioritas yang akan dikunjunginya dalam waktu dekat ini.

Hal ini meruakan sebuah peluang yang sulit untuk berulang. Karena itu bangsa Indonesia benar-benar harus bisa memanfaatkan momentum ini untuk menjadikan Indoensia sebagai sebuah bangsa besar yang ikut menentukan ketertiban dan perdamaian dunia. Kita sudah membuktikan bahwa kita bisa menyatukan negeri kita yang beragam, kita juga Insya Allah bisa menyatukan dunia.

Untuk itulah saya bercita-cita menjadikan perkampungan masyarakat dunia (International Society Villages) di Pulau Rupat sebagai perkampungan yang bisa menyatukan kebudayaan dunia yang beragam. Bahasa, sastra, dan budaya Melayu akan berkembang dan dihargai jika kita juga bisa menghargai bahasa, sastra dan budaya dunia. Karena itu kita perlu membangun kerjasama dengan masyarakat dunia tersebut dengan membangun perkampungan dunia. Kita perlu berupaya melibatkan atase kebudyaan negara-negara sahabat yang ada di Jakarta sebagai langkah awal dalam membangun perkampungan masyarakat dunia tersebut.

Saya sangat berkeyakinan bahwa hanya dengan sentuhan kebudayaanlah dunia akan bisa disatukan. Setiap orang atau suku bangsa di dunia harus saling memahami dan saling mengharagi satu sama lain dengan mengharga adat istiadat dan budaya masing-masing. Orang akan paham kalau mereka mengetahui. Oleh karena pengetahuan mengenai adat istiadat dan budaya ini perlu diupayakan, maka Universitas Sastra dan Budaya dunia mungkin perlu kita bangun di Rupat sehingga semua orang bisa belajar di sana.

Saya sebenarnya sangat ingin menawarkan peluang dan kesempatan ini kepada salah satu perguruan tinggi terkemuka di Riau. Sepertinya Universitas Lancang Kuning dengan Fakultas Sastra Melayu-nya sangat berpeluang untuk menjadi dasar dalam membangun pusat kebudayaan masyarakat dunia yang dimaksud. Andaikan kita bisa bekerjasama dengan atase kebudayaan negara-negara sahabat di Jakarta maka proses pembangunan kampus Universitas Sastra dan Budaya dunia serta perkampungan masyarakat dunia ini akan lebih cepat terlaksana. Guru, dosen, dan para pengajar dari masing-masing kebudayaan serta segala fasilitas yang dibutuhkan akan dapat kita upayakan melalui kerjasama dengan atase kebudayaan negara-negara sahabat tersebut.

Langkah awal yang perlu kita lakukan tentu membangun kelembagaan yang mengurusnya. Siapakah lembaga yang paling tepat dalam membangun kebersamaan ini? Jawaban yang paling tepat agaknya adalah lembaga pendidikan tinggi. Perguruan tinggi memiliki dasar hukum yang paling kuat dalam membangun kerjasama dengan pihak manapun, dan mereka juga bisa membangun kerjasama dalam bidang kebudayaan. Pendidikan juga bisa mendatangkan murid dan guru dari manapun, karena dunia pendidikan diakui secara internasional. Karena itu kepada dunia pendidikan yang ada di Riau harus memiliki optimisme untuk menyatukan dunia melalui wadah kerjasama kebudayaan.

Langkah kedua tentu saja menyiapkan lokasi serta lahan yang akan dijadikan kampus sekaligus sebagai perkampungan masyarakat dunia tersebut lengkap dengan fasilitasnya. Jika memungkinkan setiap negara akan disediakan lahan sekurang-kurangnya dua hektar sehingga bisa dibangun fasilitas kantor, bangunan pendidikan, dan segala sarana prasarana kebudayaan negara masing-masing. Mereka diberi peluang untuk mengajar bahasa, sastra serta kebudayaan masing-masing mulai dari bentuk bangunan, sarana prasarana kebudayaan serta segala hal yang berhubungan dengan kebudayaannya. Dengan demikian perkampungan ini benar-benar bisa hidup dan menjadi laboratorium budaya sekaligus perpustakaan. Siapapun yang berkunjung dan belajar di sini pasti akan dapat memahami kebudayaan dunia yang beragam tersebut.

Kita juga tentu saja tidak akan pernah lupa untuk membangun perkampungan Melayu Riau secara terintegrasi. Siapapun yang berkunjung dan belajar ke perkampungan ini diharapkan bisa memahami bahasa, budaya, dan adat istiadat Melayu Riau. Dengan cara itulah visi Riau 2020 terwujud dan akan menjadi kenyataan. Semakin banyak orang yang berkunjung dan belajar ke Riau, maka akan semakin besar pula peluang Riau menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan Melayu, bukan saja di kawasan Asia Tenggara tetapi juga di dunia. Mari kita bangun dunia dengan membangun kebersamaan di antara seluruh masyarakat dunia. Kehadiran Presiden Amerika Serikat yang memahami bahasa dan kebudayaan Melayu Indonesia kita jadikan sebagai momentum untuk mengangkat  harkat dan martabat bangsa Indonesia di dunia internasional.

__________

Tengku Dahril, Budayawan Melayu Tinggal di Riau

Kredit foto: http://fc95.deviantart.com/


Dibaca : 3.561 kali.

Tuliskan komentar Anda !