Senin, 17 Agustus 2026 |Tsulasa', 3 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 189
Hari ini
:
8.231
Kemarin
:
23.793
Minggu kemarin
:
179.363
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
24 maret 2009 03:58
Warisan sejarah Kesultanan Buton di Belanda
Delapan Pucuk Surat Raja Buton Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden
Sultan Buton
Oleh Suryadi
Dalam tulisan singkat ini saya ingin menginformasikan bagian dari khazanah budaya dan sejarah Sulawesi Tenggara (Sultra) yang berada di luar negeri, yaitu koleksi surat-surat Raja Buton yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden (Perpustakaan Universitas Leiden) di Leiden, Belanda. Semoga informasi ini bermanfaat bagi pemerintah, kalangan akademisi, dan pemerhati budaya di Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara, dan lebih khusus lagi pemerintah, intelektual, dan masyarakat Buton.
Ketertarikan saya terhadap khazanah pernaskahan Buton yang bernilai tinggi itu, yang banyak mengandung informasi sejarah mengenai daerah ini di masa lampau, bermula ketika saya memeriksa koleksi naskah Nusantara yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan beberapa perpustakaan dan museum lainnya di Belanda. Kandungan isi beberapa surat Sultan Buton yang tersimpan telah pernah saya sampaikan dalam sebuah makalah yang dibentangkan dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara IX di Bau-Bau (2-5 Agustus 2005).
Surat-surat Raja Buton yang tersimpan di Perpustakaan Universitas (selanjutnya ditulis: UB) Leiden semula berasal dari koleksi institusi yang bernama Rijks-Instelling tot Opleiding van Indische Ambtenaren (Perguruan Tinggi Pemerintah untuk Pegawai Sipil Hindia Belanda) yang didirikan di Leiden tahun 1864. Dapat diduga bahwa surat-surat tersebut dulunya berasal dari arsip Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda di Batavia. Belakangan, mulai 1871, koleksi itu dihibahkan ke UB Leiden.
Di dalam tabel berikut disajikan data kodikologis surat-surat tersebut, sehingga akan memudahkan para peneliti lain untuk melihatnya di UB Leiden jika ada yang berminat untuk menelitinya lebih lanjut. Kata “Cod. Or” adalah singkatan dari Codex Orientalis, yaitu kode bibliografis untuk ribuan naskah Nusantara yang kini tersimpan di UB Leiden Leiden.
Surat Raja-raja Buton yang tersimpan di Perpustakaan UniversitasLeiden, Belanda
No
Kode naskah
Pengirim
Tarikh (H) / Konversi (M)
Diterima di Batavia
1
Cod. Or. 2242-II (3) [no.82]
Sultan Muhyiuddin Abdul Gafur
22 Muharram 1203/
23 Oktober 1788
23 Oktober 1788
2
Cod. Or. 2240-Ia (15) [no.81]
Idem
22 Muharram 1206/
21 September1791
9 Oktober 1792
3
Cod. Or. 2240-Ia (24) [no. 127]
Idem
8 Rabiulawal 1207/
22 Oktober 1792
31 Oktober 1794
4
Cod. Or. 2240-Ia (38) [no. 171]
Idem
28 Rabiulakhir 1211/
31 Oktober 1796
1 November 1796!
5
Cod. Or. 2240-Ia (44) [222]
Idem
20 Rabiulakhir 1213/
1 Oktober 1798
24 September 1799
6
Cod. Or. 2242-II (15)[no. 246]
Sultan Dayyan Asraruddin
21 Jumadilawal 1216/
29 September 1801
18 Oktober 1802
7
Cod. Or. 2242-II (16) [no. 399]
Idem
6 Rabiulakhir 1217/
6 Agust 1802
23 August 1804
8
Cod. Or. 2233 (55)
SultanKaimuddin I
1 Sapar 1237/
28 October 1821
kepada Kololonel Van Schelle di Makassar
Lima surat pertama (no. 1-5) berasal dari Sultan Muhyiuddin Abdul Gafur, Sultan Buton ke-26 (berkuasa 1791-1799). Sedangkan tiga surat yang lain berasal dari Sultan Dayyan Asraruddin (no. 6 dan 7) dan Sultan Kaimuddin 1 (no.8). Dayyan Asraruddin adalah Sultan Buton ke-27 (berkuasa 1799-1822?) dan Kaimuddin I adalah Sultan Buton ke-29, (berkuasa 1821?-1851).
Isi kedelapan surat itu sangat menarik dan jelas bermanfaat untuk kajian sejarah dan sastra klasik Sultra, Buton khususnya. Surat-surat itu mengandung banyak informasi mengenai peristiwa sosial, politik, ekonomi, dan budaya di Kesultanan Buton pada akhir abad ke-18. Antara lain diceritakan tentang pemberontakan di Kalincusu dan Wowoni, peristiwa kebakaran Istana Wolio tahun 1792 yang menghanguskan gudang senjata dan banyak rumah pejabat di sekitar istana, dan lain sebagainya. Di dalam surat-surat itu juga terekam berbagai informasi mengenai hubungan politik antara Istana Wolio dan Belanda, serta beberapa peristiwa maritim yang terkait dengan kedatangan kapal-kapal Belanda dan Inggris diperairan Buton.
Semua surat itu ditulis dalam aksara Jawi dan berbahasa Melayu. Saya sudah mengalihaksarakan (mentransliterasikan) semua surat surat itu ke dalam aksara Latin. Transliterasi lima surat pertama sudah dipresentasikan dalam Simposium InternasionalPernaskahan Nusantara IX di Bau-bau (5-8 Agustus 2005), yang kemudian diterbitkan dalam Jurnal Sari (Universiti Kebangsan Malaysia) No. 25 (2007), hlm. 187-239. Tiga surat terakhir (no 6-8) juga sudah saya transliterasikan dan sudah dipresentasikan dalam Seminar Internasional “Menggali Khazanah Kebudayaan Melayu di Sulawesi Tenggara”, yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Budaya dan Pariwisata Lembaga Penelitian Universitas Haluoleo, Kendari, Sultra, 23 Juli 2007. Makalah itu telah terbit dalam Jurnal Humaniora (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; lihat: http://jurnal-humaniora.ugm.ac.id/kontridetail.php?id=140) yang diterbitkan lagi (tanpa sepengetahuan saya) dalam buku Menyibak Kabut di Keraton Wolio (Bau-bau: Past, Present, and Future) (ed.: M. Yusran Darmawan; Bau-Bau: Respect, 2008: 73-96). Versi elektroniknya juga dapat dilihat dalam website Melayuonline. Versi elektronik seluruh surat Sultan Buton yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden itu dapat dilihat dalam website Malay Concordance Project (http://www.anu.edu.au/asianstudies/ahcen/proudfoot/ MCP/.
Dalam rangka menghimpun kembali khazanah budaya daerah, alangkah baiknya kedelapan surat itu ‘dikembalikan‘ ke Sultra. Membawa yang aslinya tentu tidak mungkin karena sudah dimiliki oleh Belanda. Tapi Pemprov. Sultra, atau Pemda Kabupaten Buton atau Kodya Bau-Bau, dapat memesan reproduksi kedelapan surat itu dari UB Leiden, dan kemudian menyimpannya di Museum Propinsi Sultra atau di Buton sendiri. Dan dalam jangka panjang tentu dokumen-dokumen lain mengenai Sultra yang ada di luar negeri, khususnya di Belanda, dapat dikembalikan ke Sulawesi Tenggara. Tapi semua itu hanya akan terwujud jika ada kemauan dari Pemda dan kalangan akademik di Sultra.
Sebagai perbandingan, Pemda Kabupaten Bima telah berupaya memperoleh duplikat dari 33 pucuk surat-surat Sultan Bima yang tersimpan di UB Leiden dan foto-foto klasik mengenai Kerajaan Bima yang tersimpan di Perpustakaan KITLV Leiden, Belanda. Beberapa staf dari Dinas Statistik Pemprov. Nusa Tenggara Barat sudah ke Belanda (Leiden) untuk menjajaki kemungkinan ini. Dari Leiden, saya juga mengusahakan pembuatan duplikat dokumen-dokumen sejarah Bima yang penting itu. Sebagian surat dan foto-foto itu sudah saya serahkan sendiri kepada Pemda Bima dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XI (Bima, NTB, Indonesia, 26-28 Juli 2007). Sekarang reproduksi surat-surat dan foto-foto itu dipajang di Museum Samparaja, Bima, yang tentunya menambah koleksi museum tersebut.
Menghimpun kembali berbagai warisan budaya dan sejarah daerah tentunya bermanfaat bagi pengayaan koleksi museum daerah yang pada gilirannya akan berdampak kepada dunia akademik, kebudayaan, dan pariwisata daerah setempat.
___________
Suryadi, Dosen dan peneliti pada Talen en Culturen van Indonesië, Faculteit Geesteswetenschappen, Universiteit Leiden, Belanda.