Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
09 februari 2007 04:44
Revitalisasi Budaya Melayu Dapat Dimulai Lewat Bahasa
Revitalisasi kebudayaan Melayu dapat dimulai secara konkret melalui bahasa. Hal itu dimungkinkan mengingat bahasa merupakan alat berkomunikasi, berekspresi, berpikir, dan juga menjadi alat yang menuntun orang dalam berperilaku.
"Revitalisasi melalui bahasa berarti menghidupkan kembali fungsi-fungsi bahasa Melayu sebagai alat berpikir yang merupakan sarana membentuk kepribadian bagi masyarakat Melayu," ujar Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono di sela seminar bertajuk "Pluralitas dan Identitas Melayu" di Senggarang, Tanjung Pinang, Jumat (30/7). Dia menjadi salah seorang pembicara dalam acara yang merupakan rangkaian dari Lokakarya Revitalisasi Seni Tradisi Melayu itu.
Interaksi sosial di antara masyarakat Melayu begitu dekat karena mereka dikenal sebagai orang laut yang begitu mudah berkomunikasi antara satu kelompok etnis dan kelompok etnis lainnya. Karena itu, interaksi masyarakat melalui bahasa lebih mudah dicapai.
Revitalisasi melalui bahasa juga berarti menghidupkan kembali tradisi-tradisi lisan yang pernah ada. Selama ini, kata Dendy memberi contoh, sampiran dalam pantun Melayu tidak memiliki makna. Padahal, sampiran itu tidak sekadar ritme, melainkan menggambarkan kedekatan dengan alam, dalam hal ini laut, lantaran letaknya di pesisir.
"Ini gambaran bahwa budaya lisan harus dihidupkan kembali. Hanya saja, bagaimana kita memolesnya agar dekat dengan kondisi saat ini," katanya.
Selain itu, yang perlu direvitalisasi adalah masyarakat Melayu itu sendiri. Harus ada proses pemulihan mentalitas dan kesegaran kehidupan masyarakat yang menjadi bumi tempat berkembangnya ekspresi budaya.
Seni di kawasan rantau ini adalah seni pesisir yang erat kaitannya dengan realitas kehidupan nelayan. Sekarang kehidupan nelayan semakin merosot. Laut tercemar dan negara tidak mampu melindungi teritorial lautnya. Kehidupan nelayan sedemikian susah sehingga kesenian sulit berkembang. (INE)