Close
 
Rabu, 10 Juni 2026   |   Khamis, 24 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 3.077
Hari ini : 39.582
Kemarin : 25.426
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

15 april 2009 04:17

Baju Kurung, Kebanggaan Etnis Melayu

Baju Kurung, Kebanggaan Etnis Melayu

Oleh: Abdul Malik

Satu dari sekian banyak unsur budaya yang menjadi kebanggaan setiap etnis ialah pakaian. Kebanggaan setiap puak itu bersifat subjektif. Skirt yang dipakai oleh kaum laki-laki Skotlandia dan kain sarung yang dikenakan lelaki Myanmar, misalnya, menjadi kebanggaan kedua bangsa itu sehingga dipandang itulah jenis pakaian yang terbaik. Pandangan orang yang berkebudayaan lain belum tentu sama dengan bangsa atau etnis yang memiliki pakaian itu. Yang pasti, pakaian bagi setiap bangsa/etnis memiliki nilai tertentu yang dijunjung tinggi. Oleh sebab itu, cara memakainya harus sesuai dengan ketentuan yang diadatkan.

Perihal pakaian orang Melayu disebutkan oleh Raja Ali Haji dalam karyanya Kitab Pengetahuan Bahasa, sebagai berikut:

“Adapun pakaian orang Melayu daripada dahulu, sehelai seluar dipakai di dalam, kemudian baharulah memakai kain, bugiskah atau sutera, labuhnya hingga lepas lutut kira-kira sepelempap. Kemudian, baharulah memakai ikat pinggang, terkadang di luar kain terkadang di dalam kain. Kemudian baharulah memakai baju, belah dada namanya atau baju kurung, kemudian disisipkan keris kepalanya keluar tiada meniarap, dan sapu tangan, bertanjak. Adapun seluarnya terkadang seluar ketat berkancing kakinya. Syahdan pada penglihatan mataku sangatlah tampan orang-orang Melayu memakai cara Melayu yang dahulu-dahulu, tiada bengis rupanya.”

Pakaian Melayu dapat dibedakan atas pakaian perempuan dan pakaian laki-laki. Keduanya tentulah berbeda potongan dan cara memakainya. Pakaian perempuan ada dua macam. Pertama, baju kurung yang terdiri atas kain, baju, dan selendang. Panjang atau kedalaman baju agak di atas lutut. Jenis baju kurung untuk dipakai sehari-hari di rumah kedalamannya hanya sepinggang atau sedikit di bawah pinggang. Baju kurung berlengan panjang, berbadan longgar, dan beragam bahannya: polos, berbunga-bunga, dan sebagainya, tetapi tak boleh tembus pandang. Warnanya disesuaikan dengan selera pemakai, tetapi perempuan yang sudah berumur tak boleh memakai baju yang warnanya mencolok. Selendang dipakai lepas di bahu, tak melingkar di leher.

Kedua, baju kebaya labuh yang terdiri atas baju, kain, dan selendang. Panjang lengan baju kira-kira dua jari dari pergelangan tangan supaya gelang yang dikenakan kelihatan. Lebar lengan baju kira-kira tiga jari dari permukaan lengan. Kedalaman baju sampai sedikit di atas betis. Bentuk baju agak longgar, tak boleh diraut (dikecilkan) di bagian yang dapat menunjukkan ukuran atau bentuk pinggang dan gaya pinggul. Bahannya disesuaikan dengan kemampuan dan keperluan. Kelengkapan lainnya terdiri atas selendang, aksesori, dan hiasan kepala yang disesuaikan menurut keperluan dan kemampuan. Biasa pula pakaian perempuan dilengkapi dengan cincin, gelang tangan, dan atau gelang kaki.

Kelengkapan pakaian perempuan yang lain adalah siput (sanggul) dan tudung. Siput tegang biasanya untuk pengantin, siput cekak untuk dipakai sehari-hari, dan siput lintang untuk yang berambut panjang, lebat, dan berjurai. Tudung dipakai untuk menutup kepala. Ada tudung yang agak terjurai dan terjuntai ke samping kiri dan kanan. Ada pula tudung yang sampai menutupi wajah (tudung lingkup) sehingga yang kelihatan hanyalah mata atau sekurang-kurangnya wajah seperti pemakaian tudung mantur pada kaum perempuan di Daik, Lingga.

Jika kaum perempuan memakai kain yang ada kepala kain, pemakaiannya harus sesuai dengan adat dan adab. Anak gadis letak kepala kainnya di depan, perempuan yang berumur kepala kainnya di samping kanan, perempuan yang bersuami kepala kainnya di belakang, dan janda kepala kainnya di samping kiri.

Untuk kaum lelaki ada tiga jenis pakaian. Pertama, baju gunting cina. Pakaian ini dikenakan sehari-hari di rumah, pakaian santai, atau pakaian biasa. Tak boleh digunakan untuk acara atau pertemuan resmi seperti di kantor dsb. Biasanya baju gunting cina juga dilengkapi dengan celana dan songkok atau ikat kepala.

Kedua, baju teluk belanga yang terdiri atas baju, celana, kain sampin, dan penutup kepala (tanjak, songkok, atau ikat kepala). Leher baju berkerah tegak dan berkancing (kancing tap, emas, permata, dsb. bergantung kepada kemampuan). Jumlah kancing lazimnya empat buah yang melambangkan `sahabat Nabi Muhammad saw.` atau lima buah yang melambangkan `rukun Islam`. Kocek (saku) baju tiga buah, sebuah yang lebih kecil ditempatkan di kiri atas dan dua buah lebih besar ditempatkan di kiri-kanan bawah baju. Lengan baju agak menutup pergelangan tangan.

Sampin dapat berupa kain songket, kain bertabur, dll. Pemasangannya beragam: ada yang seperti pemakaian kain biasa, ada yang dipunjut ke samping, ada pula yang ditarik selapis ke samping kiri pinggang. Kedalaman kain diatur sedemikian rupa. Orang tua-tua  atau orang patut-patut kedalamannya di bawah lutut, sedangkan orang muda-muda kedalamannya sedikit di atas lutut.

Ketiga, baju cekak musang yang terdiri atas baju, seluar, kain, dan penutup kepala. Leher baju tak berkerah, kancingnya hanya sebuah, dan bagian depan leher baju—supaya mudah dimasukkan dari atas melalui kepala—berbelah sepanjang kira-kira lima jari ke bawah. Lengan baju lebar dan baju pun dilengkapi kocek tiga buah seperti pada baju teluk belanga. Kain dapat dipakai sebagai sampin dan orang tua-tua boleh memakai kain labuh ke bawah sehingga tak perlu memakai celana panjang dengan baju dikeluarkan, khususnya untuk pertemuan yang tak resmi. Bahan pakaian laki-laki tak boleh berbunga-bunga. Pilihan warnanya boleh apa saja asal warna kuning khusus untuk raja-raja.

Pemakaian kain sampin diatur sebagai berikut. Bagi raja, letak kepala kainnya bebas, tetapi lazimnya sebelah kanan agak ke depan. Bagi kaum bangsawan, kepala kainnya sebelah belakang agak ke kanan. Bagi orang besar-besar dan patut-patut, kepala kainnya sebelah belakang agak ke kiri. Bagi putra mahkota, kepala kainnya sebelah kanan agak ke depan. Bagi masyarakat awam, kepala kainnya di belakang penuh.

Fungsi pakaian Melayu dinyatakan dengan ungkapan, “Pakaian menutup malu, pakaian menjemput budi, pakaian menjunjung adat, pakaian menolak bala, dan pakaian menjunjung bangsa.” Berhubung dengan itu, dikatakan, “Salah letak badan letak, salah pakai perut terburai.” Jika mengenakan pakaian sesuai dengan adat dan adabnya, berarti kita tampil dengan derajat yang dianalogikan sebagai “seri gunung” dan “seri pantai” yaitu keindahan dan kesempurnaan yang terlihat dari dekat (lahiriah, insaniah) dan dari jauh (batiniah, ilahiah). Itulah keindahan kelas satu yang bernilai tujuh bintang. Anda mau tahu kedahsyatan keindahan seperti itu? Dia digambarkan sebagai keindahan yang mampu menghidupkan kembali pasangan pecinta yang sudah mati!

Setakat ini di daerah kita, berpakaian Melayu sudah digalakkan kembali, terutama di kalangan pegawai pemerintah, khususnya pada Jumat atau Sabtu dan peringatan hari besar. Sayang, kebiasaan baik itu terkadang dirusak oleh sebagian orang. Pasal, ada yang memakainya dengan tak  berkain sampin  atau tak bersongkok pada kaum lelaki, seolah-olah mereka terpaksa memakainya. Perilaku seperti itu jelas tak mengindahkan nilai-nilai adat yang berlaku. Daripada berpakaian dengan cara tak senonoh itu, lebih baik  dipakai baju modan (Barat) saja karena banyak orang yang tak sedap hati melihatnya. Bahkan, si pemakai dapat dicap sebagai orang yang tak mengindahkan adat. Didakwa begitu, seharusnya kita malu, bukan? Dan, “Pantang memakai memandai-mandai.”     

__________

Abdul Malik 

Sumber: http://batampos.co.id
Kredit Foto: http://www.wisatamelayu.com


Dibaca : 6.337 kali.

Tuliskan komentar Anda !