Close
 
Rabu, 6 Mei 2026   |   Khamis, 19 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 266
Hari ini : 12.405
Kemarin : 45.452
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

12 februari 2007 06:30

Lukah, Seni Melayu yang Terancam

LUKAH adalah salah satu seni tradisi Melayu yang kini sudah sulit ditemukan keberadaannya di Provinsi Riau. Seni tradisi jenis permainan yang menggunakan alat penangkap ikan berupa bubu (terbuat dari bambu dan rotan sebagai penganyam) ini diiringi musik kompang, pembacaan pantun dan sedikit mantra. Kini lukah hampir tak pernah lagi menjadi sebuah seni pertunjukan.

"Terus terang, kita sangat prihatin dengan hilangnya seni tradisi lukah di Tanah Melayu ini. Padahal, kalau dikelola secara profesional dengan sentuhan art, lukah dapat jadi daya tarik wisata," kata Jumain (44), pencinta tradisi Melayu yang ditemui Kompas di sanggar seninya di Pulau Sekanak, Belakang Padang, Batam, Kamis (8/1).

Menurut Jumain, untuk di Riau Kepulauan (Batam, Tanjung Pinang, Natuna, Karimun dan Kepulauan Riau) seni tradisi lukah hanya ada di Belakang Padang, yang sejak dua tahun lalu dihidupkannya kembali bersama istri dan anaknya. Di Riau Daratan, dulunya lukah ada ditemukan di Rokan Hilir, Kampar dan Rengat. Luka merupakan seni tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di kalangan masyarakat Melayu yang hidupnya di kuala atau pinggir sungai.

Permainan seni tradisi lukah dapat dipertontonkan dengan mengumpulkan tiga sampai sembilan orang. Caranya, salah seorang menjadi inti dalam permainan, yaitu penabuh gendang atau kompang (sejenis rebana), pembaca pantun dan mantra. Pemain gendang boleh lebih dari satu, bisa sampai empat orang. Pemegang bubu pun boleh dua sampai enam karena jumlah bubu ada tiga (jenis laki-laki, perempuan, dan anak-anak).

Jumlah pantun dalam permainan luka ada sembilan bait, di antaranya: //Ilek lughah mudik lughah/jumpe bemban betali tali/bukan mudah perkare mudah/ tengok lukah pandai menari.//

Mana kala gendang ditabuh diiringi pantun dan pembacaan mantra, bubu pun bergoyang atas permintaan pemain inti. Semakin kuat tabuhan gendang, semakin kuat pula bubu digoyang sehingga dua orang yang memegangnya pun harus mengeluarkan tenaga sekuat-kuatnya agar bubu tidak lepas atau terjatuh ke lantai.

"Bubu akan semakin kuat goyangannya kalau yang menabuh gendang atau kompang semakin kuat dan kencang," ungkap Jumain.

Sekretaris Yayasan Khazanah Batam Samson Rambah Pasir mengakui, secara historis belum ada catatan waktu lukah mulai dikenal di masyarakat Melayu. "Tetapi berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, lukah sudah diwarisi secara turun-temurun di masyarakat Melayu, khususnya yang tinggal di pinggiran kuala atau anak sungai," ujarnya. (SMN)

 

Sumber :

Kompas
Dibaca : 2.215 kali.

Tuliskan komentar Anda !