Close
 
Rabu, 6 Mei 2026   |   Khamis, 19 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 232
Hari ini : 12.365
Kemarin : 45.452
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

21 februari 2007 05:54

Antara Cinta dan Benci

Oleh : Saifur Rohman

Sekonyong-konyong pada Senin pagi, di awal Agustus 2006, saya mendapatkan pengalaman yang seragam. Pertama, kebetulan saya menghadiri seminar nasional tentang pengajaran bahasa dan sastra di Asia Tenggara di Universitas Pakuan, Bogor.

Kedua, ketika saya mendengarkan Budi Darma sebagai pembicara, saya membuka harian Kompas yang memberitakan tentang komunike bersama tiga negara serumpun untuk melestarikan bahasa dan sastra Melayu (yang di dalamnya termasuk bahasa Indonesia).

Ketiga, kehadiran saya di Bogor itu bukanlah tanpa sebab, karena Pusat Bahasa mengundang saya untuk menjadi peserta lokakarya penulisan novel yang diikuti peserta dari Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Indonesia. Bengkel kerja ini diupayakan oleh Pusat Bahasa yang bekerja sama dengan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), berlangsung selama enam hari (1-6 Agustus 2006).

Tiga peristiwa itu tentu saja tidak bisa dikerat dalam satu tali simpulan. Hanya saja, bagi saya, peristiwa bahasa yang berderet-deret seperti ini jelas amat mencekam.

Di satu sisi, betapa bahasa Melayu pada satu masa merupakan pokok perbincangan yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Bahasa Melayu, dengan begitu, sebetulnya merupakan bahasa persatuan seluruh Nusantara.

Argumentasi ini didasarkan pada pendapat sejumlah pakar bahasa dan sastra Melayu, sebagian besar negara di Asia Tenggara sesungguhnya memanfaatkan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi (lingua franca) dan media penyampai pesan (karya sastra). Karya sastra Melayu, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, juga memiliki akar tradisi yang sama.

Tak syak lagi apabila kita mengikuti pendapat Levi’s Strauss bahwa struktur bahasa merupakan cermin dari struktur kebudayaan, maka sesungguhnya negara-negara di kawasan Nusantara ini memiliki latar belakang budaya yang tidak jauh berbeda. Mereka berpikir dengan pola berbahasa yang sama, dengan lingkaran semiotik yang sama, serta mengacu pada kondisi yang sama.

Pada sisi lain, kesadaran akan akar yang sama ini nyatanya bukan tanpa masalah. Pada saat-saat seperti waktu itu dan seperti sekarang ini muncul pertanyaan: ketika keberakaran itu diketahui sama dan oleh karena itu memiliki kebudayaan sama, mengapa masing-masing negara saat ini mengalami kondisi yang berbeda?

Pendapatan per kapita Indonesia yang rendah, instabilitas politik yang belum mencapai titik nadir, konflik vertikal dan horizontal, sampai pada ketidaktenangan hidup sebagai warga negara karena isu teror, hal itu berbanding terbalik dengan keadaan negara tetangga.

Jawaban atas pertanyaan itu sebetulnya bisa berbeda-beda, tetapi jika dipandang dari perspektif historis, maka perbedaan itu sebetulnya terletak pada perbedaan sikap masing-masing negara terhadap warisan bahasanya.

Sebuah paradoks?

Pada minggu yang sama dengan kegiatan penggiatan bahasa Melayu itu, di luar peristiwa bahasa yang saya alami, tiba-tiba saja saya terantuk berita bahwa sejumlah elemen masyarakat tengah turun di jalan, mengutuk Amerika Serikat yang menyokong zionis yang melancarkan genosida di dataran Timur Tengah. Kutukan tersebut terdengar sangat sarkastis, mulai dari seruan untuk menghentikan Amerika Serikat

Ketika jalanan di Jakarta dibanjiri slogan-slogan mengutuk negeri adidaya, tidak jauh dari situ keluarga muda yang mapan menikmati makanan siap saji di toko waralaba milik Amerika sambil menyeruput minuman bersoda. Barangkali juga keluarga muda itu merasa bersimpati terhadap apa yang dilakukan para pemuda di luaran. Mungkin pula dia bahkan berangan-angan turut serta menjejakkan kaki di aspal, mengikuti long march, dan turut berpeluh.

Ilustrasi itu hanya satu kemungkinan yang bisa diutarakan. Satu hal yang pasti, fragmen-fragmen nyata bukan saja penampakan sosial-budaya yang sudah jadi begitu saja (an sich), tetapi jelas berawal dari kerumunan fragmen sejarah (sebagai fakta yang sudah terjadi) dan angan-angan di benak masyarakat yang diwujudkan (sebagai fakta ideal yang belum terjadi).

Bahwa masing-masing negara serumpun ini memiliki sejarah yang sama, dibuktikan dengan hadirnya bahasa Melayu di tengah-tengah kita, ini harus kita akui. Akan tetapi, angan-angan yang berbeda dan bagaimana mereka mewujudkannya, ini jelas membuat kita berbeda.

Amerikanisme ini hanyalah satu kasus. Amerikanisme yang terbungkus dalam angin puyuh bernama globalisasi memang tidak mungkin dihindarkan. Hanya saja, amerikanisme bukanlah sesuatu yang semata-mata disikapi dengan afirmatif tanpa preserve apa pun.

Bagi warga tetangga, kita bisa membandingkan, amerikanisme disikapi sebagai obyek yang mau tak mau harus diselaraskan dengan pandangan hidup yang dianut. Produk agama sebagai warisan yang mengikat mereka dalam satuan sosial dan sistem menjadi kacamata paten dalam memandang Amerika Serikat.

Hal itu setidaknya terbukti dalam karya sastra mereka yang melihat bahwa kebudayaan Amerika tetap saja dianggap sebagai bagian dari muamalah (interaksi sosial yang tak terhindarkan), dan bukan dimasukkan ke dalam akidah (prinsip-prinsip sosial yang harus dianut).

Waralaba dari Amerika Serikat tidak ditolak, tetapi itu sejauh ia hanya menjual makanan yang mengenyangkan perut. Toko makanan lain tetap bersanding dengan agen kebugaran dan kebudayaan Amerika. Pemerintah tetap mengawasi untuk tetap menjaga harmonisasi nilai-nilai yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.

Pemerintah Indonesia bukannya tidak pernah melakukan hal itu. Selepas Presiden Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, semboyan yang dikobarkan tetap berdenging sampai sekarang: "Amerika kita seterika. Inggris kita linggis". Mengingat umur Indonesia yang belum genap 15 tahun ketika itu, tentu sikap ini merupakan manifestasi penghayatan atas warisan bahasa kebangsaan.

Gagasan itu kemudian dituangkan dalam frase bahasa Indonesia yang sangat menyentuh. Penciptaan istilah itu bisa dilihat berdiri di atas tradisi hikayat dan syair yang sudah ada. Kemudian, ini dipadukan dengan apa yang ingin diwujudkan di masa depan. Dari keadaan itu, wajar apabila tidak muncul ungkapan, "Amerika kita suka, Inggris sangat manis", tetapi "linggis" dan "setrika". Ini jelas bukan persoalan bahasa saja, tetapi telah menyangkut bentuk-bentuk gagasan yang menjadi landasan pembentukan frase.

Gerakan Cinta Bahasa Indonesia

Menteri Pendidikan Nasional menyikapi komunike tiga negara itu dengan mencanangkan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI). Gerakan ini bertujuan, selain menggalang solidaritas negara serumpun, yang utama adalah menciptakan strategi mempertahankan eksistensi bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat yang mulai berpaling kepada bahasa Inggris.

Akan tetapi, bahasa merupakan substratum di dalam sistem kebudayaan yang lebih besar. Bahasa adalah "isi" dari "bentuk" kebudayaan. Sebagai sebuah isi, bahasa tidak hanya merembes ke dalam gagasan, ide, pemikiran, tetapi juga membentuk perilaku.

Seruan mencintai bahasa Indonesia, dengan begitu, bisa dilihat sebagai gerakan untuk mempertahankan isi, tetapi melepaskan bentuknya. Gagasan-gagasan yang membentuk "sikap mencintai" tidak pernah tersentuh sebagai gerakan mendasar dalam eskalasi kampanye mencintai bahasa Indonesia.

Dalam arti konkret, gagasan masyarakat sampai sejauh ini tercermin dalam ambiguitas sikap; membenci Inggris, tetapi mengadopsi besar-besar aneka gagasannya. Pola kehidupan sehari-hari yang mengacu pada norma "tidak modern kalau bukan Amerika" jelas tidak bisa diimbangi hanya dengan merekayasa unsur-unsur kata yang berbunyi "mencintai bahasa Indonesia".

Aneka gerak kebudayaan membenci bahasa Indonesia, baru kita tahu, lebih luas dibandingkan dengan gerakan mencintai. Kampanye mencintai tanpa ada upaya strategis dalam mengubah cara pandang gagasan-gagasan pengguna bahasa jelas hanya akan terdengar bising di telinga.

 

Saifur Rohman (Sastrawan)

 

Sumber :

Kompas


Dibaca : 1.607 kali.

Tuliskan komentar Anda !