Close
 
Jumat, 29 Agustus 2014   |   Sabtu, 3 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 932
Hari ini : 9.261
Kemarin : 20.124
Minggu kemarin : 150.178
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.067.381
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

21 februari 2007 05:57

Makyong, Ditelan Pahit, Dibuang Sayang

Makyong, Ditelan Pahit, Dibuang Sayang

AlkisahPutri Nak Kandang, permaisuri Raja Peran Situn Negeri Seraja Kerajaan Dang Balai, sedang mengidam. Sang permaisuri mengidam ingin makan daging rusa putih bunting sulung, sulung ayah sulung bonda, sulung segenap dengan hutan carang riba.

Narasi yang mirip puisi di atas merupakan awal seni pertunjukan makyong seperti yang dikutip dari Chalid Kasim (69), seorang pemain makyong dari Mantang Arang.

Adegan selanjutnya, awang pengasuh memberi nasihat kepada raja bahwa daging rusa putih hanya dapat dicari oleh orang bernama Wak Perambun, penduduk di Kampung Pekan Bersara, di luar Kerajaan Dang Balai.

Awang pengasuh kemudian menjumpai Wak Perambun. Tugas Wak Perambun menjunjung titah raja, ia tak boleh pulang sebelum membawa daging rusa putih. Jika Wak Perambun gagal, hukuman pancung menanti dirinya.

Dikisahkan, Wak Perambun berangkat ke hutan rimba dibekali sebatang anak panah Mercu Dewa yang amat sakti. Jika anak panah dilepas dari busurnya ke udara, makanan lezat pun terhidang. Sebaliknya, bila anak panah dilepas menikam ke bumi, mata air pun terpancar, siap untuk diminum.

Tujuh hari tujuh malam berjalan di hutan, namun Wak Perambun tak menemukan daging rusa putih. Sebaliknya, Wak Perambun justru membawa seorang putri bernama Nang Nora, Putri Sindang Bulan yang ketujuh, yang berparas cantik kepada permaisuri raja.

Nang Nora berhasil dibawa Wak Perambun ke istana berkat bantuan anak naga Berma Sakti sebagai balas jasa karena Berma Sakti pernah diselamatkan oleh Wak Perambun dari burung Gorda yang hendak memangsanya.

Wak Perambun pun tak bisa membawa daging rusa putih sebagaimana titah raja karena daging rusa putih memang tidak ada di dunia ini.

Sepenggal cerita Wak Peran Embun (dibaca Wak Perambun) di atas merupakan ringkasan dari isi cerita teater makyong yang dipentaskan grup Sabda Puri, Mantang Arang, Kecamatan Bintan Timur, Kepulauan Riau. Cerita itu ditampilkan pada festival seni tradisi dalam rangkaian Revitalisasi Budaya Melayu di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman, Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau (31/7).

Pertunjukan makyong yang ditampilkan Hoesnizar Hood dan kawan-kawan selama hampir satu jam itu menarik perhatian penonton. Apalagi, seni pertunjukan tradisional seperti makyong sudah sangat jarang tampil di masyarakat Kepulauan Riau.

Pemain yang tampil pada malam itu sebanyak 17 orang. Perannya terdiri dari enam dayang dan lima tokoh utama, seperti awang pengasuh, inang pengasuh, putri, dan Wak Perambun (panglima). Dari jumlah itu enam orang memainkan musik, seperti gedombak (khusus mengiringi makyong), serunai, dan rebab (alat gesek).

Cerita Wak Perambun adalah salah satu dari 12 cerita makyong yang kisahnya masih bisa dilacak. Selain itu ada cerita tentang Raja Laksenarong, Anak Raja Gondang, dan Raja Bongsu Sakti Bijaklaksana.

"Teater makyong bukan hanya langka ditampilkan sebagai seni pertunjukan, tetapi keberadaannya terancam punah," ungkap Hoesnizar Hood, seniman Tanjung Pinang yang juga Ketua Dewan Kesenian Kepulauan Riau.

Mungkin atas dasar itulah teater makyong menjadi salah satu seni tradisi Melayu yang direkomendasikan untuk dihidupkan kembali dalam acara Revitalisasi Budaya Melayu pada 28 Juli sampai 1 Agustus 2004. Rekomendasi itu dilontarkan para pakar, budayawan, dan seniman yang tampil sebagai pembahas dalam seminar, seperti Prof Dr Rahayu Supanggah, Pudentia MPSS, N Riantiarno, Ben M Pasaribu, dan Hoesnizar Hood.

Alasan memilih makyong sebagai seni tradisi Melayu yang harus direvitalisasi, menurut Hoesnizar, tidak lain karena kondisinya yang semakin terancam punah. Di Kepulauan Riau atau Provinsi Riau, hanya tinggal dua grup teater makyong, tetapi hidupnya tertatih-tatih, antara ada dan tiada.

Pertama, grup teater makyong yang bertempat di Mantang Arang, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Kepulauan Riau, pimpinan Chalid Kasim. Dan kedua, teater makyong pimpinan Muhammad Atan Rahman di Keke, Kecamatan Kijang, Kepulauan Riau. Kedua grup tersebut punya semangat untuk mempertahankan seni tradisi makyong, tetapi lemah apresiasi.

"Bahkan, mereka juga lemah dalam membiayai hidupnya karena miskinnya kehidupan para seniman itu. Istilah almarhum Pak Atan, untuk menguasai satu gerak tari dalam makyong, tak cukup tiga beras goni," ujar Hoesnizar.

Selain itu, makyong merupakan seni tradisi Melayu yang termasuk asli dan berasal dari masyarakat lokal. Para seniman makyong itu sampai saat ini masih ada dan mereka bisa menuturkan tentang cerita serta bentuk pementasan makyong.

Dalam pandangan Said Parman, koreografer asal Tanjung Pinang, makyong merupakan seni tradisi local genious yang lahir dari kearifan masyarakat pesisir pantai atau pinggiran Tanah Melayu, Riau. Sebagai sebuah seni tradisi local genious, makyong amat tepat untuk dihidupkan kembali.

"Sangat disayangkan apabila para seniman makyong dan orang-orang yang mengetahui ceritanya masih ada, namun kita abaikan dan lupakan begitu saja," ungkap Said, yang juga Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Tanjung Pinang.

Seperti apa sejarah lahirnya teater makyong, penelitian Pudentia MPSS, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, menunjukkan, makyong pertama kali dikenal oleh orang Eropa di daerah Nara Yala Patani pada abad XVII. Kemudian, makyong menyebar ke daerah Kelantan, Malaysia. Dari Kelantan, makyong pun sampai ke Riau Kepulauan melalui Tanjung Kurau, Singapura.

Di Tanah Melayu Riau Kepulauan, penampilan makyong menggunakan topeng, di Malaysia tanpa topeng. Semula topeng yang digunakan terbuat dari daun pisang, kemudian berubah dari tanah liat, lalu diganti dengan kertas, dan terakhir dengan kayu. Sebelum pertunjukan dimulai, ada pembacaan mantra-mantra.

Para pemain makyong terdiri dari berbagai peran, yaitu awang dan inang pengasuh (sebagai pesuruh raja), mamak (rakyat), Pakyong (raja), dan Wak Perambun (panglima).

Pertunjukan makyong dahulu dilakukan selama dua sampai tiga malam. Para pemain duduk di lantai beralas tikar, sedangkan penonton di atas kursi berhadapan dengan pemain. Kini, pertunjukan makyong biasanya dilakukan setelah shalat Isa sampai larut malam.

Mengutip keterangan Atan Rahman, Pudentia menjelaskan, pertunjukan dimulai dengan upacara ritual yang dilakukan oleh bomoh (pembaca mantra). Setelah acara ritual selesai, bomoh membuka upacara "buka tanah", minta izin kepada leluhur. Kemudian, dilanjutkan dengan menyanyi lagu Menghadap Rebab diiringi tari ular sawah. Cerita makyong pun dimulai dengan lagu pembukaannya, betabik.

Kisah atau narasi cerita disampaikan lewat dialog para tokoh dan lagu-lagu dinyanyikan dengan iringan musik dan tarian. Pada akhir pertunjukan, bomoh mengakhirinya dengan ritual "tutup panggung".

Bagaimana merevitalisasi makyong? Untuk itu perlu ada sentuhan kreativitas tanpa harus mempertahankan pakem-pakem makyong. Misalnya, menyangkut durasi pertunjukan, kalau dahulu berjam-jam bahkan bermalam-malam, sekarang cukup dipentaskan selama 60 sampai 90 menit. Yang terpenting, bagaimana mengemas makyong menjadi sebuah pertunjukan seni yang enak dan menarik ditonton. Cerita-ceritanya yang cenderung berisi hikayat-hikayat pun perlu ada revisi dengan konteks kekinian agar ceritanya menjadi menarik.

Said Parman mengemukakan, dari segi gerak tari, lakon, musik, dan cerita sudah saatnya disentuh atau diapresiasi kembali agar sahibulhikayat dalam makyong tidak mati, melainkan hidup dan bernyawa kembali.

Hoesnizar berpendapat, agar makyong menjadi seni tradisi yang enak dan menarik ditonton, sudah sepatutnya pemerintah, seniman, dan masyarakat mau bersama-sama menghidupinya. Jika dua grup teater makyong di Kepulauan Riau tersebut harus direvitalisasi, itu menuntut banyak pengorbanan, mulai dari finansial hingga fasilitas peralatan.

Para seniman yang terlibat dalam makyong tak perlu pusing memikirkan makan keluarganya sehari-hari. Bagaimanapun, harus ada keberpihakan pemerintah setempat untuk menjadikan makyong sebagai seni tradisi yang dilestarikan.

"Bukankah dulunya seni tradisi makyong lahir dari masyarakat pinggiran pesisir pantai, kemudian menjadi hidup dan berkembang karena istana Kerajaan Melayu Penyengat menjadikan makyong sebagai hiburan di istana? Bukankah kejayaan budaya Melayu lahir dari istana, seperti lahirnya Raja Ali Haji," kata Hoesnizar.

Itulah seni tradisi makyong, ditelan pahit, dibuang sayang! (SMN)

 

Sumber : Kompas


Dibaca : 2.482 kali.

Tuliskan komentar Anda !