Sabtu, 15 Agustus 2026   |   Ahad, 1 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 6.933
Kemarin : 43.662
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

11 agustus 2009 07:25

Jagad `Sastra Agraris`

Sebuah Gagasan Awal
Jagad `Sastra Agraris`

Oleh Raudal Tanjung Banua

“Sastra agraris?” Boleh jadi pembaca akan mengerenyitkan kening. Istilah apa pula ini? Saya sendiri sempat berpikir demikian ketika panitia diskusi sebuah universitas di Jombang, Jawa Timur, mengajukan tema tersebut. Namun, saya mencoba untuk tidak terlalu tegang, sebab cukup jamak di tanah air “permainan kata” dijadikan tajuk atau konsep suatu acara kesenian, apakah pameran seni rupa, pertunjukan, diskusi, termasuk acara sastra. Sebagian dari penamaan itu benar-benar berhenti sebagai “permainan kata” atau tempelan, dan sebagian kecil ada juga yang berhasil mengelaborasi sejumlah gagasan.

Maka, setelah sedikit tenang saya mulai berpikir bahwa sebenarnya  “sastra agraris” tidak jauh berbeda dengan penamaan atau istilah lain yang sudah ada lebih awal semacam “sastra kepulauan”, “sastra bahari”, “sastra kampung-halaman” atau “sastra ujung pulau” yang kebetulan melekat sebagai nama sebuah event. “Sastra Kepulauan” misalnya, dipakai sebagai tajuk event sastra di Makassar; “Sastra Bahari” pernah dipakai dalam event Lomba Cipta Puisi Tahun Bahari oleh TNI-AL yang bermarkas di Tanjung Banoa, Bali; “Sastra Ujung Pulau”, pernah jadi agenda sastra beberapa daerah yang secara geografis dianggap berada di ujung pulau, seperti Lampung, Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur, dan entah mana lagi.

Persoalannya, apakah sebutan itu relevan? Tidakkah berpretensi supaya sebuah iven lebih tampak keren? Inilah yang perlu dibuktikan. Apalagi sebutan yang agak konseptual pun belum terlalu memberi kontribusi lebih jauh bagi sastra kita, kecuali perdebatan melingkar, misal “sastra sufi”, “lokalitas sastra” atau “sastra kembali ke akar”, apalagi yang parsial? 

Lalu, dari mana kita harus mulai? Apakah dari novel Adinda dan Saija karya Multatuli yang mengisahkan derita kaum tani di Lebak, Banten? Atau lebih jauh lagi, dari khazanah seni rakyat, seperti tembang, legenda atau dongeng, yang ditatah di lontar atau lontarak, kitab kuno, atau yang berakhir dalam ungkapan tanpa aksara? Apakah dari bait-bait “sanjak” Mohamad Yamin yang menulis cinta tanah air dari moleknya sawah-ladang, permainya kampung halaman dan gembala yang berlagu-dendang? Atau dari sistem dan usaha perkebunan yang dilakukan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, meski Pram dianggap lebih banyak memotivasi dalam soal maritim? Apakah dari “puisi baru” Sutan Takdir Alisyahbana yang menggelorakan semangat modernitas dengan tetap menyebut alam tani sebagai subjeknya, yakni “tasik yang tenang” —meski berhasrat meninggalkannya? Atau madah-madah alam Roestam Effendi, “lagu rindu” Amir Hamzah, atau justru puisi modern Chairil Anwar yang tidak sepenuhnya bisa lepas dari khazanah pantun-pantun agraris?

Mungkin bisa saja dari puisi Taufiq Ismail yang satu bukunya kebetulan berjudul Sajak Ladang Jagung? Atau sajak Matinya Seorang Petani Agam Wispi yang proletar dan Seonggok Jagung di Kamarnya Rendra yang subversif? Atau kita mesti memulainya dari sajak-sajak “alam” penyair Hartoyo Andangjaja —di antaranya yang terkenal Rakyat dan Perempuan-perempuan Perkasa— yang kaya idiom dan harga diri petani? Atau puisi-puisi berbasis dusun seperti Priangan Si Jelita-nya Ramadhan KH, Di Luar Kata Acep Zamzam Noor, sajak-sajak pedalaman Kalimantan Ajamuddin Tifani, atau sajak-sajak D Zawawi Imron yang “ndeso”? Cerpen dan novel Ahmad Tohari, Fadoli Zaini, Kuntowoijoyo, Wildan Yatim, Darman Moenir, BM Syamsuddin, Korrie Layun Rampan, juga sangat kental aroma tanah, lumpur, dan kehidupan agrarisnya? Dan masih banyak lagi karya dan nama yang dapat kita sebut untuk dijadikan pintu masuk ke wacana “sastra agraris” ini.

Tapi setidaknya, dari sejumlah karya dan nama sastrawan yang disebut di atas, kita sebenarnya sudah bisa mengurai kecenderungan teks sastra yang langsung atau tidak, memiliki muatan atau sekadar rujukan kepada apa yang hendak kita bicarakan. Secara teks, misalnya, kita bisa merujuk sisi intrinsiknya, mulai dari tema, latar, alur, tokoh dan gaya bahasa. Plus unsur ekstrinsik seperti ekspresi dan biografi sastrawannya yang antara lain menunjuk latar belakang sosial pengarangnya.

Nah, karya-karya yang disebut di atas, secara tematik jelas berbicara persoalan agraris dengan segala contens dan implikasinya. Ambil saja secara acak, bagaimana misalnya Saijah dan Adinda dalam ketajaman pena Multatuli digambarkan sebagai potret atau protetipe petani zaman Hindia Belanda. Lemah dan sengsara. Modal seekor kerbau, sejengkal tanah dan setitik harapan untuk hidup sehari-hari lebih baik, bagi mereka tidak lebih impian mahal. Dengan latar alam pertanian Lebak, Rangkasbitung dan Banten yang subur, tentu saja realitas itu menjadi ironi yang tak terkatakan. Terlebih ketika para petani digiring ke kebijakan tanam paksa yang membuat mereka tidak lagi berproduksi untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan bangsa penjajah. Di tengah situasi semacam itu, bintang harapan tentu tidak boleh pudar, dan ia tetap bersinar misalnya dari ungkapan sastrawi Multatuli yang optimistis dan mencerahkan, “Kita gembira bukan karena kita menuai padi; kita gembira karena menuai padi yang kita tanam, di tanah kita....” Apakah gambaran Multatuli hampir seabad yang lalu sudah berlalu, atau masih berlaku? Saya kira kita semua tahu, kehidupan petani masih saja menuai ironi, meski mungkin dalam bentuk dan kasus yang berbeda.

Begitu pula soal alur, tokoh dan gaya bahasa. Kita akan “mencium” aroma lumpur dan tanah yang kental dalam cerpen dan novel Darman Moenir, BM Syamsudin maupun Wildan Yatim. Mereka mengolah detail latar dan alur cerita mereka yang berpusar di tengah kehidupan masyarakat petani. Puisi Ramadhan KH tentang kemolekkan alam Priangan, juga berangkat dari lingkungan pertanian. Jelitanya alam Priangan tidak sekadar dipinjam sebagai latar eksotik, namun menghidupkannnya lewat aktivitas masyarakat petani: tentang kentang baru digali, musim tanam, pengairan dan tembang-tembang Cianjuran yang mengalun di tengah ketekunan mereka mengolah tanah, meski tidak sepenuhnya bahagia. Acep Zamzam Noor mentransformasikan aktivitas bertani, ke tingkatan transenden dalam sajaknya Cipasung. Orang yang mencangkul adalah orang yang sedang beribadah, tidak saja karena gerak mereka menyerupai orang sembahyang, namun esensi dari kerja itu sendiri, demikian setidaknya tafsiran Sapardi Djoko Damono. Hartojo Andangjaya yang banyak menulis sajak berlatar alam Minangkabau, melahirkan sejumlah karya masterpiece yang menggunakan idiom-idiom masyarakat tani. Lihat misalnya puisi Rakyat dan Perempuan-perempuan Perkasa. Masih banyak yang dapat kita ungkai dari karya pengarang yang berkorelasi dengan masyarakat atau alam tani.

Namun semua itu bukan bebas konflik. Dunia pedalaman agraris ternyata menyimpan problema dan persoalannya sendiri yang beberapa hal tersembunyi, baik karena keterbatasan akses, maupun pola penanganannya yang berlarat. Rusaknya jalan lintas Sumatra dan minimnya tenaga dokter di Sidempuan, misalnya, terhadirkan dengan sangat menyentuh dalam buku cerpen Wildan Yatim, Jalur-jalur Membenam. Kerusakan jalan utama di pedalaman Sumatra, membuat para petani kesulitan mengangkut hasil tani mereka, sehingga pasar yang sebetulnya bagus tidak dapat diakses dengan mudah. Harga karet, nilam dan gambir, menjadi begitu murah. “Pengorbanan” tokoh Srintil sebagai ronggeng, dalam novel Ahmad Tohari, sebenarnya bukan untuk martabat dan kesenangan keluarga belaka, melainkan memiliki rujukan kolektif, salah satunya mengupacarai  tanah pertanian Dukuh Paruk dengan ritual kesuburannya. Cerpen Cengkeh pun Berbunga di Natuna karya BM Syam menjadi representasi paling telak menggambarkan nasib petani cengkeh di negeri ini pasca dioperasikannya BPPC milik Tomy Soeharto. Jadilah cerpen ini satire yang pedih. Puncak dari ironi agraria itu terlihat dalam sajak Rendra yang menggambarkan keterasingan anak muda dengan alam asalnya, alam kampung halamannya, karena pendidikan mengarahkannya jadi “manusia siap pakai” ala perkotaan, dan ia hilang akal bertanya mau diapakan tumpukan “jagung di kamar”.

Demikianlah, persoalan khazanah karya sastra yang memiliki persinggungan dengan tema atau latar agraris, masih bisa kita ungkap lebih lanjut dengan memasuki teks-teks sejenis yang jumlahnya relatif banyak.

Pergeseran ke Modernitas

Hal yang tidak kalah menarik sehubungan dengan “sastra agraris” ini adalah pergeseran orientasi dan titik-tuju kultural. Teks-teks yang ada bukan saja menarik dari sisi struktural, melainkan juga dari sisi politik kebudayaan. Pergeseran orientasi dari dunia tradisional (yang sering diidentikkan dengan tradisi agraris), menuju ke modernitas (yang disimbolkan dengan kultur perkotaan), telah menjadi kaca benggala bagi pergulatan kebudayaan tanah air secara keseluruhan.

Pergeseran pertama,  merujuk pada hasrat Alisyahbana sebagai salah satu tokoh modernis Indonesia, yang menyatakan secara terbuka “Kami sudah meninggalkan tasik yang tenang.” Tasik yang tenang menjadi simbol dari alam dan pola pikir agraris. Ke manakah ia menuju? Tidak lain ke laut, ke tempat di mana ombak dan gelombang menjadi medan pertempuran baru, menjadi gelanggang pergulatan yang lebih terbuka dan menantang. Laut, dan ungkapan-ungkapan lain yang menyertainya di sini, tidak lain adalah simbolisasi modernitas. Modernitas, memang dunia yang gaduh, hiruk-pikuk, tetapi menolak orang untuk menjadi mapan. Seseorang dituntut harus terus bergulat merumuskan keinginan dan jati dirinya. Berbeda dengan alam dan pola pikir agraris yang terlalu nyaman tapi terkungkung dalam tempurung gunung-gunung atau pedalaman.

Rumusan hitam-putih atas nilai agraris (tradisional) versus budaya urban-kota (modernitas) ini, tidak saja kita temukan dalam selarik ungkapan STA di atas, namun juga dari pretensi modernitas yang dapat dengan mudah diendus dalam hampir keseluruhan karya Alisyahbana. Hal ini kemudian diikuti oleh gairah yang sama dari para sastrawan yang lain. Chairil Anwar misalnya, meskipun dalam soal estetik berseberangan jauh dengan Alisyahbana, dan dalam gagasan bahkan konforntatif, tapi sebenarnya Chairillah yang betul-betul mampu mengaplikasikan impian modernitas itu dalam karya-karya puisinya. Di tangan Chairil, modernitas bukan lagi soal-soal vulgar, seperti istilah dan latar sebuah karya, akan tetapi bagaimana esetetika memuat spirit atau semangat zaman (zeitgezet). Ia tidak menisbikan latar agraris, tidak pula ingin meninggalkan khazanah pantun-pantun lama dari kampung-halaman, tetapi mengaduk dan mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang baru, yang modern. Itulah sebabnya, kita dengan mudah menemukan sajak Chairil yang bersetting di pegunungan, kota kecil, atau dalam angkutan agraris-urban paling massal, yakni kereta api.

Afrizal Malna dalam bukunya Sesuatu Indonesia benar ketika mengatakan bahwa para penyair Indonesia dinyatakan atau tidak, sebenarnya sedang bergerak ke alam modernitasnya sendiri, ketika berhasrat meninggalkan kampung-halaman yang bertradisi agraris. Baik meninggalkan secara fisik, atau secara simbolik, tetap saja pengarang kita diharu kerinduan menulis sesuatu yang jauh, yang berjarak, yang marak—seperti kota nun di sana. Ini menghasilkan teks-teks rindu-dendam yang cukup akut. Tidak saja banyak yang gagal memunculkan konsep estetiknya, tetapi bahkan gagap merumuskan “ke-aku-an” dan identitasnya di tengah pergulatan modernitas.

Pergeseran kedua sehubungan dengan modernitas itu ialah bergesernya posisi kampung-halaman agraris ke kampung-kampung urban perkotaan. Ini terjadi, ketika secara harafiah, para sastrawan Indonesia seperti bersepakat untuk berkarya dan menetap di perkotaan —sebagai bagian dari elit intelektual— meskipun motivasi “kepindahan” mereka beragam, apakah mempertimbangkan aksesibilitas, infrastruktur kesenian, komunitas, dan sebagainya. Apa pun, urbanisasi semacam ini kemudian juga menghasilkan teks-teks urban, dengan benturan atau paradoks antara kultur asal dengan kultur baru. Perbenturan tak harus heroik atau “berdarah-darah”, namun bisa lewat paradoks dan parodi yang mengharu-biru. Ini misalnya kita temukan dalam teks-teks Hamsad Rangkuti yang banyak mengangkat soal-soal urban di lingkungan metropolitan; tokoh “ndeso” Sukab ciptaan Seno; cerpen-cerpen pinggiran Joni Ariadinata atau puisi-puisi Joko Pinurbo dengan kiasan dan parodi.

Fenomena urbanitas semacam ini bisa ditilik lewat ungkapan Subagio Sastrowardoyo yang menggelitik tentang “Penyair Indonesia sebagai Manusia Perbatasan.” Yakni, suatu situasi transisi antara ketradisionalan yang dikukuhi dengan modernitas atau mungkin pasca modernitas yang hendak direngkuh. Itu sebenarnya konsekwensi wajar dalam dinamika zaman, dan sastrawan yang merespon situasi ini tidak mesti menjadi “Malin Kundang” sebagaimana premis Goenawan Mohamad. Buktinya, orang seperti Zawawi Imron misalnya, tetap melahirkan teks-teks yang berbasis alam pedesaan, termasuk kehidupan masyarakat pantai/pesisir (ingat, perikanan juga bagian dari pertanian), meski telah menjadi commuter yang tangguh dalam beberapa puluh tahun kepenyairannya. Jika sudah begitu, sajak-sajak Mardi Luhung, cerpen BM Syam dan novel Pramoedya pun, yang kadung lekat dengan aroma laut dan pesisir, sebenarnya beraroma agraris juga!

Jadi, jagad “sastra agraris” ini bisa sangat luas, seluas cakupan agraris itu sendiri yang tidak hanya sawah-ladang, tapi juga pantai dan pesisir, bahkan kehidupan urban. Risikonya memang, ia bisa mengambang, meski di sisi lain sungguh sangat menantang.

__________

Raudal Tanjung Banua, Sastrawan Kelahiran Sumatra Barat, Kini Tinggal di Yogyakarta.

Sumber: http://www.riaupos.info
Kredit Foto: http://cheuw.com


Dibaca : 2.102 kali.

Tuliskan komentar Anda !