Close
 
Sabtu, 15 Agustus 2026   |   Ahad, 1 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 6.947
Kemarin : 43.662
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

12 agustus 2009 06:59

Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian II)

Eksotisme Melayu dalam Perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang
Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian II)
Sultan Serdang di atas singgasananya

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 19.00  (27 Juli 2009) kami bergegas menuju Hotel Tiara Medan untuk menghadiri Hari Keputraan Kesultanan Serdang atau ulang tahun Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II, yang ke-76. Dalam undangan yang kami terima, pada Hari Keputraan tersebut akan diselenggarakan Perhelatan Agung II dan Anugrah Adat Kesultanan Serdang kepada para tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa. Salah satu tokoh yang akan mendapatkan Anugrah Adat adalah Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, SH. MM.   

Mobil yang kami tumpangi dengan kecepatan meluncur membelah malam kota Medan yang saat itu diguyur hujan cukup deras. Tak berapa lama kemudian, mobil yang kami naiki memasuki area hotel. Sejak memasuki area hotel, kemegahan perayaan Hari Keputraan sangat terasa. Puluhan karangan bunga berukuran besar dari para pejabat pemerintah Provinsi Sumatra Utara, Bupati dan walikota se Sumatra Utara, perusahan-perusahaan, dan tokoh masyarakat yang berisi ucapan selamat dan doa kepada Tuanku Luckman berjejar rapi sejak dari pintu masuk hingga ruang lobi hotel.

Memasuki lobi hotel, kemegahan itu kian terasa. Umbul-umbul kebesaran Kesultanan Serdang yang didominasi warna kuning berpadu dengan lalu lalang orang-orang berpakaian khas Melayu Serdang. Bang MAM sebagai salah satu penerima Anugrah Adat juga memakai pakaian adat khas Kesultanan Serdang: berbaju Teluk Belanga warna hitam yang dipadu dengan tanjak dan selempang berwarna kuning, serta keris Melayu terselip di bagian depan. Melihat tampilan Bang MAM saat itu, nampaknya tak berlebihan jika sahabat-sahabatnya menyebutnya ”Sultan Melayu Virtual”. Hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Sumatra Utara, H. Syamsul Arifin, bupati dan walikota se Sumatra Utara, anggota DPRD tingkat I dan II, para pemangku adat, kerabat dan keluarga Kesultanan Serdang, perwakilan ormas se Sumatra Utara, dan masyarakat umum.

Memasuki ruang acara, lagi-lagi kami dibuat kagum. Walaupun dilaksanakan dalam ruang convention hotel, tapi suasana kesultanan agung sangat terasa. Di garis lurus jalan masuk ruangan, terdapat Singgasana Sultan yang dipadu dengan kain-kain berwarna kuning yang disulam dengan benang emas. Di bagian belakang singgasana, terdapat logo kesultanan bertuliskan Kesultanan Serdang. Jadilah, Convention Hall Hotel Tiara Medan berubah menjadi balairung Kesultanan Serdang.

Setelah para undangan menyantap hidangan yang disediakan, sekitar pukul 20.00 wib Sultan Serdang memasuki ruangan acara. Didahului oleh para pengawal yang memeragakan jurus-jurus silat, Tuanku Luckman dengan memakai pakaian kebesaran Kesultanan Serdang melangkah tegap menuju singgasana yang telah disediakan. Tatkala Tuanku Luckman telah duduk di Singgasananya, enam orang gadis cantik berpakaian adat membawakan tarian sakral ”Menjunjung Duli”. Tarian ini bercerita tentang ucapan terimakasih dan penghormatan rakyat kepada sultannya.     

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian Anugrah Adat oleh sultan. Ada empat kategori Anugrah Adat yang diberikan. Pertama,  anugrah Gelar Adat kategori Tokoh Utama. Anugrah diberikan kepada 13 tokoh, yaitu: Mahyudin Al Mudra, SH. MM., bergelar Datuk Cendekia Hikmatullah; H. Tengku Nurdin bergelar Pangeran Kesuma Negara selaku sesepuh Melayu Serdang; Dr. Syafii Ahmad, MPH bergelar Datuk Sri Wangsa Diraja selaku penasehat utama Kesultanan serdang; Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin bergelar Datuk Pendita Indera Wangsa selaku Pembina Olahraga Bangsa; Drs. Sakhyan Asmara, MSP bergelar Datuk Wangsa Diraja selaku Pembina Gerakan Pemuda Bangsa; Drs. Zainuddin Mars bergelar Datuk Indera Muda selaku Pembina Adat Budaya Serdang; Prof. Suwardi MS bergelar Datuk Sastra Negara selaku Pembina Sejarah Melayu; Tengku Yose Rizal, SE bergelar Pangeran Setia Pahlawan selaku Pendekar Kesultanan Serdang; OK Saidin, SH. M.Hum., bergelar Datuk Dharma Wangsa selaku Pembina Tanah Adat Serdang; Wan Iwan Dzulhami, SH. bergelar Datuk Bijaya Sura selaku Pembela Pemuda Melayu Serdang; Drs. Syarifuddin Rosa bergelar Datuk Wira Pahlawan selaku Pembela Tanah Adat Serdang; Drs. Syafwan Hadi Umry bergelar Datuk Amar Wangsa selaku Pembina Sastra Melayu Serdang; dan Drs. Erwin Nurdin Pelos bergelar Datuk Arya Bupala.

Kedua, Anugrah Adat untuk Orang Besar/Wazir/Kepala Luhak Kesultanan Negeri Serdang. Sesuai namanya, Anugrah Adat ini diberikan kepada para pimpinan wilayah yang berada dalam wilayah Kesultanan Serdang. Ada sembilanbelas orang yang mendapatkan Anugrah Adat dalam kategori ini. Uniknya, yang mendapatkan anugrah tidak hanya yang beretnis Melayu, tetapi juga etnis yang lain.

Ketiga, Anugrah Adat untuk para Kerabat/keluarga Kesultanan. Anugrah ini diberikan kepada sembilan belas orang kerabat dan anggota keluarga kesultanan yang dinilai telah berjasa dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Kesultanan Serdang. Dua di antara keluarga dan kerabat Kesultanan Serdang yang mendapat Anugrah Adat adalah Tengku Mira Rozanna Sinar bergelar Tengku Puan Putri Bongsu dan Tengku Ryo Riezqan bergelar Merdangga Diraja. 


Keluarga dan Kerabat Kesultanan Serdang Penerima Anugrah Adat

Keempat, Anugrah Adat untuk para Penghulu Adat Kesultanan Serdang. Sebagaimana namanya, kategori ini diberikan kepada para penghulu Kesultanan Serdang atas pengabdian mereka kepada masyarakat di desa masing-masing. Ada 27 Penghulu Kesultanan Serdang yang menerima Anugrah Adat Kesultanan Serdang.

Dalam surat ceri (surat keputusan) pengukuhan gelar adat yang diterima masing-masing para penerima Anugrah Adat disebutkan bahwa dibalik gelar adat yang diterima terdapat tanggungjawab yang harus dipikul oleh para penerimanya. Pemberian gelar tersebut merupakan bentuk apresiasi dan dorongan Kesultanan Serdang kepada para penerimanya. Oleh karena itu, jika dalam perjalanan waktu orang yang menerima gelar adat melanggar pantangan yang digariskan, seperti melakukan korupsi, maka gelar adat akan diambil kembali oleh kesultanan.

Setelah menabalkan gelar adat, Sultan Serdang menyampaikan Firman Syahifah Kesultanan Serdang. Dalam Firman Syahifahnya, Sultan Serdang menekankan pentingnya menghargai sejarah. Sejarah bukan untuk disakralkan dan dijadikan belenggu untuk melangkah, tetapi sebagai guru untuk membangun kehidupan masa depan yang lebih baik. Agar sejarah dapat menjadi guru yang mencerahkan, maka ia harus dibaca secara jujur dan cermat. Munculnya anggapan bahwa Kesultanan Serdang memihak dan menjadi kaki tangan Belanda, menurut Tuanku Luckman, merupakan salah satu contoh kesalahan dan ketidakcermatan dalam membaca sejarah.


Sultan Serdang Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II menyampaikan
Firman Syahifah Kesultanan Serdang 

Kesultanan Serdang, lanjut Tuanku Luckman, sejak didirikan 300 tahun yang lalu terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yaitu dengan ikut serta menggiatkan aktivitas pertanian, peternakan, perkebunan besar, pariwisata, seni budaya, kesehatan, dan pendidikan masyarakat.

Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Serdang juga berperan aktif dalam mengobarkan semangat nasionalisme untuk melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan. Bukti nyata dukungan Kesultanan Serdang terhadap NKRI adalah telegram yang dikirimkan Sultan Serdang kepada Presiden Soekarno pada bulan Desember 1945. Telegram tersebut berisi penegasan sikap bahwa Kesultanan Serdang berada di belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan akan membelanya sekuat tenaga.

Dalam sambutannya, Gubernur Sumatra Utara, Syamsul Arifin, mengatakan bahwa pemberian Gelar Adat oleh Kesultanan Serdang merupakan salah satu bentuk penghargaan dan pengakuan Kesultanan Serdang terhadap peran serta masyarakat dalam mengembangkan budaya yang ada di dalam wilayah Kesultanan Serdang pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, kurang tepat jika anugerah adat dianggap sebagai upaya menghidupkan feodalisme.


Penerima Anugrah Adat berfoto bersama Gubernur Sumatra Utara

Dalam konteks kekinian, di mana separatisme dan radikalisme semakin marak, pemberian gelar adat mempunyai nilai strategis. Separatisme dan radikalisme muncul karena kita telah tercerabut dari akar budaya kita. Oleh karena itu, pemberian gelar adat harus diposisikan sebagai upaya untuk melakukan revitalisasi budaya Melayu pada khususnya dan budaya bangsa pada umumnya, sehingga dapat bersinergi dengan kebudayaan global yang sesuai dengan budaya lokal, dan menjadi kontrol terhadap kebudayaan global yang merusak.   

Gubernur Sumatra Utara, ketika mengakhiri pidatonya, mengajak kepada semua masyarakat, khususnya para tokoh yang mendapatkan gelar adat pada malam itu, agar semakin giat melestarikan dan mengembangkan identitas dan jati diri Melayu. Jati diri Melayu terletak pada sikapnya yang inklusif, yaitu selalu terbuka dan menghargai keragaman. Jika jati diri ini dibangkitkan kembali, maka separatisme dan radikalisme tidak akan mempunyai ruang untuk tumbuh dan berkembang di negeri ini.

Menurut Antropolog Universitas Gadjah Mada yang juga konsultan MelayuOnline.com,  Dr. Aris Arif Mundayat, dalam konteks masa kini pemberian gelar adat harus dimaknai sebagai upaya untuk melakukan revitalisasi budaya lokal. Selain itu, juga harus dimaknai sebagai upaya untuk membangun jaringan sosial antar pemangku kepentingan sehingga budaya lokal mempunyai kekuatan untuk menghadapi budaya lain yang sifatnya merusak. Hanya dengan membangun jaringan yang kuat, maka budaya lokal akan tetep eskis dalam ranah global.


Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM)
berfoto bersama Sultan Serdang dan Permaisuri

Perayaan hari keputraan diakhiri dengan foto bersama dan atraksi seni oleh keluarga besar Kesultanan Serdang. Gerak gemulai Tengku Mira Sinar, Tengku Lili Sinar, Tengku Eliza, dan putri-putri Kesultanan Serdang lainnya yang berpadu dengan lengkingan biola yang dimainkan Tengku Ryo membuat para undangan enggan untuk beranjak pulang. Akhirnya, setelah berfoto bersama dengan Sultan Serdang, kami putuskan segera kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan segala keperluan untuk malakukan muhiba budaya esok hari. (Bersambung)

(Ahmad Salehudin/opn/2/08-2009)

Fotografer: Aam Ito Tistomo


Dibaca : 3.412 kali.

Tuliskan komentar Anda !