Rabu, 6 Mei 2026   |   Khamis, 19 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 434
Hari ini : 12.440
Kemarin : 45.452
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

25 februari 2007 04:20

Easter Festival di Cape Town

EGON Ewin-Kisch dari Cekoslowakia sebelum Perang Dunia II terkenal sebagai Des Razende Reporter, wartawan gesit meliputi negeri-negeri jauh. Dulu saya baca reportasenya dalam bahasa Jerman tentang Asia dengan terkagum-kagum dan coba meniru gayanya.

PADA usia 83 tahun tentu saya tidak bisa seperti Egon. Gerak makin lamban, pikiran ingatan makin surut, maka mengutip judul film Perfini arahan Usmar Ismail tahun 1992, Terimalah Laguku tentang kunjungan ke Afrika Selatan sebagai produk Der Malaische Reporter alias wartawan Melayu, dan Anda tafsirkan sendirilah makna Melayu, apakah inlander, pribumi, atau bumiputera.

Tanggal 21 Maret 2005 via Singapura dan Johannesburg, setelah mengalami penerbangan 15 jam dan transit 6 jam, saya tiba di Cape Town bersama Prof Dr Azyumardi Azra dan Prof Dr Nabilah Lubis dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, kemudian rombongan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dipimpin Deputi Menteri Udin Saifuddin, Kepala Promosi Turisme untuk Timur Tengah dan Afrika Nasir Masjhur, tiga wartawan, ditambah 39 orang anggota rombongan kesenian Sulawesi Selatan dipimpin Gubernur Sulsel Amin Syam beserta istri yang menyusul datang belakangan.

Tatkala rombongan tersebut disambut di bandar udara Cape Town oleh Konsul Jenderal RI Ny Salfrida N Ramadhan KH yang baru satu tahun bertugas di sana, oleh suaminya, Ramadhan KH, pengarang biografi tenar yang menulis tentang Presiden Soeharto, Ali Sadikin, Soemitro, Kemal Idris, Alex Kawilarang, juga primadona sandiwara Dardanalla Miss Dja-van voor de oorlog-dapat dimengerti keadaan fisik saya parah, akibat kurang tidur semalam suntuk, jet lag, dan seluruh tubuh menurut ungkapan Minang: rangkik-rangkik. Sudah jauh Egon Ewin-Kisch sebagai role-model. Yang tinggal cuma wartawan gaek dan "Melayu".

Tapi saya senang bisa bertemu lagi dengan sobat saya, Ramadhan KH, yang dipanggil dengan nama akrab: Atun.

Apa pasal ke Afrika Selatan? Untuk menghadiri Easter Festival atau Pesta Paska di kampung Macassar, Faure, Cape Town, untuk penandatanganan persepakatan kerja sama Sister Provinces Western Cape dan Sulsel, untuk sales mission dan promosi turisme, untuk menghadiri seminar mengenai: Perbudakan dan Orang Buangan Politik, di Slave Lodge, Iziko Museum.

Easter bagi kaum Malay Cape tidak ada hubungan dengan kepercayaan Kristen dan perayaan Jumat Agung. Secara tradisi dan histori mereka merayakan Easter sejak Syeikh Yusuf (1626-1699), ulama besar asal Goa, Sulsel, yang ditangkap oleh Kompeni Belanda (VOC) di Banten, dibuang ke Ceylon (Sri Lanka), dipindahkan ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan menyebarkan syiar Islam di sana sampai beliau wafat tahun 1699.

Jasa Dubes Nasier

Cape Town atau Kaapstad didirikan oleh Jan van Ribeek tahun 1652 untuk tempat singgah kapal-kapal layar Kompeni Belanda (VOC) yang menuju Jawa dan kepulauan Maluku mencari rempah-rempah, dan kemudian balik ke Negeri Belanda.

Di kalangan penduduk Kaapstad selain para pegawai VOC, kaum Hugenot dari Perancis sebagai kolonis yang bercocok tanam terdapat pula orang-orang Indonesia yang sebagai budak dan orang buangan diangkut oleh Belanda ke sana.

Mereka dinamakan Slameiers, yakni istilah dari gabungan kata "Islam" dan "Maleiers" (Melayu). VOC melarang orang-orang itu melaksanakan agama Islam secara terbuka. Namun, sebagai orang Kristen merayakan Paskah, orang Islam di bawah pimpinan Syeikh Yusuf secara diam-diam pada hari yang sama mengadakan pertemuan mendengarkan ajaran agama dari Syeikh Yusuf yang terkenal sebagai seorang sufi (mysticus).

Penduduk Afrika Selatan kini 38 juta jiwa, dengan 29 juta kulit hitam, 5 juta kulit putih, 3 juta kulit berwarna (coloured). Cape Malay berjumlah kira-kira satu juta orang, terdiri dari keturunan orang Indonesia, Malaysia, India, Sri Lanka. Dalam hal ini sebutan Malay bersifat generik.

Meskipun artinya Melayu, tapi orang keturunan India dan Banglades yang beragama Islam juga tergolong Cape Malay. Kebanyakan keturunan Melayu di Afsel bekerja sebagai perajin, pembuat mebel, tukang batu dan konstruksi, tukang jahit, pemusik tanjidor di zaman Kompeni, dan kini sudah ada yang menjadi pengacara, dokter, dosen universitas, masuk golongan intelektual dan kelas menengah.

Politisi Malay Cape pun berperan, ada dua orang menjadi anggota parlemen (MP) dan Gubernur provinsi Western Cape-disebut Premier-sekarang adalah Ebrahim Rasool, keturunan Bugis.

Orang yang berjasa dan berusaha menyatukan kembali hubungan Cape Malay dengan Indonesia adalah Duta Besar RI di Afrika Selatan Abdul Nasier, asal Madura. Pada tahun 1994 setelah rezim apartheid bubar dan Presiden Nelson Mandela memimpin Republik Afrika Selatan, Pemerintah RI membuka hubungan diplomatik dengan Pratoria.

Nasier pernah menjabat Konsul Jenderal di Cape Town. Balik ke Jakarta, ditanya oleh Menlu Hassan Wirajuda di pos mana ditempatkan sebagai Dubes, Nasier menjawab: Afrika Selatan. Dia ingin kembali untuk melaksanakan misinya, yaitu mempertautkan hubungan budaya yang putus berabad-abad lamanya antara kaum Cape Malay keturunan dan murid-murid Syeikh Yusuf dengan negeri leluhur mereka Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan.

Saya berkunjung ke Afrika Selatan untuk pertama kali. Sebelum saya, pada tahun 1993 waktu apartheid masih berlaku penyair Taufiq Ismail mengunjungi negeri itu dan menuliskan kesan-kesan perjalanannya. Juga tak lupa menggubah syair tentang Syeikh Yusuf.

Negara Muslim terbesar

Ketika berlangsung seminar tentang Slavery and Political Exile (Sheikh Yusuf) tanggal 23 Maret 2005 di Museum Iziko, saya berjumpa dengan beberapa tokoh Cape Malay yang disebut oleh Taufiq Ismail dalam kesan perjalanannya tahun 1993.

Di antaranya Ismail Petersen (81), dari pihak ayah keturunan Sumatera/Jawa, dari pihak ibu ada darah Belanda di badannya, dikenal sebagai bapak pelaut Indonesia di Afrika Selatan. Wajahnya mirip orang bule, pakai peci hitam selalu, fasih berbahasa Indonesia yang dipelajarinya dari pergaulan dengan pelaut-pelaut Indonesia yang singgah ke Indonesia bersama istrinya, Siti Hawa, beberapa tahun lalu.

Seorang lagi yang telah mengunjungi Indonesia, mampir di Padang dan Bukittinggi, ialah Al-Haj Nur El Erefaan Rakiep (82), yang di masa muda bekerja sebagai tukang jahit (tailor). Ia tidak bisa bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggris dan Afrikaans, dan mengerti bahasa Belanda. Putranya, Muttaqin (40), pernah kuliah di Madinah dan lancar bicara Indonesia karena banyak bergaul dengan pelaut-pelaut Indonesia yang singgah di pelabuhan Cape Town.

Easter Festival dirayakan di kompleks Masjid Cape Town hari Jumat 25 Maret 2005. Di sana didirikan tenda-tenda tempat warga Cape Malay menjajakan berbagai masakan dan makanan, barang pakaian, dan sebagainya. Ibu-ibu dari Konsulat Jenderal juga punya stan nasi goreng resep Indonesia dengan harga 13 rand satu piring, sama dengan Rp 25.000, yang ternyata sangat digemari oleh penduduk sehingga habis semuanya.

Pada shalat Jumat di masjid yang baru selesai direnovasi dengan bantuan dana Pemerintah Indonesia, Premier Western Cape Ebrahim Rasool hadir berpakaian gamis Arab dan berpeci Indonesia.

Sebelum dimulai sembahyang, dia berpidato dalam bahasa Inggris dengan terlebih dulu menyampaikan dalam bahasa Indonesia "selamat siang, selamat datang". Dia berkata, kita telah menutup lingkaran perjalanan Syeikh Yusuf. Kearifan atau wisdom adalah milik terakhir kaum Muslimin. Apakah kearifan dan apakah kehancuran kita sendiri? Kita memerlukan sehat dan rahmat, healing serta blessing.

Ia bicara tentang globalisasi Islam. Ia mengunjuk kepada perkembangan Islam di Arab Saudi dan Timur Tengah, tapi berbarengan dia mintakan perhatian terhadap perkembangan Islam di peripheri seperti di Asia Selatan dan Tenggara.

Janganlah melupakan bahwa Indonesia adalah the largest Muslim nation, negeri berpenduduk Islam terbesar, kata Ebrahim Rasool. Sesudah itu maju ke mimbar Prof Azyumardi Azra, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, yang berbicara dalam bahasa Inggris menguraikan pentingnya peranan ilmu (science) dalam Islam.

Barulah menyusul khotbah dalam bahasa Arab singkat tidak bertele-tele oleh imam Adam. Selesai shalat, seluruh jemaah dengan nyaring menyampaikan Shalawatan, membuat suasana masjid terasa sangat intens religiusitasnya. Saya mendapat kesan unik dari shalat Jumat pada Easter Festival di Cape Town.

 

Sumber :

Kompas
Dibaca : 1.699 kali.

Tuliskan komentar Anda !