Close
 
Senin, 17 Agustus 2026   |   Tsulasa', 3 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 59
Hari ini : 4.885
Kemarin : 23.793
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

13 oktober 2009 06:24

Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian VI)

Istana Maimoon: Cerita Kejayaan yang Hampir Terlupakan
Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian VI)

Pagi itu (29 Juli 2009) sekitar pukul 09.30 WIB, tim BKPBM yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH. MM., Dr. Aris Arif Mundayat, Yuhastina Sinaro, SST.Par., Ahmad Salehudin, MA., dan Aam Ito Tistomo ditemani Bang Harris (driver) kembali memasuki kompleks Istana Maimoon.

Jika pada hari sebelumnya kami menikmati keindahan Istana Maimoon dalam balutan sinar mentari senja, maka pagi ini kami menyaksikan istana yang didirikan oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah ini dalam terpaan kemilau mentari pagi. Sinar mentari pagi yang sangat cerah menjadikan Istana Maimoon yang berbalut warna kuning keemasan terlihat sangat anggun. Rumput menghijau di halaman istana dan beberapa pohon palm yang menjulang tinggi menghadirkan suasana sejuk dan teduh. Sungguh sebuah pemandangan di pagi hari yang sangat luar biasa indahnya.

Setelah turun dari mobil, kami segera menuju pintu masuk Istana Maimoon. Konon, Istana yang dibangun di atas tanah seluas 2.772 m2 ini di arsiteki oleh seorang tentara KNIL, Kapten Th. van Erp, dan dikerjakan oleh pemborong Italia. Biaya pembangun istana yang sebagian material bangunannya didatangkan dari Eropa ini menghabiskan biaya sebanyak Fl. 100.000 (atau setara 1 juta gulden Belanda). Menurut prasasti berupa batu marmer yang terletak di bagian bawah tiang penyangga pintu masuk, peletakan batu pertama dilaksanakan tanggal 26 Agustus 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alam Shah, dan mulai ditempati tanggal 18 Mei 1891. Jadi, usia istana ini sekarang sudah lebih dari satu abad.

Sejak 1946, istana ini ditempati oleh para ahli waris Kesultanan Deli. hal ini nampaknya berhubungan erat dengan peristiwa revolusi sosial yang terjadi di Sumatra Utara. Pada revolusi sosial 1946 tersebut, semua istana-istana Melayu di Sumatra Utara dijarah dan dibakar massa, termasuk kompleks tempat tinggal Sultan Deli yang berada di dekat Masjid Raya Al Mahsun yang jaraknya hanya 200 meter dari Istana Maimoon. Istana Maimoon, merupakan satu-satunya istana yang selamat karena pada saat terjadinya revolusi dijaga oleh tentara Gurkha Inggris yang dikirim oleh Sultan Perak. Oleh karena tidak lagi mempunyai tempat tinggal, para ahli waris tersebut mendiami Istana Maimoon.

Kemudian kami segera bergegas manaiki undakan untuk menuju ruang depan istana. Begitu melewati undakan yang jumlahnya sekitar 13 tersebut, kami berada di berada depan Istana Maimoon. Dikiri kanan beranda terdapat meja kursi untuk tempat istirahat jika pengunjung kelelahan. Lantai istana terbuat dari batu mamer yang didatangkan dari Eropa. “Ini semuanya masih asli,” kata salah seorang guide kepada kami.

Kami terus beranjak menuju ruang depan istana. Setelah mengisi buku tamu, kami melangkah menuju ruang pertemuan istana (balairung). Balairung pada zaman dahulu merupakan tempat sultan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kesultanan, mulai dari pelaksanaan upacara adat sampai menerima tamu-tamu penting. Saat ini, menurut salah seorang guide, balairung hanya digunakan dua kali dalam setahun, yaitu pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Memasuki balairung Istana Maimoon yang memiliki luas 412 m­­2 ini, hati kami bergetar dan mata kami tercekat melihat keindahannya. Arsitektur istana dengan lengkung yang sangat tinggi, dan ragam hias yang sangat artistik menjadikan ruangan ini kelihatan sangat berwibawa. Keberwibawaan tersebut semakin terasa kuat dengan keberadaan beberapa peninggalan Kesultanan Deli, seperti singgasana kesultanan, lampu kristal besar bergaya Eropa yang tergantung di depan singgasana, foto-foto sultan dan keluarganya yang ditempel pada dinding ruangan, perabot rumah tangga Belanda kuno, berbagai jenis duplikat senjata, dan beberapa perlengkapan upacara adat. 

Tentu saja, yang menjadi pusat keindahan ruangan Balairung ini adalah keberadaan singgsana kesultanan Deli. Singgasana yang sangat artistik tersebut berbalut warna keagungan Melayu, warna kuning. Mencoba berlama-lama melihat singgasana ini, hayalan kami seolah-olah terseret arus menuju masa seratus tahun silam, yaitu ketika Kesultanan Deli mengalami masa kejayaan dalam bidang ekonomi akibat harga tembakau yang menjadi komoditas utama perkebunan Deli menjadi favorit di daratan Eropa. Karena pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat itulah, Deli saat itu menjadi wilayah tujuan orang-orang dari wilayah jajahan Belanda lainnya untuk mencari kerja.

Melalui sebuah gang beratap lengkungan lunas perahu terbalik yang berhiaskan floralistis dan geometris, kami sampai pada sebuah ruangan yang terletak di bagian belakang istana. Ruangan ini pada zaman dahulu digunakan sebagai ruang makan keluarga sultan. Makanan sultan dan keluarganya biasanya dipersiapkan dan dilayani oleh para dayang yang menempati 2 kamar kecil di sebelah kiri dan kanan di antara Balairung dan ruang makan. Dua kamar kecil ini, saat ini digunakan untuk berjualan cendera hati. Di ruang belakang ini, terdapat dua buah kursi pemberian ratu Belanda. Selain itu, juga terdapat pakaian adat Deli yang disewakan kepada siapapun yang ingin berfoto menggunakan pakaian adat.


Kursi pemberian Ratu Belanda

Dari ruang belakang ini, kami bergerak menuju sayap kanan dan terus berkeliling sampai di sayap kiri. Jika pada bagian depan dan ruang utama Istana Maimoon lantainya terbuat dari batu marmer, maka pada sayap kanan dan kiri terbuat dari kayu Beli atau Besi. Menerut guide yang menemani kami, kayu yang digunakan sebagai lantai sayap istana diambil dari hutan Kalimantan. 

Meriam Puntung

Di sisi kanan, di depan Istana berdiri sebuah bangunan atau rumah Batak Karo. Dalam bangunan tersebut ditempatkan sebuah meriam yang sudah puntung (putus). Sebagian masyarakat masyarakat percaya bahwa meriam puntung tersebut merupakan penjelmaan salah seorang pangeran Deli yang ingin menyelamatkan adiknya, putri hijau, dari penculikan tentara Aceh.

Alkisah, di Kerajaan Timur Raya, hiduplah seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Hijau. Disebut Putri Hijau karena seluruh tubuhnya memancarkan warna hijau. Sang Putri memiliki dua orang saudara laki-laki yang sakti mandraguna, yaitu Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Pada suatu hari, Raja Aceh dating hendak meminang Putri Hijau. Pinangan Raja Aceh tersebut ditolak oleh kedua saudaranya. Mengetahui pinangannya ditolak, Raja Aceh menjadi murka, lalu menyerang Kerajaan Timur Raya.

Terjadilah perang antara Kesultanan Aceh dan Kerajaan Timur Raya. Konon, saat perang berlangsung, salah satu saudara Putri Hijau, yaitu Mambang Yazid menjelma menjadi ular naga dan Mambang Khayali menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Karena terus-menerus menembaki pasukan Aceh, meriam itu pecah menjadi tiga keping. Pecahan-pecahan meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, Desa Sukanalu (Tanah Karo), dan Deli Tua (Deli Serdang).

Begitu populernya legenda Putri Hijau di atas, hingga Istana Maimoon seringkali disebut Istana Putri Hijau. Sedangkan meriam puntung oleh sebagian masyarakat sekitar dianggap keramat. Ketika memasuki Rumah Adat Karo yang di dalamnya terdapat meriam puntung tersebut, di sekitar meriam tersebut kami melihat ada bunga sesajian.  

Belajar Sejarah di Istana Maimoon, Mungkinkah?

Ternyata, Meriam Puntung merupakan warisan budaya terakhir yang dapat kami nikmati di Istana Maimoon. Satu pertanyaan yang segera terlintas begitu kami selesai melihat semua bagian-bagian Istana Maimoon, yaitu apakah sebuah kesultanan yang sangat termasyur, pernah mengalami kejayaan yang sangat luar biasa secara ekonomi sehingga orang-orang dari berbagai penjuru dunia berdong-bondong menuju Deli, dan mampu membangun gedung-gedung megah tidak mempunyai benda-benda kerajaan sebagaimana dapat kita jumpai ketika berkunjung ke Istana Solo dan Yogyakarta? Sebagaimana telah kami sampaikan di bagian awal tulisan ini, di Istana Maimoon kita hanya akan menyaksikan singgasana sultan, peralatan rumah tangga, beberapa duplikat senjata, dan beberapa peralatan upacara.

Menurut Ketua Umum Yayasan Sultan Ma‘moen Al Rasyid (YASMAR), Tengku Harris Abdullah Sinar, ketika kami konfirmasi tentang sedikitnya koleksi barang-barang kesultanan, jumlah barang-barang kesultanan sebenarnya sangat banyak. Hanya saja, barang-barang tersebut secara eksklusif oleh para ahli waris kesultanan.

Lebih lanjut, Tengku Harris mengatakan bahwa sejak revolsui sosial 1946, masing-masing keluarga kesultanan berupaya untuk eksis sendiri-sendiri. Revolusi Sosial 1946, telah menyebabkan kesultanan kehilangan kekuatannya, bukan hanya untuk mensejahterakan rakyatnya, tetapi juga untuk menghidupi  keluarga kesultanan. Posisi kesultanan yang terjepit menyebabkan setiap anggota keluarga kesultanan terjepit. Akhirnya mereka berupaya untuk hidup dengan cara masing-masing. Hal lain yang diakibatkan oleh Revolusi Sosial 1946 adalah pewarisan benda-benda kesultanan kepada keluarga-keluarga, bukan kepada Istana. “Saya berharap setiap anggota keluarga kesultanan suatu saat nanti bersedia menjadikan barang-barang kesultanan menjadi miliki istana. Dengan cara demikian, barang tersebut dapat terpantau keberadaannya, dan dapat didayagunakan untuk pengembangan pariwisata,” ungkap Tengku Harris.

Minimnya koleksi kesultanan ternyata diperparah oleh sikap petugas (baca: guide) yang kurang komunikatif terhadap pengunjung. Salah seorang siswi Aliyah Muallimin UNIVA yang berkunjung bersamaan dengan kami mengatakan bahwa yang bertugas tidak terlalu memahami seluk beluk Istana Maimoon. “Masnya itu kelihatan bingung ketika saya bertanya sejarah dan koleksi apa saja yang dimiliki oleh Istana Maimoon,” ungkap si gadis berjilbab yang mengaku bernama Ira dan Widia sambil menunjuk orang yang dimaksud.

Kesan kami terhadap beberapa guide hampir sama dengan pendapat kedua siswi tersebut. Kami merasakan mereka kurang komunikatif terhadap pengunjung. Selain itu, kami merasa mereka juga kurang begitu mengerti seluk beluk sejarah Istana Maimoon. Bahkan kami juga melihat, para guide itu tampak acuh terhadap pengunjung yang baru masuk. Jika sikap ini tidak segera dirubah, bukan mustahil masyarakat enggan untuk datang ke istana ini.

Jarum jam menunjuk angka 11.15 WIB ketika kami memutuskan untuk meninggalkan Istana Maimoon. Menurut jadwal, setelah dari Istana Mimoon ini, kami akan mengunjungi situs sejarah Kesultanan Serdang di Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Jika pada hari-hari sebelumnya setiap kunjungan bersama tim lengkap, maka kunjungan ke situs Kesultanan Serdang tanpa Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Melayu karena harus menemui Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II. (Bersambung)

(Ahmad Salehudin/opn/6/08-2009)

Fotografer: Aam Ito Tistomo
Dibaca : 2.677 kali.

Tuliskan komentar Anda !